Serapan Karet, APBI Sebut 2 Faktor Pendorong

Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) memproyeksikan serapan karet pada tahun ini dapat menembus level 20%-25% terhadap total volume yang diproduksi pada tahun ini.
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 27 Mei 2019  |  21:20 WIB
Serapan Karet, APBI Sebut 2 Faktor Pendorong
Petani mengumpulkan getah karet hasil panen di perkebunan Bathin II Babeko, Bungo, Jambi, Sabtu (30/3/2019). Harga jual getah karet di tingkat petani setempat berangsur naik dari Rp8.000 per kilogram pada minggu lalu menjadi Rp8.200 per kilogram per hari ini. ANTARA FOTO - Wahdi Septiawan

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Pengusaha Ban Indonesia (APBI) memproyeksikan serapan karet pada tahun ini dapat menembus level 20%-25% terhadap total volume yang diproduksi pada tahun ini.

Ketua Umum APBI Azis Pane meyakini bahwa maksimal serapan karet pada tahun ini dapat mencapai 25% dari total produksi karet. Menurutnya, hal tersebut disebabkan oleh dua hal yakni pelegalan produksi ban vulkanisir dan penyerapan aspal karet di beberapa daerah di dalam negeri.

“Bisa 20%. Bisa 25% lagi. Tahu kenapa yakin saya ? itu sudah diizinkan operasi [produksi ban vulkanisir], tahun lalu belum,” tegasnya kepada Bisnis, Senin (27/5/2019).

Azis menambahkan pihaknya berharap Kementerian Perindustrian dapat cepat memberikan lisensi kepada produsen yang dapat mengerjakan produksi ban vulkanisir. Menurutnya, produsen ban vulkanisir yang selam ini menggunakan hot process harus dibina untuk dapat memproduksi ban vulkanisir menggunakan cold process, melainkan ditutup.

Seperti diketahui, ada dua cara dalam membuat ban vulkanisir yakni hot process dan cold process. Hot process merupakan menempelkan lapisan karet luar yang telah diukir dengan cara dipanaskan dengan badan ban utama. Adapun, cold process menempelkan lapisan karet luar tersebut dengan adhesi super kuat.

Selain pengizinan produksi ban vulkanisir, Aziz berpendapat penggunaan aspal karet juga dapat mendorong penyerapan karet Nasional. Menurutnya, penggunaan karet sebagai bagian dari aspal sudah dimulai pada tahun ini, khususnya pada kabupaten di provinsi Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan.

Seperti diketahui, tahap pertama produksi karet aspal akan dikonsentrasikan di daerah-daerah sentra produksi seperti Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Kementerian Perindustrian menghitung penggunaan karet bisa menggantikan 7%-8% dalam pembangunan aspal.

Kementerian PUPR sudah melakukan pembelian karet ke petani untuk bahan pencampuran aspal. Kementerian mencatat panjang jalan nasional yang berpotensi dirawat dengan aspal karet adalah 25.549 km atau lebih dari separuh panjang jalan nasional. Kemudian, jalan provinsi yang juga berpotensi dilapisi aspal karet 29.719 km, sedangkan 296.485 km jalan kabupaten berpotensi menggunakan aspal karet.

Di sisi lain, Azis menyatakan pemerintah juga harus melihat penggunaan karet di sektor lainnya seperti pembuatan lapangan olahraga atau museum bagi anak-anak. Penggunaan karet di sektor lain, tambahnya, akan menaikkan serapan karet.

“Ayo kita mencari produk-produk yang bukan tradisional seperti lapangan bola. Kenapa kita tidak bikin kebun binatang dinosaurus? Kita jangan terhanyut di produk-produk tradisional, bikin yang baru,” tuturnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri karet

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup