Perang Dagang Sebabkan Berbisnis di China Makin Sulit

Perusahaan-perusahaan Eropa yang beroperasi di China mengungkapkan semakin sulitnya berbisnis di negara Asia tersebut selama setahun terakhir.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 20 Mei 2019  |  12:46 WIB
Perang Dagang Sebabkan Berbisnis di China Makin Sulit
Properti China. - .Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan-perusahaan Eropa yang beroperasi di China mengungkapkan semakin sulitnya berbisnis di negara Asia tersebut selama setahun terakhir.

Melambatnya produksi, kenaikan upah, perang perdagangan, berikut faktor-faktor lain menambah tantangan melakukan bisnis di negara berekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Menurut survei kepercayaan bisnis oleh Kamar Dagang Eropa di China yang dirilis hari ini, Senin (20/5/2019), sebanyak 53 persen responden mengatakan bisnis telah tumbuh lebih sulit. Angka ini meningkat dari 48% yang mengutarakan hal sama tahun lalu.

Perlambatan ekonomi China mendapat perhatian utama dalam survei itu. Ekonomi China terus kehilangan momentum, dengan konsumsi domestik yang melesu dan ekspor yang membebani pertumbuhan.

Kekhawatiran terbesar selanjutnya adalah perlambatan ekonomi global dan kenaikan biaya tenaga kerja, diikuti oleh perang perdagangan AS-China.

Sebelum survei dilakukan pada perusahaan-perusahaan Eropa, perusahaan-perusahaan Amerika telah memaparkan keprihatinan serupa pada awal tahun ini.

Tensi perdagangan AS-China membayangi problem-problem lama seperti biaya tenaga kerja, interpretasi kebijakan yang tidak konsisten, dan penegakan hukum yang tidak merata.

Lebih sepertiga dari 585 perusahaan Eropa dalam survei tersebut mengatakan telah terkena dampak negatif tarif yang dikenakan AS dan China dalam perang dagang kedua negara.

Meski demikian, karena banyak perusahaan Eropa di China bergerak untuk pasar domestik, sebagian besar perusahaan tidak terseret pemberlakuan tarif.

Sementara itu, hanya 6 persen dari perusahaan-perusahaan yang telah pindah atau sedang mempertimbangkan untuk memindahkan produksi mereka yang relevan dari China.

“Namun, setiap eskalasi ketegangan dapat berakibat pada sentimen bisnis, kemudian mengarah pada pengetatan investasi,” jelas Kamar Dagang Eropa dalam laporannya, seperti dikutip Bloomberg.

Perusahaan-perusahaan Eropa terus mengeluhkan tentang pembatasan akses pasar dan hambatan peraturan, dua masalah lama yang dihadapi perusahaan asing.

Kamar Dagang Eropa juga menyoroti "defisit reformasi", dimana reformasi dan keterbukaan China gagal mengimbangi pertumbuhan ekonomi yang cepat.

“Salah satu kekurangan yang lebih signifikan dari agenda reformasi China adalah bahwa janji-janji tingkat tinggi tertentu untuk meningkatkan lingkungan bisnisnya bagi perusahaan-perusahaan internasional telah gagal dituangkan ke dalam tindakan nyata,” lanjutnya.

Laporan itu pun menyoroti kekhawatiran yang berkelanjutan tentang transfer teknologi paksa. Sekitar 20 persen responden mengatakan mereka merasa terpaksa mentransfer teknologi untuk mempertahankan akses pasar.

Angka itu lebih tinggi dari 10 persen pada tahun 2017, dan merupakan isu khusus di industri teknologi tinggi bernilai tinggi seperti bahan kimia dan minyak bumi, perangkat medis, farmasi dan mobil.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top