Budi Karya Sumadi: Mudik Kini Semakin Berwarna

Mudik sekarang ini bakal makin lancar dan asyik. Lewat Garut dan Tasik, asyik juga karena berkelok-kelok dengan pemandangan yang bagus. Mau lewat jalur tol melalui Cirebon, boleh juga. Jadi, ada banyak pilihan. Dengan demikian, mudik kali ini semakin berwarna.
Budi Karya Sumadi: Mudik Kini Semakin Berwarna Rinaldi M Azka/Hendra Wibawa/Maria Y Benyamin | 27 Mei 2019 12:14 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Budi Karya Sumadi, Menteri Perhubungan, mungkin adalah salah satu menteri yang paling sibuk dalam beberapa hari terakhir.

Kepadanya, Presiden Joko Widodo juga menaruh harap untuk mengawal mudik Lebaran kali ini agar berjalan dengan lancar, aman, dan nyaman, seperti kesuksesan tahun sebelumnya.

Ditemui Bisnis di kantornya pada Jumat (22/5/2019), dia bercerita dengan semangat perihal apa-apa saja yang sudah dilakukan oleh Kementerian Perhubungan untuk menyukseskan musim mudik tahun ini.

Raut wajahnya sedikit terlihat lelah. Akan tetapi, dia tetap bersemangat bercerita. Segudang agenda tengah menanti pria yang pernah menjadi Dirut Angkasa Pura II itu. Pada Sabtu (25/5), dia meninjau kesiapan mudik Lebaran di atas kapal Pelni KM Doro Londa di Pelabuhan Batuampar, Batam.

Berlanjut pada Minggu (26/5), Budi memimpin upacara apel dalam rangka gelar pasukan angkutan Lebaran 2019, sekaligus meninjau lokasi persiapan mudik di Stasiun Gambir Jakarta Pusat. “Begitu seterusnya agenda saya sampai H-1 Lebaran...” ujarnya. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana persiapan pelaksanaan Lebaran 2019?

Ya, mudik kali ini saya memang dapat amanah dari Pak Presiden bersama menteri-menteri yang lain dalam Ratas . Jadi, jalankan mudik kali ini dengan baik, jadikan lebih baik dari tahun lalu. Tahun lalu kan kita lumayan lancar, mendapat amanah yang besar.

Bagi Kemenhub, ini baik karena pada saat mudik sebenarnya lalu lintas itu dalam kapasitas penuh semua, jadi kami diuji apakah kinerja masing-masing matra berjalan dengan baik. Kami mencoba menjalankan amanah sebagai koordinator, yang paling penting dan mendasar adalah mudik ini dikoordinasikan dengan baik bersama semua stakeholders, sehingga mereka terlibat mau take care apa yang menjadi pekerjaan-pekerjaannya itu.

Sejak 2 bulan lalu, kami melakukan rapat-rapat bersama di tingkat direktur, dirjen, terakhir menteri, polisi, Kementerian PU, ESDM, BUMN, Kementerian Kesehatan, TNI, BMKG, Basarnas. Kami rapatkan supaya implementasi di lapangan terjadi. Dari awal dipikirkan apa peran masing-masing K/L.

Dalam keseharian nanti, mudik itu untuk darat dikoordinasikan oleh Kakorlantas, kami kasih mandat, satu mandat yang lugas saya sampaikan pada saat membangun mudik dengan one way.

Ada interupsi dari asosiasi bus minta jatah dari timur ke barat, silakan berhubungan dengan Kakorlantas, dia yang memberikan window time. Koordinasi ada di polisi, lebih memudahkan koordinasinya, tetapi kita tetap koordinasi.

Kalau dilihat dari matra-matra ini, darat menjadi yang paling ramai. Kalau udara dikendalikan oleh orang atau maskapai, kereta api maskapai, tetapi darat ini individu yang memiliki kebebasan untuk berkendara. Oleh karenanya, kebebasan ini kami atur dalam satu skema agar dapat diselesaikan dengan baik.

Salah satunya, kami mengambil keputusan menggunakan one way. Sebelumnya ada dua keputusan menggunakan one way atau ganjil genap. Ganjil genap agak berisiko. Akhirnya pilih one way. One way pun jauh , dari km 29 sampai km 263, jadi 230 kilometer, kira-kira 2,5 jam itu. Kami harapkan memang ini menyerap lalu lintas yang ada.

Pertanyaannya, bagaimana mereka yang balik selain lewat Pantura. Jalan tol ini bukan segalanya, kita juga akan kampanyekan lewat selatan Jawa. Itu sama menariknya, bahkan banyak tempat-tempat wisata segala macam di sana, kami anjurkan.

Sebenarnya darat praktis tidak ada masalah. Hanya memang ke barat, di dua lokasi di Merak, H-3 biasanya ada penumpukan penumpang sampai 3 kali lipat sehingga harus kami pecah supaya tidak overcrowded, yang satu kita pecah dengan dynamic pricing harga malam lebih mahal dari yang siang supaya orang siang.

Potensi one way ini cukup bisa mengurangi kepadatan, tetapi ada kemungkinan di jalur selatan itu kosong. Bagaimana menurut Anda?

Ya, itu mungkin terjadi, makanya kami akan bicara mengenai jalur selatan itu karena jalur itu menarik untuk dilalui.

Kalau untuk tahun ini apa yang menjadi tantangan mudik Lebaran?

Tantangannya keselamatan. Jadi dengan ini lancar, orang lebih cepat, lebih penting keselamatan. keselamatan yang akan kami lakukan itu tiga. Pertama, mengatur kecepatan tidak boleh lebih dari 100 kilometer per jam. Kedua, kami anjurkan orang tidak mudik pakai motor, tetapi kami sediakan mudik gratis atau angkutan umum yang lain. Ketiga, bus-bus yang tidak fit itu kami mengadakan ramp-check karena bus-bus itu kebanyakan tidak fit. Kalau enggak fit, mereka grounded. Setelah diperbaiki baru boleh jalan. Yang terpenting itu law enforcement, terutama di seluruh daerah.

Sampai kini persiapan tidak ada masalah?

Bukan tidak ada masalah, tidak major lah. Yang major kita harapkan itu keselamatan. Kalau bisa angka kecelakaan pun turun.

Dengan ada tol Trans Jawa dan tol Trans Sumatra, adakah peralihan moda lain seperti pesawat?

Kami mengadakan random check saja ya dan ada beberapa travel yang melaporkan permintaannya itu naik 2 kali--3 kali lipat. Jadi memang ada kecenderungan itu, logis juga terjadi dengan adanya fasilitas baru, kita endorse dengan one way juga.

Apakah ada pergeseran pola mudik dari dulu pakai pesawat menjadi pakai kendaraan pribadi karena ada tol Trans Jawa dan Trans Sumatra?

Ada pergeseran itu, yang paling kuat karena ada jalan tol itu, karena orang itu iming-iming Surabaya-Solo hanya 2 jam, Jakarta-Semarang hanya sekian jam, jadi mereka ingin coba. Namun, harus hati-hati ini. Jangan sampai sangat membludak dan kita tidak bisa antisipasi kan repot.

Kalau prediksi jumlah angka pemudik tahun ini?

Pemudik itu kalau dari statistik itu, kita menghitung dari survei, yang angkutan pribadi seluruh Indonesia itu 28 juta orang, kalau angkutan umum 24 juta sampai 25 juta orang. Jumlah angkutan pribadi ini naik. Jadi pekerjaan rumah kita juga untuk mengurangi orang menggunakan angkutan pribadi.

Ada perubahan prediksi puncak arus mudik?

Tanggal 31 Mei 2019 malam itu. Sebelumnya tanggal 30 Mei 2019, naik jadi 31 Mei. Jadi terutama yang swasta ini 31 Mei atau 30 Mei kalau swasta-swasta yang ingin menambah liburnya.

Lantas bagaimana antisipasi arus balik?

Repot itu pulangnya karena cuma 4 hari. Saya pikir walaupun 4 hari dapat teratasi dengan baik.

Sistem satu arah tol Trans Jawa diprediksikan menyebabkan kepadatan di jalur pantura. Antisipasinya seperti apa?

Satu sebenarnya. Kalau kasat mata apa yang terjadi di pantura, arus baliknya selalu kosong. Kalau diambil rata-rata dengan hari biasa, pasti lebih rendah yang dari timur ke barat dan kami saat Lebaran secara khusus mengatur pasar tumpah, SPBU, segala macam. Jadi, pasti lebih lancar di sana. Namun, kami juga tetap memberikan ruang, karena diskresi itu bisa dilakukan oleh Kakorlantas. Untuk bus sudah didiskusikan tinggal Kakorlantas mau membuat apa. Yang ini juga bisa saja dibuat malam dua arah, siang itu satu arah semuanya. Terserah Kakorlantas. Semua dikembalikan ke diskresi di lapangan, karena mereka yang menganalisis.

Kakorlantas punya diskresi itu, kalau dari UU di bawah Kemenhub, bagaimana koordinasinya?

Tidak, pada saat Lebaran ini kami berikan kewenangan kepada mereka. Sudah 3 tahun ini kita lakukan.

Selain one way, ada yang membedakan mudik Lebaran tahun ini dengan tahun lainnya?

Di Merak, kami mengaktifkan pelabuhan lain, menarik sebagian dari mereka ke Priok atau berangkat dari Jakarta. Dynamic pricing di sana. Tetap ada imbauan ganjil genap juga, siang atau malam. Kami antisipasi banyak orang yang berangkat dari Jawa Tengah juga. Jadi ganjil genap tetap berlaku sebagian. Bentuknya, imbauan tidak ada sanksi. Ganjil Genap ini tetap jalan untuk mereduksi puncak di H-3 cenderung tiga kali lipat itu.

Bagaimana dengan kebijakan di sektor laut dan udara?

Laut itu kami mengadakan pemetaan seperti tahun-tahun lalu, yang selalu jadi viral berita itu di Madura. Di Madura itu ada peristiwa over loaded selalu, saya sudah ke sana dengan Menteri Kesehatan. Kita tambahkan 3 kapal perintis dan kapal lagi untuk mereka menambahi kebutuhan itu. Dari Madura ke Kangean, pulau Kangean itu penduduknya 200.000 orang. Jadi yang paling riskan itu dari Madura ke Kangean. Selain itu, angkutan laut ini fully booked, sehingga kita naikkan.

Bagaimana hasil kunjungan ke Lampung dan Palembang?

Ke Palembang, teman-teman cerita dengan jalan tol ini, kalau dari 12 jam jadi 7 jam sebenarnya menarik untuk mereka. Apalagi orang-orang Palembang termasuk senang pakai kendaraan, walaupun dulu rusak tetap jalan. Jadi memang tol Lampung—Palembang akan diminati dan lumayan. Justru dari kemarin itu kita wanti-wanti di dua hal dengan Gubernur dan Kapolda. Di rest area, domain-nya bukan di mereka, tetapi di operator atau diingatkan ke HK . Di Lampung sendiri ada 11 rest area, di Sumatra juga sama banyaknya. Soal keamanan, yang Robin Hood dari Pematang Panggang itu, jadi saya sudah diskusi dengan Kapolda Lampung dan Gubernur, tidak ada itu. Stigma lama.

Kalau dua hal itu selesai Insyaallah tidak ada masalah dengan tol di sana. Banyak ceritanya itu justru orang yang naik feri takut jalan malam di situ. Dijamin dengan saya datang ke Lampung, kita deklarasikan. Mudah-mudaham tidak terjadi deviasi.

Selain terobosan kebijakan, apa yang membedakan mudik kali ini dengan sebelumnya?

Mudik sekarang ini bakal makin lancar dan asyik. Kalau jalan-jalan ke Jawa Tengah, makanannya enak-enak. Silakan mampir. Lewat Garut dan Tasik, asyik juga karena berkelok-kelok dengan pemandangan yang bagus. Mau lewat jalur tol melalui Cirebon, boleh juga. Jadi, ada banyak pilihan. Dengan demikian, mudik kali ini semakin berwarna.

Rest area banyak yang membangun toilet darurat di tol. Hal itu disorot banyak oleh media dan jadi viral. Bagaimana menurut Anda?

Saya datang ke daerah-daerah supaya mereka juga jadi care tentang itu, supaya jaga daerahnya masing-masing. Itu masalah reputasi daerah masing-masing itu. Mudik jadi momentum daerah meningkatkan perekonomian juga. Namun, semua bergantung daerahnya dalam memanfaatkan kesempatan ini.

Sebenarnya ini proses edukasi dengan keluarga-keluarga yang lebih mampu di Jakarta. Ada permintaan, ada komunikasi, ada bisnis baru, dan sebagainya. Mudik, walaupun kita repot, tetap relevan untuk bangsa ini.

Ekonomi daerah juga tidak begitu menggeliat karena adanya pemudik yang memilih tidak pulang karena harga tiket yang mahal. Bagaimana menurut Anda?

Sebenarnya yang menyatakan tiket pesawat mahal itu sedikit. Cuma lantang saja itu. Jadi saya yakin pesawat itu tetap tumbuh walau tidak banyak. Kalau darat itu bukan karena pesawat, tetapi daya tarik jalan tol itu. Banyak orang yang mau coba, termasuk yang menggunakan motor, tetapi kita kasih edukasi jangan naik motor.

Kebijakan penurunan tarif batas atas pesawat sudah berjalan. Bagaimana pantauan terakhir?

Pantauan terakhir tidak ada yang melanggar. Kami sampaikan terima kasih kepada maskapai, walaupun tidak maksimal. Ada harga tiket yang lebih murah di bawah 15%. LCC ada yang kasih diskon 50%. Kami harapkan ini jadi equilibrium baru, bahwa masyarakat ingin tarif murah, tetapi kami harus edukasi maskapai ini ada satu harga pokok yang harus mereka rawat supaya merekanya bagus. Namun, mereka juga harus siap mereformasi diri supaya harga tidak tinggi.

Terkait dengan kartel dan kesepakatan tarif pesawat itu bagaimana?

Sekali lagi regulator tidak masuk ke ranah itu. Kita harapkan KPPU masuk supaya ada wasitlah. Saya untuk harga tidak berwenang mengintervensi. Saya tetap berharap, karena bottom line itu keselamatan, kalau dia ngaco-ngaco, harga murah-murah tidak bisa. Coba berselancar di internet, di Jepang, di Amerika Serikat, jarak dekat berapa kilometer tarifnya. Bandingkan harganya dengan di sini. Bukan membela maskapai, tetapi mereka juga berat.

Bagaimana antisipasi Kemenhub dengan tiket pesawat yang mahal. Selama ini, masyarakat dibuai oleh harga semu tiket pesawat murah?

Antisipasinya kita ajak bicara maskapai. Mereka melakukan efisiensi supaya ada ruang-ruang harga yang relatif terjangkau, walaupun tidak seperti dulu. Kami mengedukasi masyarakat bahwa harga pesawat itu memang begitu dan dulu itu harga pertarungan yang bukan riil, semu harganya. Kami juga harus fair dengan Garuda dan Lion Grup, tetapi mereka juga saya anjurkan untuk terapkan harga-harga yang murah. Efisiensi pun wajib diperhatikan, jangan sampai mengarah pada persaingan-persaingan tidak sehat. Ya, itu yang harus diperhatikan.

Beranikah Kemenhub memberikan sanksi jika ada keselamatan penerbangan yang dikorbankan?

Ini beberapa pilot kita hukum, termasuk yang menulis di Facebook tentang ujaran kebencian.

*) Artikel dimuat di cetak Bisnis Indonesia edisi Senin (27/5/2019)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Mudik Lebaran, jalur mudik, satu arah, one way

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top