Merger PTS Sepi Mahasiswa Tersendat

Jumlah perguruan tinggi swasta (PTS) yang telah dimerger hingga saat ini baru 310 PTS, jauh dari target pemerintah 1.000 PTS.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 10 Mei 2019  |  13:50 WIB
Merger PTS Sepi Mahasiswa Tersendat
Pengunjung melihat desain inovasi gerbong LRT karya mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada Science and Technopark (STP) ITS di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (17/1/2019). Peresmian STP ITS tersebut untuk mendukung inovasi dan komersialisasi teknologi, pengembangan kreasi usaha dan ekonomi dari hasil hilirisasi riset oleh dosen dan mahasiswa dalam bidang otomotif, kemaritiman, industri kreatif, permukiman dan lingkungan, ICT serta Nano Teknologi. - ANTARA/Moch Asim

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi memaksa perguruan tinggi swasta dengan jumlah mahasiswa minim untuk melebur dengan perguruan tinggi swasta lain. Namun, sampai saat ini baru 310 dari 1.000 perguruan tinggi swasta yang telah merger.

Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia Budi Djatmiko mengatakan, jumlah perguruan tinggi swasta (PTS) yang telah dimerger hingga saat ini baru 310 PTS, jauh dari target yang ditetapkan oleh pemerintah pada tahun ini sebanyak 1.000 PTS.

“Saya kira butuh perpanjangan waktu dari yang telah ditetapkan targetnya tahun ini,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (9/5/2019).

Dia meminta agar ada pemberian tambahan waktu 1 tahun yakni hingga 2020 untuk dapat menggabungkan 1.000 PTS di Tanah Air. Menurutnya, banyak kendala yang dihadapi dalam pengajuan rencana merger PTS.

Terlebih, Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) kerap memberi komentar yang kurang jelas terkait dengan proses pengajuan penggabungan program studi dan perguruan tinggi.

“Saya mengalami sendiri dalam proses penggabungan PTS, betapa kacaunya sistem yang dijanjikan Dikti. Sistem ini belum mampu memuaskan banyak pihak dari laporan yang kami terima,” katanya.

Dia menilai, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi belum memberi kemudahan proses merger. Salah satunya soal syarat kepemilikan dosen ketika sebuah prodi digabungkan.

“Kalau kecukupan dosen ketika digabungkan ini tak memenuhi ya, tetap enggak bisa dimerger. Syarat ini yang kaku,” ucap Budi.

Sementara itu, Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir mengakui proses penggabungan PTS berjalan lambat.

“Saat ini proses merger masih berjalan. Memang belum ada setengah PTS ini digabungkan, baru sekitar 300-an. Kami masih tetap mengupayakan,” ujarnya.

Penggabungan perguruan yang telah dilakukan saat ini merupakan perguruan yang program studi dan mahasiswa yang minim. Dengan digabungkan, diharapkan jumlah perguruan tinggi di Indonesia akan berkurang sehingga kualitas pendidikan dapat ditingkatkan.

Pihaknya tengah membahas skema agar proses merger 1.000 PTS ini dapat selesai pada tahun ini. Adapun, skema itu tidak hanya dilakukan perguruan tinggi di bawah satu yayasan, tetapi juga dari yayasan yang berbeda.

“Yang saat ini merger baru yang satu yayasan saja. Ini kami coba buat skema untuk yang beda yayasan agar merger cepat selesai,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perguruan tinggi

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top