Pasokan Berlimpah, Kenaikan Harga Volatile Food di Jateng Bisa Ditekan

Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah mengungkapkan pasokan volatile food seperti cabai di Jawa Tengah berlimpah lantaran hasil panen di beberapa daerah mengalami keberhasilan.
Yudi Supriyanto
Yudi Supriyanto - Bisnis.com 29 Mei 2019  |  13:00 WIB
Pasokan Berlimpah, Kenaikan Harga Volatile Food di Jateng Bisa Ditekan
Ilustrasi - Pedagang menunjukkan cabe kriting di Pasar Tradisional Mandonga, Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (2/5/2019). - ANTARA/Jojon

Bisnis.com, SEMARANG - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah mengungkapkan pasokan volatile food seperti cabai di Jawa Tengah berlimpah lantaran hasil panen di beberapa daerah mengalami keberhasilan, dan membuat tekanan untuk menaikkan harga berkurang.

 

Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Jateng, Soekowardojo mengungkapkan, keberhasilan panen yang terjadi untuk komoditas cabai tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi juga di luar Pulau Jawa.

 

Kondisi tersebut membuat permintaan komoditas cabai dari luar Pulau Jawa berkurang, dan diyakini membuat pasokan yang ada menjadi berlimpah.

 

“Berdasarkan pengataman kami dan wawancara dengan pedagang di lapangan, bahwa pasokan di lapangan itu cukup melimpah. Dengan demikian, tekanan untuk kenaikan harga berkurang,” kata Soekowardojo kepada Bisnis, belum lama ini.

 

Dia menjelaskan, daerah-daerah seperti Sulawesi Utara merupakan daerah yang defisit untuk komoditas seperti cabai mendatangkan komoditas cabai dari daerah seperti Gorontalo dan Jawa Timur.

 

Akan tetapi, Sulut tidak perlu mengambil pasokan dari Jatim jika pasokan di Gorontalo, Palu, dan sekitarnya sudah cukup.  Kondisi tersebut, paparnya membuat pasokan-pasokan cabai dari Jawa Timur, yakni Blitar masuk ke Jawa Tengah, dan membuat pasokan cabai menjadi berlimpah.

 

Saat ini, tambahnya, pasokan komoditas cabai yang ada di Jawa Tengah berasal dari daerah-daerah seperti Temanggung dan Rembang, Jawa tengah, serta Blitar, Jawa Timur.

 

“Tapi, karena tidak ada permintaan antarpulau, cabai dari Blitar juga masuk ke tempat kita, ke Jateng. Itu yang menyebabkan pasokan relatif terjaga. Memang ada kenaikan, tapi pasokan relatif terjaga,” katanya.

 

Berdasarkan data minggu keempat bulan ini, dia meyakini inflasi Jawa Tengah pada Mei 2019 berada pada kisaran 0,4%. Bank Indonesia Jawa Tengah, ujarnya melakukan pengamatan terhadap 46 barang.

 

Dari hasil pengamatan tersebut, beberapa barang mengalami kenaikan. Akan tetapi, beberapa barang komoditas lainnya mengalami penurunan. Tidak hanya itu, beberapa komoditas yang sempat naik juga harganya sudah terkoreksi seperti bawang merah dan bawang putih.

 

“Dugaan kami [inflasi Mei] berada di bawah 0,4%, karena kami mengukur 46 barang. Tapi, bisa saja yang di luar 46 barang bisa menjadi kenaikan,” katanya.

 

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Tengah memastikan akan terus menjaga stabilitas harga-harga komoditas menjelang Lebaran.

 

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengungkapkan, beberapa langkah akan dilakukan oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah guna membuat harga-harga komoditas menjadi stabil mendekati lebaran tahun ini.

 

Dia menjelaskan, salah satu langkah yang akan dilakukan guna membuat harga-harga stabil menjelang lebaran adalah dengan terus menjamin distribusi pasokan bahan makanan lancar, sehingga tersedia di pasar. Dengan adanya pasokan komoditas-komoditas tersebut, dia melanjutkan harga-harga di pasaran akan stabil.

 

Selain itu, tambahnya, pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) untuk mengecek harga-harga dan pasokan dengan berkeliling guna menjaga stabilitas harga-harga komoditas di Jawa Tengah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jateng, volatile food

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top