Jadi Senjata Perang Dagang, Harga Tanah Jarang China Melambung

Harga tanah jarang China diperkirakan terus naik ke titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir setelah sebuah laporan dari media pemerintah menyatakan jenis mineral tersebut bisa menjadi 'senjata' dalam perang dagang dengan pihak Washington.
Lucky Leonard
Lucky Leonard - Bisnis.com 06 Juni 2019  |  17:07 WIB
Jadi Senjata Perang Dagang, Harga Tanah Jarang China Melambung
Tambang mineral - Antara

Bisnis.com, BEIJING - Harga tanah jarang China diperkirakan terus naik ke titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir setelah sebuah laporan dari media pemerintah menyatakan jenis mineral tersebut bisa menjadi 'senjata' dalam perang dagang dengan pihak Washington.

Tanah jarang mencakup 17 jenis mineral yang digunakan dalam berbagai produk mulai dari laser, magnet untuk barang-barang elektronik, hingga peralatan militer. Saat ini, China memasok sekitar 80 persen tanah jarang yang diimpor Amerika Serikat dari 2014 hingga 2017.

"Tanah jarang yang erat kaitannya dengan magnet adalah bahan ideal untuk persenjataan dan industrinya sangat sensitif terhadap harga," tutur Managing Director Adamas Intelligence Ryan Castilloux seperti dikutip Reuters, Kamis (6/5/2019).

Enam produsen tanah jarang China saat ini memiliki pangsa pasar terbesar di pasar spot. Keenam produsen utama tersebut adalah China Minmetals Rare Earth Co, Chinalco Rare Earth & Metals Co, Guangdong Rising Nonferrous, China Northern Rare Earth Group, China Southern Rare Earth Group, dan Xiamen Tungsten.

Asian Metal menyatakan harga disporium yang digunakan dalam magnet, lampu bertegangan tinggi, dan batang kendali nuklir saat ini berada pada level 2.025 yuan atau setara US$292,98 per kg atau yang tertinggi sejak Juni 2015. Nilai tersebut naik hampir 14 persen dari 20 Mei 2019 ketika Presiden China Xi Jinping mengunjungi pabrik pengolahan tanah jarang yang memicu spekulasi penggunaan mineral tersebut sebagai senjata strategis dalam perang dagang.

Selain disporium, harga neodimium yang digunakan dalam magnet untuk motor dan turbin juga telah naik ke level US$63,25 per kg atau yang tertinggi sejak Juli tahun lalu. Nilai tersebut naik sekitar 30 persen sejak 20 Mei 2019.

Sejak 20 Mei 2019 pun harga gadolinium oksida yang digunakan untuk peralatan medis dan sel bahan bakar telah naik 12,6 persen menjadi 192.500 yuan per ton atau yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Analis Argonaut Securities Helen Lau mengatakan harga tanah jarang China mulai naik setelah negara tersebut mengumumkan larangan impor tanah jarang dari Myanmar. Sebelumnya, Securities Times melaporkan bea cukai di wilayah Barat Daya Provinsi Yunnan akan melarang impor tanah jarang dari Myanmar mulai 15 Mei 2019.

"Beberapa hari kemudian Anda bisa melihat pergerakan besar dalam harga," katanya.

Menurutnya, apabila China menggunakan tanah jarangnya dalam perang dagang, maka AS tidak akan memiliki pasokan yang cukup karena perlu waktu untuk membangun kapasitas pemrosesan mereka sendiri yang saat ini masih nol.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mineral, tanah jarang, perang dagang AS vs China

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top