Produksi Tembakau Diperkirakan Capai 180.000 ton

Asosiasi Petani Tembakau Indonesia memperkirakan bahwa produksi tembakau pada tahun ini dapat tumbuh seperti pada 2018 jika didukung oleh cuaca di berbagai sentra komoditas tersebut
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 23 Mei 2019  |  09:06 WIB
Produksi Tembakau Diperkirakan Capai 180.000 ton
Petani menjemur tembakau rajang di rumahnya di Desa Tlogorejo, Karangawen, Demak, Jawa Tengah, Selasa (22/8). - ANTARA/Aji Styawan

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Petani Tembakau Indonesia memperkirakan bahwa produksi tembakau pada tahun ini dapat tumbuh seperti pada 2018 jika didukung oleh cuaca di berbagai sentra komoditas tersebut.

“Perkiraan kami kalau tahun ini musimnya bagus, kami bisa seperti 2018. Paling tidak bisa mencapai 180.000 ton,” ujar Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Soeseno kepada Bisnis, Selasa (21/5/2019).

Soeseno memprediksi masa penanaman tembakau tahun ini bisa dimulai pada Juni mendatang mengingat musim hujan yang sudah berhenti. Namun, dia mengakui bahwa terdapat beberapa daerah yang telah memulai penanaman.

Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), awal musim kemarau di Pulau Jawa sebagai daerah produsen tembakau terbesar umumnya terjadi pada Mei 2019. Puncak kemarau sendiri diprediksi terjadi pada Agustus di 150 zona musim di Pulau Jawa.

Soeseno mengungkapkan bahwa kondisi musim ini memainkan andil yang besar dalam produksi tembakau. Dia mencatat produksi tembakau Tanah Air pernah anjlok pada 2016 karena curah hujan yang tinggi. Musim kering yang lebih lambat dibandingkan dengan periode sebelumnya pun memaksa petani tembakau mengundur waktu tanam sehingga berdampak pada penurunan produksi.

Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian mencatat, produksi tembakau nasional pada 2016 sebanyak 126.728 ton turun sekitar 67.062 ton atau sekitar 34% dibandingkan dengan 2015 yang mencapai 193.790 ton. Produksi tembakau kemudian mulai membaik pada 2017 mencapai 181.142 ton.

Sinyal positif pertumbuhan produksi tembakau pada 2019 diperkirakan diikuti dengan keberlanjutan impor mengingat tingginya kebutuhan bahan baku industri rokok.

Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) mencatat kebutuhan tembakau industri bisa mencapai 330.000 sampai 350.000 ton setiap tahun. “Serapan industri rokok ke petani tembakau bagus, tetapi tetap akan impor untuk menutup defisit,” ungkap Ketua AMTI Budidoyo kala dihubungi Bisnis, Rabu (22/5).

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, impor tembakau selama Januari—Maret 2019 mencapai nilai US$158,41 juta turun 0,7% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya yang berjumlah US$159,53 juta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perkebunan, tembakau

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup