Risalah Rapat The Fed 30 April-1 Mei Dirilis, Ini Isinya

Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve merilis risalah rapat kebijakan (FOMC minutes) mereka yang digelar pada 30 April-1 Mei. Dalam risalah ini, The Fed sepakat untuk tetap bersabar soal kebijakan moneternya.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 23 Mei 2019  |  08:09 WIB
Risalah Rapat The Fed 30 April-1 Mei Dirilis, Ini Isinya
Gubernur The Fed Jerome Powell - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve merilis risalah rapat kebijakan (FOMC minutes) mereka yang digelar pada 30 April-1 Mei. Dalam risalah ini, The Fed sepakat untuk tetap bersabar soal kebijakan moneternya.

“Para anggota melihat bahwa pendekatan untuk bersabar kemungkinan akan tetap berlaku untuk beberapa waktu, tanpa perlu menaikkan atau menurunkan suku bunga target dari level saat ini antara 2,25 persen dan 2,5 persen,” papar The Fed dalam risalahnya yang dirilis Rabu (22/5/2019).

Oleh banyak pembuat kebijakan, inflasi yang lemah baru-baru ini dipandang “kemungkinan bersifat sementara”, sementara risiko terhadap pasar keuangan dan ekonomi global tampaknya mereda.

Untuk diketahui, penilaian ini diberikan sebelum pemerintahan Presiden Donald Trump memberlakukan tarif yang lebih tinggi pada barang-barang asal China dan mengambil langkah-langkah lain yang meningkatkan ketegangan perdagangan.

Di sisi lain, menurut risalah itu, terlepas dari banyaknya dukungan pendekatan bersabar untuk kenaikan suku bunga, “beberapa” anggota memperingatkan risiko inflasi yang lebih tinggi dan kemungkinan kebutuhan untuk suku bunga yang lebih tinggi mengingat rendahnya tingkat pengangguran.

“Beberapa memperingatkan, di sisi lain, bahwa inflasi bisa melemah,” ungkap The Fed dalam risalahnya.

Tetap saja, Presiden Federal Reserve wilayah Dallas Robert Kaplan pada Rabu (22/5) berpendapat bahwa langkah menaikkan ataupun menurunkan suku bunga acuan akan membutuhkan alasan yang sesuai.

“Pada dasarnya kami berada di titik pengaturan kebijakan yang tepat saat ini,” ujar Kaplan kepada Fox Business, seperti dikutip Reuters.

Secara keseluruhan, risalah rapat itu tidak banyak memperdengarkan hal-hal baru mengenai kebijakan The Fed. Meski demikian, sebagian analis melihat pandangan para pembuat kebijakan mungkin telah berubah sejak Trump mengambil sikap yang lebih keras terhadap China.

“Meningkatnya kembali ketegangan perdagangan antara AS dan China sejak pertemuan kebijakan itu dapat mengubah pandangan The Fed dengan signifikan,” ujar Eric Stein, co-direktur di Eaton Vance Management, Boston.

Imbal hasil pada obligasi Treasury AS dilaporkan sempat naik setelah risalah itu dirilis, sedangkan bursa saham AS dan dolar AS mengikis penurunannya.

The Fed dijadwalkan akan menggelar pertemuan kebijakan berikutnya pada 18-19 Juni. Saat itu, para pembuat kebijakan akan memperbarui proyeksi ekonomi mereka dan mencermati risiko-risiko yang terlihat muncul setelah pemerintahan Trump memberlakukan kebijakan perdagangannya baru-baru ini.

Meski sebagian besar pejabat Fed meremehkan soal sengketa perdagangan ini sebagai problem jangka pendek, belakangan mereka mulai membahas risiko jika tarif dan ketegangan perdagangan bertahan serta mulai membentuk kembali rantai pasokan global dan perhitungannya.

Dalam komentarnya di Hong Kong semalam, Presiden Fed wilayah St Louis James Bullard mengatakan kegagalan untuk menyelesaikan sengketa perdagangan dalam waktu dekat dapat mengubah pola perdagangan global. Ini menjadi alasan lain bagi The Fed "untuk melangkah dengan hati-hati".

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kebijakan The Fed

Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top