Undang Para 'Crazy Rich Indonesia', Presiden Jokowi Tawarkan Bangun Hotel di NTB

Para pengusaha yang datang ke Istana antara lain Dato' Sri Tahir (bos grup Mayapada), Chairul Tanjung (bos grup Trans Corp), Haryadi Sukamdani (bos grup Sahid), Budi Hartono (bos grup Djarum), Hary Tanoesoedibjo (bos grup MNC)
Yodie Hardiyan
Yodie Hardiyan - Bisnis.com 25 Juni 2019  |  17:23 WIB
Undang Para 'Crazy Rich Indonesia', Presiden Jokowi Tawarkan Bangun Hotel di NTB
Presiden Joko Widodo . - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Joko Widodo mengundang sejumlah pengusaha nasional ke Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (25/6/2019) untuk membahas pembangunan hotel di sejumlah tempat wisata seperti Mandalika (Nusa Tenggara Barat/NTB), Danau Toba (Sumatra Utara) hingga Borobudur (Jawa Tengah).

Berdasarkan pantauan Bisnis.com, para pengusaha yang datang ke Istana antara lain Dato' Sri Tahir (bos grup Mayapada), Chairul Tanjung (bos grup Trans Corp), Haryadi Sukamdani (bos grup Sahid), Budi Hartono (bos grup Djarum), Hary Tanoesoedibjo (bos grup MNC) dan sebagainya.

Di samping itu, hadir pula Direktur Utama PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero) atau Indonesia Tourism Development Center (ITDC) Abdulbar Mansoer.

"Beliau [Presiden] minta supaya para pengusaha hotel ini bisa membuka hotel di 10 lokasi [pariwisata] baru, khususnya NTB. Ya karena NTB sudah persiapkan infrastrukturnya, airport akan diperbesar begitu, jadi Bapak Presiden minta partisipasi para pengusaha hotel untuk segera buka hotel supaya ramai," kata Tahir ditemui di Istana Kepresidenan.

Seperti diketahui, pemerintah menargetkan dapat menggelar kompetisi balap motor dunia, MotoGP di Mandalika, Lombok, NTB pada 2021. Tahir mengatakan dirinya mengingatkan Direktur Utama ITDC bahwa pergelaran balapan seperti itu mengalami kerugian di seluruh dunia dan menjadi beban pemerintah.

Dengan kata lain, pemerintah perlu mengembangkan bisnis lain selain penyelenggaraan MotoGP, salah satunya adalah bisnis pariwisata. Di samping hotel, bisnis lain yang perlu dikembangkan adalah MICE atau Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran).

"Saya pikir bukan GP-nya yang menarik tapi adalah tourism [pariwisata] yang menarik. Jadi jangan hanya [Moto]GP. GP itu kan setahun sekali. Satu hari, sisanya 360 hari ngapain? Apa yang kita lakukan? Kalau bikin hotel secara ekonomi kan bisa create market. Dari 20 hotel dibangun ada market sendiri. Dan hotel itu sendiri menarik turis," kata Tahir.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
chairul tanjung, djarum, budi hartono

Editor : Stefanus Arief Setiaji

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup