AMRO: Perang Dagang Tak Berdampak Bagi Indonesia

Kendati demikian, AMRO menilai Indonesia bisa memanfaatkan kondisi perang dagang ini dengan mengundang industri manufaktur dari China yang tengah menyasar Vietnam, Thailand, Malaysia dan Kamboja sebagai tujuan relokasinya.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 18 Juni 2019  |  15:31 WIB
AMRO: Perang Dagang Tak Berdampak Bagi Indonesia
Kapal kargo bersandar di dermaga Pelabuhan Makassar New Port (MNP), Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (25/3/2019). - Bisnis/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA – Lembaga riset regional, Asean +3 Macroeconomic Research Office (AMRO), mengatakan Indonesia tidak terlalu terdampak dengan perang dagang sehingga pertumbuhan ekonomi domestik masih bisa tumbuh sebesar 5,1 persen tahun ini.

Kepala Ekonom AMRO Hoe Ee Khor mengatakan Indonesia tidak terlalu terdampak perang dagang seperti negara lain di kawasan.

“Pasalnya, Indonesia tidak termasuk dalam rantai pasok global industri manufaktur, khususnya elektronik,” kata Khor, Selasa (18/06/2019).

Kendati demikian, AMRO menilai Indonesia bisa memanfaatkan kondisi perang dagang ini dengan mengundang industri manufaktur dari China yang tengah menyasar Vietnam, Thailand, Malaysia dan Kamboja sebagai tujuan relokasinya.

Sementara itu, risiko proteksionisme perdagangan akan kuat dirasakan oleh negara-negara  Asean +3 yang memiliki kerja sama ekspor langsung dengan China dalam nilai yang besar.

Negara-negara ini juga dapat terkena dampak tidak langsung melalui jalur rantai nilai global ke luar kawasan. Khor memperkirakan dampaknya akan cukup signifikan dalam jangka pendek

Dampak dari perang dagang lebih terasa bagi negara-negara dengan perekonomian yang lebih terbuka dan bergantung pada perdagangan global seperti Hong Kong, Korea, Malaysia, dan Singapura, serta Vietnam.

Jika dampak perang dagang ini cukup signifikan, AMRO memperkirakan pertumbuhan ekonomi kawasan Asean +3 sebanyak 40 basis poin (bps) dari 5,3% pada 2018 menjadi 4,9% pada 2019 dan 2020.

Dampak proteksionisme perdagangan ke kawasan akan ditransmisikan melalui jalur ekspor dan rantai pasok global serta diperkuat oleh efek rambatan ke pelemahan ekonomi global.

Bahkan, AMRO memperkirakan AS dan China akan mengenakan tarif sebesar 25% untuk semua barang impor antar kedua negara.

“AS dan China akan sama-sama dirugikan, terlebih jika tambahan kebijakan non-tarif juga diterapkan,” kata Khor.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Pertumbuhan Ekonomi, perang dagang AS vs China

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top