Optimalkan Bisnis Kargo, Garuda Tambah 2 Unit Pesawat Freighter

PT Garuda Indonesia Tbk. akan mengoptimalkan bisnis kargo sebagai salah satu cara untuk mengompensasi penurunan pendapatan dari penjualan tiket pascapenurunan tarif batas atas (TBA).
Rio Sandy Pradana
Rio Sandy Pradana - Bisnis.com 22 Mei 2019  |  19:47 WIB
Optimalkan Bisnis Kargo, Garuda Tambah 2 Unit Pesawat Freighter
Ilustrasi - Petugas menata kargo yang tiba di bandara. - Bisnis/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - PT Garuda Indonesia Tbk. akan mengoptimalkan bisnis kargo udara sebagai salah satu cara untuk mengompensasi penurunan pendapatan dari penjualan tiket pascapenurunan tarif batas atas (TBA).


Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha Garuda Indonesia Mohammad Iqbal mengatakan penambahan kapasitas daya angkut kargo menjadi langkah utama yang dilakukan. Maskapai akan menambah dua unit pesawat freighter pada tahuh ini.


"Garuda akan menambah kapasitas melalui penambahan dua unit freighter lagi pada 2019, sehingga total ada 4 freighter yang dioperasikan," kata Iqbal kepada Bisnis, Rabu (22/5/2019).


Dia menjelaskan dua unit tersebut berjenis Boeing 738 seri 800. Sementara itu, dua unit freighter yang sudah dioperasikan adalah Airbus A330 dan Boeing 737 hasil konversi dari pesawat penumpang.


Berdasarkan data emiten berkode GIAA, pendapatan kargo dari awal tahun hingga Maret 2019 (year to date/YTD) mencapai US$75,1 juta. Realisasi tersebut mampu tumbuh sebesar 16% dibandingkan dengan periode yang sama pada 2018, yakni sebesar US$64,5 juta.


Adapun, biaya operasional kargo dari awal tahun hingga Maret 2019 tercatat sejumlah US$64,2 juta. Perseroan mampu menekan biaya operasional, sehingga pertumbuhan angka tersebut tidak terlalu signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2018, yakni US$64,1 juta.


Total laba operasional yang diperoleh dari bisnis kargo dari awal tahun hingga Maret 2019 dibandingkan dengan 2018 mampu mencatatkan pertumbuhan yang masif, yakni hingga 2.518%. Secara YTD Maret 2019 mencapai US$10,9 juta, sedangkan tahun sebelumnya hanya US$415.000.


Di sisi lain, dalam periode yang sama juga, tingkat isian kargo (cargo load factor/CLF) mengalami penurunan hingga 1,43% dari 48,27% pada 2018 menjadi 46,84% pada 2019. Namun, harga rata-rata kargo per kilogram justru mengalami kenaikan hingga 47% dari US$0,62 per kg menjadi US$0,91 per kg.


Pihaknya memastikan pada tahun ini tidak akan ada perubahan maupun evaluasi tarif surat muatan udara (SMU) atau yang biasa disebut dengan tarif kargo.


Garuda juga berencana mengoperasikan hingga 100 unit UAV hasil kerja sama eksklusif dengan Beihang UAS Technology Co. Ltd untuk memperkuat potensi pasar layanan bisnis kargo udara.


Pada Kuartal IV/2019, emiten berkode GIAA ini akan mengoperasikan 3 unit UAV berjenis BZK-005. UAV tersebut dapat mengangkut beban angkutan kargo hingga mencapai 1,2 ton dengan jarak tempuh mencapai 1200 kilometer di ketinggian 5.000 meter.


Dia menambahkan dengan teknologi UAV, maskapai akan menjadi lebih efisien dalam hal konsumsi bahan bakar sekaligus meminimalkan risiko.

Di sisi lain, melalui pemanfaatan teknologi UAV tersebut, investasi untuk pengembangan armada menjadi lebih kompetitif jika dibandingkan dengan jenis armada konvensional untuk angkutan kargo udara.


Saat ini, maskapai juga sedang melakukan koordinasi intensif bersama seluruh stakeholder terkait kajian regulasi hingga tata laksana operasional teknologi tersebut dapat berjalan lancar.

Adapun, proses uji coba teknologi UAV dari segi kelaikan bandara, landasan udara, navigasi, kendali lalu lintas udara, meteorologi dan aspek terkait akan dilakukan pada September 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
garuda indonesia, kargo udara

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top