Mudik Dorong Ekonomi Daerah, Begini Analisis Para Pakar

Perekonomian daerah yang menjadi tujuan pemudik saat Lebaran berpotensi bertumbuh seiring dengan meningkatnya jumlah pendatang.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 20 Mei 2019  |  22:12 WIB
Mudik Dorong Ekonomi Daerah, Begini Analisis Para Pakar
Ilustrasi - Antrean kendaraan di gerbang tol Cipali, Palimanan, Cirebon, Jawa Barat, Minggu (10/6). Data dari PT Lintas Marga Sedaya (LMS) pada H-5 Lebaran, jumlah kendaraan yang keluar dari gerbang tol Palimanan mencapai 44.408 mobil. - ANTARA FOTO/Dedhez Anggara

Bisnis.com, JAKARTA - Perekonomian daerah yang menjadi tujuan pemudik saat Lebaran berpotensi bertumbuh seiring dengan meningkatnya jumlah pendatang. Di sisi lain, PDB nasional juga berpotensi terangkat pada kuartal II/2019.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih berpendapat, aktivitas mudik bisa menjadi salah satu pemicu ekonomi daerah, dan momentum untuk bertumbuh.

“Biasanya pertumbuhan ekonomi tertinggi di daerah terjadi saat mudik. Diharapkan PDB nasional juga pada kuartal II/2019 membaik menjadi 5,2%, dari kuartal sebelumnya 5,07%,” ujarnya, Senin (20/5/2019).

Aktivitas mudik Lebaran  juga diharapkan menumbuhkan ekonomi daerah di luar Jawa, yang pada kuartal I/2019 tertekan harga komoditas. Namun, ada kemungkinan potensi ini terhambat harga tiket pesawat yang mahal, karena masyarakat menunda pulang kampung.

Ekonom Universitas Katolik Soegijapranata Andreas Lako menyampaikan, adanya kegiatan mudik saat Lebaran mendorong aktivitas ekonomi, khususnya dari sisi konsumsi. Pertumbuhan konsumsi ini tentunya harus diimbangi dengan penyediaan kebutuhan suplai.

“Di wilayah-wilayah tujuan mudik, kegiatan ekonomi meningkat. Ini harus diimbangi sisi suplai, sehingga tingkat suplai dan permintaan dapat dikelola dengan baik,” tuturnya.

Selama ini, tingginya tingkat konsumsi yang tidak dibarengi pertumbuhan suplai dapat menyebabkan inflasi harga barang. Oleh karena itu, pemerintah dan pelaku usaha perlu bahu-membahu untuk meminimalkan kesenjangan suplai-permintaan.

Andreas menambahkan, perputaran uang saat periode Lebaran bisa bertumbuh di atas 10%. Persentase ini tidak setinggi dua tahun sebelumnya, dimana permintaan uang bisa meningkat sekitar 15%.

Menurutnya, penurunan pertumbuhan permintaan uang bukan mengindikasikan konsumsi melesu, tetapi terjadi efisiensi akibat perapihan infrastruktur. Adanya infrastruktur yang mumpuni, seperti Tol Trans Jawa, membuat beban pejalan berkurang dan meningkatkan produktivitas.

Bank Indonesia memperkirakan kebutuhan uang kuartal pada periode Ramadan dan Idulfitri pada 2019 sebesar Rp217,1 triliun atau tumbuh 13,5% secara tahunan. Pada 2018, kebutuhan uang tunai mencapai Rp191,3 triliun, melampaui estimasi Rp188,2 triliun.

Sementara itu, sejumlah pemerintah daerah melakukan persiapan untuk mengantisipasi aktivitas mudik. Diharapkan kegiatan tahunan tersebut mendorong perekonomian setempat.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyampaikan, adanya kegiatan mudik memberi peluang tambahan dana masuk ke Jateng. Oleh karena itu, pemerintah daerah melakukan sejumlah persiapan untuk memperlancar arus pelancong.

“Saat ini kami sedang melakukan banyak persiapan,” tuturnya saat dihubungi.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menuturkan, sekitar 7,12 juta masyarakat Jatim akan melakukan mudik. Provinsi berpenduduk 39,3 juta jiwa ini juga menjadi salah satu tujuan pelancong.

“Untuk menyamankan pemudik, kami menambah sejumlah fasilitas,” ujarnya.

Pemprov sudah menyiapkan 26 titik rest area. Jumlah ini bisa bertambah seiring dengan penambahan rest area di mushola dan masjid. Selain itu, ada 134 titik layanan kesehatan yang disiapkan PMI.

“Dalam mengantisipasi penambahan pemudik, kami menyiapkan petugas keamanan tambahan di jalan dan tempat-tempat wisata,” tambahnya.
 
EFEK TIKET PESAWAT MAHAL
Meskipun demikian, pertumbuhan ekonomi di daerah selama arus mudik lebaran tahun ini diprediksi tidak akan seoptimal tahun-tahun sebelumnya, karena dampak dari mahalnya tiket pesawat.

Oleh karena itu, pemerintah diharapkan bisa segera mengatasi persoalan mahalnya tiket pesawat, agar para pemudik tak perlu menunda rencananya untuk pulang ke kampung halaman pada tahun ini, dan pertumbuhan ekonomi di daerah bisa lebih optimal.

Lana Soelistianingsih menuturkan, peningkatan harga tiket pesawat dapat menghambat aktivitas mudik ke luar Jawa. Dengan demikian, jumlah pemudik pada 2019 dapat berkurang dari 2018 yang mencapai 20 juta orang.

“Ada kemungkinan jumlah pemudik di luar Jawa berkurang akibat mahalnya tiket pesawat,” imbuhnya.

Berdasarkan data Sistem Informasi Angkutan & Sarana Transportasi, jumlah pemudik hingga H+9 Idulfitri 2018 mencapai 20,86 juta orang. Jumlah tersebut terdiri dari angkutan udara sebanyak 5,39 juta, kereta api 5,13 juta, angkutan jalan 4,48 juta, angkutan penyeberangan 4,4 juta, dan angkutan laut 1,44 juta.

 Tabel Estimasi Arus Utama Mudik (juta orang) pada 2018

Daerah Asal

Volume Pemudik

Daerah Tujuan

Volume Pemudik

Jabodetabek

12,8

Jateng

8,5

Gerbangkertasusila

3,1

Jabar

4,6

Bandung Raya

2,1

Jatim

4,4

Mebidangro

1,6

Sumut

2,1

Solo Raya

1,6

Jakarta

2

Kedungsepur

1,5

Banten

1,3

Pekansikawan

1,4

Sumbar

1,3

Samarinda Raya

1,2

Yogyakarta

1,2

Sarbagita

1,1

Lampung

0,8

Batam Raya

1,1

Sulsel

0,7

 Sumber: Indonesia Development and Islamic Studies (IDEAS)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
tiket pesawat, ekonomi daerah, Mudik Lebaran

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup