Target Pencapaian Salur Gas Terancam Tak Tercapai

Target pencapaian salur gas pada APBN 2019 terancam tidak tercapai seiring banyaknya kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang mencatatkan kinerja di bawah target hingga April lalu.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 17 Mei 2019  |  10:14 WIB
Target Pencapaian Salur Gas Terancam Tak Tercapai
Blok migas - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA—Target pencapaian salur gas pada APBN 2019 terancam tidak tercapai seiring banyaknya kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang mencatatkan kinerja di bawah target hingga April lalu.

Wakil Kepala SKK Migas Sukandar mengakui hasil kinerja hingga April masih di bawah target, tetapi pihaknya masih berusaha untuk mendapatkan kenaikan produksi. Berdasarkan data, BP Berau Limited menjadi KKKS teratas yang mencatatkan salur gas dengan 912 mmscfd atau 87% dari target APBN 2019 year to date. Selanjutnya, Pertamina Hulu Mahakam yang mencatatkan kinerja sebesar 667 mmscfd atau hanya 61% dari target. Di urutan ketiga, Conocophillips (Grissik) Limited mencatatkan 103% di atas target APBN 2019 atau sebesar 834 mmscfd.

“BP agak rendah karena ada pergeseran perawatan dari tahun lalu. Kami proyeksikan produksinya akan normal kembali. Tangguh Train 3 juga sedang dibangun,” katanya, dalam rapat dengara pendapat Komisi VII DPR, Kamis (16/5/2019).

Sukandar mengatakan bahwa PHM memang mencatatkan kinerja yang jauh dari target akibat decline rate yang lebih tinggi pada akhir 2018 serta belum onlinenya beberapa sumur yang sudah selesai dibor.

Selain BP Berau dan PHM, kinerja di bawah target juga dicatatkan oleh Pertamina EP, Eni Muara Bakau, Premier Oil Indonesia dan Kangean Energi Indonesia. Totalnya, salur gas nasional April 2019 sebesar 5.909 mmscfd atau 84% dari target APBN 2019.

Di sisi lian, Mobil Cepu Limited, menjadi KKKS teratas yang mencatatkan kinerja lifting minyak sebesar 219.209 barel per hari (bph) atau 101,5% year to date. Menyusul Chevron Pacific Indonesia dengan lifting sebesar 195.753 bph atau 103%. Sayangnya, di urutan ketiga, Pertamina EP belum mencatatkan kinerja sesuai target APBN 2019. Anak usaha hulu Pertamina ini, mencetak lifting sebesar 73.340 bph atau 93%.

Selain itu, Pertamina Hulu Mahakam, Pertamina Hulu Energi OSES, Pertamina Hulu Energi ONWJ Limited, dan Medco E&P Natuna juga mencatatkan kinerja di bawah target.

Jika dilihat dari persentase memenuhi target APBN, Petrochina International Jabung Limited mencatatkan kinerja 116% di atas target  atau sebesar 16.274 bph.

Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur Pertamina EP Nanang Abdul Manaf mengatakan lifting tersendat karena semuanya tidak menggunakan pipa, tetapi juga menggunakan kapal tanker.

“Karena produksinya kecil jadi dikumpulkan dulu misalnya ada yang 10 hari sekali, 2 bulan sekali, 40 hari sekali. Sehingga antara produksi dan lifting tidak sama. Tapi nanti di akhir tahun hasilnya sama,” katanya.

Melihat kinerja empat bulan ini, Nanang tetap optimistis untuk mengoptimalkan litfing agar mendapatkan tingkat keekonomian.

Target produksi siap jual minyak APBN 2019 sebanyak 775.000 barel per hari diproyeksi sulit tercapai dengan merujuk hasil kinerja hulu migas hingga April lalu.

SKK Migas mencatat realisasi lifting migas hingga April 2019 mencapai 1,8 juta barel setara minyak per hari (boepd), dengan rincian lifting minyak 750.000 bph dan lifting gas 5.909 juta kaki kubik per hari (MMscfd). Atas capaian tersebut, kinerja hulu migas per April baru mencapai 89,1% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 2,025 juta bph.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gas

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top