APRIL Group Cari Lahan Hingga 50.000 Hektare Untuk Restorasi Ekosistem

Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) Group sedang mencari lahan seluas 40.000 hektare-50.000 hektare sebagai lahan restorasi atau konservasi ekosistem.
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh
Nur Faizah Al Bahriyatul Baqiroh - Bisnis.com 17 Mei 2019  |  09:09 WIB
APRIL Group Cari Lahan Hingga 50.000 Hektare Untuk Restorasi Ekosistem
Karyawan beraktivitas di pembibitan (nursery) Akasia PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) untuk menghasilkan bibit pohon unggul sebagai bahan baku pulp dan kertas. - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA—Asia Pacific Resources International Limited (APRIL) Group sedang mencari lahan seluas 40.000 hektare-50.000 hektare sebagai lahan restorasi atau konservasi ekosistem.

Direktur External Affairs Restorasi Ekosistem Riau APRIL Nyoman Iswarayoga mengatakan bahwa pencarian lahan tersebut merupakan perwujudan dari komitmen perusahaan dalam menjalankan Sustainable Forest Management Policy (SFMP) 2.0 yang dijalankan APRIL. SFMP 2.0 APRIL Group berkomitmen melakukan 1:1 dalam sistem pengelolaan konsesi kawasan hutan tanaman industri miliknya.

“April berkomitmen 1:1, di mana kami mengkonservasi atau merestorasi 1 hektare hutan alam untuk setiap 1 hektare hutan tanaman industri yang kami kelola, jadi nanti yang 40.000 hektare-50.000 hektare lahan itu bentuknya belum tentu izin baru, bisa dengan kami membantu restorasi atau konservasi hutan alam bersama dengan stakeholder terkait," kata Nyoman di Jakarta, Kamis (16/5/2019).

Nyoman melanjutkan, pihaknya berharap agar lahan seluas 40.000 hektare - 50.000 hektare tersebut berada di Riau dan dekat dengan areal konsesi kawasan hutan milik APRIL. Pihaknya mengklaim sampai akhir tahun lalu APRIL telah melakukan restorasi dan konservasi ekosistem pada lahan gambut Riau seluas 150.000 hektare.

“Secara keseluruhan, upaya kami dalam menjaga dan mengembalikan fungsi ekologis kawasan sudah terlihat dampaknya. Pada 2018, sepanjang 65.400 meter kanal drainase lama di dalam area restorasi ekosistem Riau telah ditutup dengan 53 bendungan,” lanjutnya.

Dia mengatakan penutupan kanal tersebut merupakan upaya dalam dalam merestorasi hidrologis untuk mengurangi bahaya kebakaran dan meminimalkan emisi karbon.

Nyoman menyampaikan dalam lima tahun terakhir sejak restorasi ekosistem Riau berjalan pada 2013, program ini juga sukses melakukan melakukan restorasi hutan rawa gambut seluas 58,21 hektare.

Tak hanya itu, restorasi ekosistem riau juga berhasil mengidentifikasi tambahan 42 jenis flora dan fauna menjadi total 759 spesies pada tahun lalu.

“Perinciannya, sebanyak 71 spesies mamalia, 304 spesies burung, 107 spesies amfibi dan reptil, 119 spesies pohon, 69 spesies non-pohon dan 89 spesies ikan ditemukan di kawasan restorasi ekosistem riau. Sebagian flora dan fauna yang berada di kawasan restorasi ekosistem riau tersebut merupakan jenis yang dilindungi, baik secara global maupun nasional,” katanya.

Di Semenanjung Kampar yang ditetapkan sebagai Kawasan Penting bagi Burung (IBA) juga terlihat ada peningkatan sekitar 176 spesies burung. “Contoh yang baru terpantau itu spesies Mentok Rimba [Asarcornis scutulata] dan Bangau Hutan Rawa [Ciconia stormi]. Selain itu, 6 dari 9 spesies rangkong teridentifikasi di kawasan restorasi ekosistem riau, salah satunya rangkong badak yang statusnya rentan,” ujarnya.

Kemudian dia menjelaskan bahwa APRIL juga berkomitmen menyalurkan dana sebesar US$100 juta yang akan digunakan selama 10 tahun ke depan untuk mendukung proyek restorasi ekosistem dan konservasi pada Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP 21) tahun 2015 di Paris.

Direktur PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP) Sihol Aritonang juga menilai bahwa tindakan konservasi atau restorasi hutan akan efektif dilakukan apabila di sekeliling kawasan hutan tersebut ada operasi korporasi.

"Misalnya seperti restorasi ekosistem riau ini arealnya di kelilingi oleh areal hutan tanaman industri kami kami ada orang [pekerja] di sana yang berpatroli, helikopter yang berpatroli juga sekalian memeriksa areal hutan tanaman industri dan lahan restorasi ekosistem kami, dan termasuk tata kelola air untuk lahan gambut," ujarnya di Jakarta, Kamis (19/5).

Sihol mengatakan proyek restorasi ekosistem riau ini memberikan pengaruh terhadap bisnis pulp dan kertas yang mereka hasilkan.

"[Konsumen] sekarang ingin membeli produk yang ingin membeli produk dari produsen yang menjalankan bisnis [kehutanan yang] sustainable, jadi dengan kami melakukan restorasi ekosistem riau ini dapat menunjukkan bahwa produk yang kami hasilkan berasakan dari sumber yang terbarukan, terkait hutan alam jangan khawatir kami juga komitmen menjaganya melalui restorasi ekosistem riau," ujarnya.

Sihol menambahkan, tahun lalu PT RAPP memproduksi pulp dan kertas sebesar 3,9 juta ton yang terdiri atas produksi pulp sebesar 2,8 juta ton dan kertas sebesar 1,1 juta ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hutan

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top