Komposisi Pembangkit Listrik Tenaga Gas Diperkirakan Naik

Komposisi pembangkit listrik tenaga gas dalam bauran energi diperkirakan meningkat seiring dengan tambahan pengoperasian sejumlah pembangkit berbahan gas bumi pada 2019.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 09 Mei 2019  |  08:51 WIB
Komposisi Pembangkit Listrik Tenaga Gas Diperkirakan Naik
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Komposisi pembangkit listrik tenaga gas dalam bauran energi diperkirakan meningkat seiring dengan tambahan pengoperasian sejumlah pembangkit berbahan gas bumi pada 2019.

Berdasarkan data dari PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) yang diterima Bisnis, pembangkit listrik tenaga gas (PLTG) dan pembangkit listrik tenaga mesin dan gas (PLTMG) mendominasi jumlah pembangkit baru yang diestimasikan beroperasi pada tahun ini.

Dari proyeksi pembangkit listrik dengan total kapasitas 3.376 megawatt (MW) yang beroperasi pada 2019, sebanyak 42% atau 1.422 MW diantaranya merupakan pembangkit listrik berbahan bakar gas bumi.

Sisanya, sebesar 23% atau 800 MW merupakan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), 0,07% atau 24 MW merupakan pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBio), 2,5% atau 85 MW merupakan pembangkit listrik panas bumi (PLTP), 21% atau 718 MW pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU), 0,14% atau 5 MW pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD), dan 5,6% atau 190 MW pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian ESDM, 60,5% bauran energi primer pembangkit listrik berasal dari batu bara pada 2018. Proporsi selanjutnya disusul oleh gas bumi 22,1%, bahan bakar minyak (BBM) 5%, dan energi terbarukan sebesar 12,4%.

Executive Vice Precident Monitoring Proyek PT PLN (Persero) Anang Yahmadi mengatakan bahwa selama ini PLTG memang diperlukan pada malam hari saja ketika beban puncak (pembangkit khusus untuk beban puncak).

Namun, karena biaya produksi dari PLTG dan PLTGU yang tinggi, yakni empat kali lebih mahal dibandingkan dengan PLTU, jumlah PLTG tidak terlalu banyak. Setidaknya utilitas PLTG hanya 25% dari kapasitas terpasang.

Hanya saja, dia mengakui, PLTG diperlukan untuk memastikan keandalan listrik. PLN mengaku sanggup mengambil risiko bisnis untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat tersebut.

Selain itu, pengoperasian PLTGU dan PLTMG bertujuan untuk mengurangi sewa pembangkit oleh PLN. Sejak 2014, tren penyewaan pembangkitan terus mengalami penurunan. Selama 2018, sebanyak 2.491 MW listrik dihasilkan dari pembangkit sewa atau menurun 17% dibandingkan dengan tahun lalu.

“Yang bisa gampang buat hidup [pengoperasian pertama] kan tenaga mesin gas atau diesel,” katanya kepada Bisnis, Selasa (7/5/2019).

Direktur Bisnis Regional Jawa Bagian Tengah PT PLN (Persero) Amir Rosidin mengatakan bahwa kondisi kelistrikan Indonesia saat ini sudah makin andal dengan peningkatan cadangan listrik di setiap sistem pembangkitan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
listrik, pembangkit listrik

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top