Tekan Impor BBM, Kemenperin Terus Dorong Bahan Bakar Hijau

Kementerian Perindustrian menyatakan sedang berupaya menekan impor bahan bakar minyak (BBM) dengan memproduksi bahan bakar hijau. Adapun, salah satu bahan bakar hijau adalah biodiesel B20 dan B30 dari pencampuran minyak nabati dan minyak bumi (petroleum diesel).
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 19 Mei 2019  |  23:50 WIB
Tekan Impor BBM, Kemenperin Terus Dorong Bahan Bakar Hijau
Petugas mengisi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar pada kendaraan di SPBU Coco, Kuningan, Jakarta, Jumat (31/8/2018). Pemerintah melalui badan usaha penyedia BBM dan produsen bahan bakar nabati menerapkan program pelaksanaan kewajiban pencampuran penggunaan biodiesel sebanyak 20 persen pada BBM segera dilaksanakan mulai Sabtu (1/9/2018). - Antara/Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyatakan sedang berupaya menekan impor bahan bakar minyak (BBM) dengan memproduksi bahan bakar hijau. Adapun, salah satu bahan bakar hijau adalah biodiesel B20 dan B30 dari pencampuran minyak nabati dan minyak bumi (petroleum diesel).

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan salah satu potensi di Tanah Air merupakan banyaknya perkebunan kelapa sawit. Pasalnya, ujarnya, kelapa sawit merupakan sumber minyak nabati atau metil ester dalam pengolahan bahan bakar hijau.

“Sekarang pemerintah memitigasinya dari sektor industri adalah penggunaan biofuel, bahkan pemerintah akan mendorong penggunaan green fuel, green diesel, green gasoline dan green avtur. Tetapi berproduksi itu membutuhkan waktu," paparnya dalam keterangan tertulis, Minggu (19/5/2019).

Airlangga menambahkan pihaknya sudah meminta pada pelaku usaha agar mendukung penuh penggunaan bio diesel bisa dijalankan. Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia memprediksi pertumbuhan minyak sawit pada tahun ini akan mencapai 12% atau menjadi 50,4 juta ton dari realisasi tahun lalu sebanyak 47,4 juta ton.

Selain meningkatkan produksi dan konsumsi bahan bakar hijau, Airlangga mengutarakan pihaknya juga mengembangkan kendaraan listrik untuk mengurangi ketergantungan pada pemakaian BBM serta mengurangi ketergantungan pada impor BBM. Dengan demikian,  dua hal tersebut berpotensi menghemat devisa sekitar Rp789 triliun.

Menurutnya, pemanfaatan teknologi dapat membantu menyikapi kebutuhan energi alternatif. Airlangga mengutarakan pihaknya akan mengutilisasi cadangan bijih nikel nasional dalam pengembangan baterai kendaraan listrik maupun peralatan listrik.

“[Pemanfaatan bijih nikel dapat] menjadikannya sebagai daya tarik investasi bagi perusahaan asing yang ingin memperluas produksi,” ujarnya.

Selain dapat menstabilkan harga komoditas, Airlangga menyampaikan hilirisasi juga dipacu untuk menyubstitusi impor bahan baku. Pasar nasional, ujarnya, akan memiliki pabrik yang memproduksi material energi baru dari nikel laterit melalui investasi PT QMB New Energy Materials di kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) pada 2020.

Airlangga memaparkan proyek pengolahan nikel laterit tersebut akan menggunakan teknologi hydrometallurgy dalam pemenuhan bahan baku baterai lithium generasi kedua nikel kobalt yang dapat digunakan untuk kendaraan listrik. Menurutnya, total investasi yang ditanamkan pada proyek tersebut mencapai US$700 juta dan akan menghasilkan devisa senilai US$800 juta per tahun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Biodiesel, impor bbm

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top