Antisipasi Dampak Perang Dagang, Apsyfi Ajukan BMAD dan Safeguard

Pelaku industri bersiap menghadapi dampak dari eskalasi perang dagang China vs Amerika Serikat, berupa ancaman membanjirnya produk impor ke pasar domestik. Efektifkan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) dan Safeguard sebagai alternatif tindakan pengamanan?
Andi M. Arief
Andi M. Arief - Bisnis.com 14 Mei 2019  |  10:50 WIB
Antisipasi Dampak Perang Dagang, Apsyfi Ajukan BMAD dan Safeguard
Pekerja meyelesaikan pembuatan pakaian di pabrik garmen PT Citra Abadi Sejati, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (8/9/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA - Pelaku industri bersiap menghadapi dampak dari eskalasi perang dagang China vs Amerika Serikat, berupa ancaman membanjirnya produk impor ke pasar domestik. Efektifkan bea masuk anti-dumping (BMAD) dan safeguard sebagai alternatif tindakan pengamanan?

Sekretaris Jenderal Asosiasi Syntehtic Fiber (Apsyfi) Redma Wirawasta mengemukakan BMAD merupakan salah satu instrumen yang dapat menyemakan “playing field” antara produk lokal dan impor. Adapun, safeguard merupakan kebijakan untuk melindungi industri domestik dari produk impor karena produk hasil industri domestik belum memiliki daya saing.

"Maka dari itu, tidak tepat jika pemberlakuan BMAD pada produk bahan baku buatan industri hulu dapat menahan pertumbuhan industri hilir, namun dirinya sependapat jika pemberlakuan safeguard pada industri hulu dapat menahan pertumbuhan industri hilir," ujarnya kepada Bisnis, Senin (13/5/2019).

Asosiasi, lanjutnya, sedang mengajukan perpanjangan BMAD terhadap benang polyester hingga 2023. Adapun, benang polyester sudah dikenakan BMAD sejak 2011. Namun, diakui Redma, BMAD tersebut tidak berdampak banyak kepada kinerja produksi benang polyester lokal atau hanya naik 4% per tahunnya sejak diberlakukan.

Walau demikian, Redma menganggap pengajuan BMAD terhadap benang polyester merupakan keputusan yang tepat. Pasalnya, ada dua hal yang menyebabkan asosiasi mengajukan BMAD tersebut yaitu tetap ada produk dumping benang polyester dan pasok benang polyester yang sangat berlebih di China.

“Jangan sampai ada anggapan percuma ada BMAD, impornya juga tinggi. BMAD bukan untuk menekan impor. Kalau mau menekan impor lebih ke safeguard,” jelasnya kepada Bisnis.

Di sisi lain, Redma mengatakan Apsyfi dan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) telah sepakat untuk mengajukan safeguard kepada industri kain dan garmen. Menurutnya, industri hilir tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional harus diproteksi agar tumbuh.

Berdasarkan catatan API, permasalahan dalam industri TPT seharusnya tidak diselesaikan dengan penerapan BMAD namun harmonisasi produksi antar sektor untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Untuk contoh, industri benang telah memproduksi benang jauh di atas kebutuhan domestik, namun volume impor secara konsisten meningkat dari 2011.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Safeguard, Industri Tekstil

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top