HK Metals Naikkan Produksi Aluminium Hilir

PT HK Metals Utama Tbk. (HKMU) akan meningkatkan kontribusi bisnis manufaktur hingga 50 persen terhadap total penjualan perseroan pada tahun ini.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 17 Juni 2019  |  20:05 WIB
HK Metals Naikkan Produksi Aluminium Hilir
Direktur Utama PT HK Metals Utama Tbk Ngasidjo Achmad (kedua kanan), berbincang dengan Direktur Fautry Hasfiandy (dari kiri), Komisaris Utama Muhammad Kuncoro, dan Direktur Yudhi Sudarmanto di sela-sela paparan publik kinerja perusahaan di Jakarta, Senin (17/6/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – PT HK Metals Utama Tbk. (HKMU) akan meningkatkan kontribusi bisnis manufaktur hingga 50 persen terhadap total penjualan perseroan pada tahun ini.

Pada kuartal I/2019 usaha manufaktur perseroan menopang 40 persen dari total pendapatan, sedangkan pada kuartal I/2018 bisnis manufaktur hanya menopang 24 persen dari total pendapatan.

Direktur Keuangan HKMU Pratama Girindra W. mengatakan perseroan lebih dapat mengontrol margin daripada bisnis perdagangan perseroan. Sementara itu, volume produksi perseroan melesat 232,05 persen menjadi 3.059 metrik ton (MT) pada kuartal I/2019 dari periode yang sama tahun lalu sejumlah 921 MT.

“Proyeksi ke depannya akan jauh lebih signifikan lagi [pertumbuhan produksi] karena mesin-masin [baru] itu sudah mulai produksi secara maksimal di kuartal II/2019,” paparnya, Senin (17/6/2019).

Girindra menambahkan pada tahun ini kapasitas terpasang perseroan akan menjadi 12.000 MT/tahun dengan penambahan empat mesin ekstrusi baru. Adapun, imbuhnya, utilisasi pabrik pada tahun ini diproyeksikan akan mencapai 70—75 persen atau mencapai 9.000 MT—10.000 MT.

Di samping itu, Direktur Operasional HKMU Yudhi Sudarmanto mengutarakan tingkat utilisasi pabrik baru akan mencapai 90 persen pada tahun depan. “Ketika install mesin baru, itu masih penyesuaian. Labour juga masih baru,” ucapnya.

Adapun, menurutnya, pada tahun ini produksi aluminium perseroan akan meningkat sekitar 25 persen--30 persen secara tahunan. Pasalnya, Yudhi menyampaikan proyeksi tersebut berdasarkan beberapa potensi permintaan aluminium dalam negeri yang cukup besar.

Yudhi memaparkan bahan baku konstruksi perumahan kini bergeser dari menggunakan kayu menjadi aluminium maupun baja ringan. Pada tahun ini, sambungnya, pertumbuhan pembangunan perumahan akan meningkatkan performa perseroan. 

Walaupun performa pembangunan properti pada tahun ini cenderung menurun, lanjutnya, hal tersebut tidak akan berdampak langsung terhadap produksi perseroan. Pasalnya, Yudhi berujar perseroan bekerja sama dengan peritel melainkan pengembang dalam memasarkan peralatan bangunan aluminium.

Selain perumahan, ujarnya, perseroan menilai pertumbuhan permintaan energi terbarukan—khususnya energi surya—akan menggenjot produksi komponen panel surya perseroan pada tahun ini. Menurutnya, untuk memproduksi panel surya dengan kapasitas 320 watt dibutuhkan 3Kg aluminium.

Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan dapat membangun Pembangkit Listrik tenaga Surya (PLTS) dengan total kapasitas mencapai 6.500 megawatt. Dengan kata lain, akan ada permintaan aluminium sejumlah 20.312,5 MT aluminium untuk memenuhi target tersebut.

Melihat potensi tersebut, Yudhi menyampaikan ada kemungkinan perseroan akan mengimpor ingot aluminium dari neger jiran untuk memenuhi permintaan dalam negeri. Yudhi mengatakan komposisi billet aluminium yang perseroan gunakan merupakan campuran dari ingot aluminum sebesar 40 persen dan skrap aluminium sejumlah 60 persen.

“Tapi kami optimalkan dulu sampai sejauh mana Inalum bisa support kami. Kami akan mengedukasi masyarakat supaya pakai aluminium [dalam membangun rumah],” ucapnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
aluminium

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup