Proyek Infrastruktur Jepang di Asia Tenggara Lampaui China

Berdasarkan laporan terbaru dari Fitch Solutions, Jepang memimpin di peringkat satu terkait jumlah pengerjaan proyek infrastruktur di Asia Tenggara jika dibandingkan dengan China.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 24 Juni 2019  |  09:52 WIB

Bisnis, JAKARTA -- Berdasarkan laporan terbaru dari Fitch Solutions, Jepang memimpin di peringkat satu terkait jumlah pengerjaan proyek infrastruktur di Asia Tenggara jika dibandingkan dengan China.

Proyek infrastruktur yang didukung oleh Jepang di enam ekonomi terbesar Asean, seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand dan Vietnam nilainya mencapai sebesar US$367 miliar.

Adapun, nilai proyek infrastruktur yang bekerjasama dengan pihak China nilainya mencapai US$255 miliar.

Angka-angka tersebut menggarisbawahi maraknya kebutuhan untuk pembangunan infrastruktur di Asia Tenggara, serta dominasi Jepang atas China, meskipun Presiden Xi Jinping mendorong untuk membelanjakan kereta api dan pelabuhan melalui program Belt and Road Initiative.

Dilansir melalui Bloomberg, Asian Development Bank memperkirakan bahwa ekonomi Asia Tenggara akan membutuhkan US$210 miliar per tahun dalam investasi infrastruktur dari 2016 hingga 2030, hanya untuk menjaga momentum dalam pertumbuhan ekonomi.

Angka-angka Fitch terbaru, hanya menghitung proyek yang tertunda atau proyek-proyek yang masih dalam tahap perencanaan, studi kelayakan, tender dan saat ini sedang dibangun.

"Data Fitch pada Februari 2018 menempatkan investasi Jepang pada US$230 miliar dan China pada US$155 miliar," seperti dikutip melalui Bloomberg, Minggu (23/6).

Vietnam sejauh ini merupakan fokus terbesar untuk keterlibatan infrastruktur Jepang, dengan proyek-proyek yang tertunda senilai US$209 miliar atau lebih dari setengah total nilai proyek infastruktur Jepang.

Itu termasuk pengadaan kereta api berkecepatan tinggi senilai US$58,7 miliar yang nantinya akan menghubungkan Hanoi dan Kota Ho Chi Minh di Vietnam.

Untuk keterlibatan China, Indonesia adalah pelanggan utama, dengan nilai total proyek sebesar US$93 miliar atau 36% dari keseluruhan pembangunan.

Proyek paling spektakuler yang sedang dikerjakan di Indonesia adalah pembangkit listrik tenaga air Sungai Kayan senilai US$17,8 miliar.

Sementara itu, untuk seluruh kawasan Asia Tenggara dan berdasarkan sejumlah proyek, Jepang tetap mendominasi , meskipun dengan margin yang lebih kecil.

Setidaknya ada 240 perusahaan infrastruktur mendapat dukungan Jepang, dibandingkan dengan 210 perusahaan yang didukung China di semua 10 ekonomi Asia Tenggara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
infrastruktur

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup