Pengemudi Uber Ancam Mogok Kerja

Ketegangan antara pengemudi dan perusahaan ride-hailing kembali memanas. Pengemudi di kota-kota besar di seluruh Amerika Serikat (AS) dan Inggris berencana mogok pada Rabu (8/5/2019), waktu setempat, karena upah rendah dan kondisi kerja yang tidak ideal.
Nirmala Aninda | 08 Mei 2019 16:38 WIB
Ilustrasri - uber Taxi - mises.org

Bisnis.com, JAKARTA - Ketegangan antara pengemudi dan perusahaan ride-hailing kembali memanas. Pengemudi di kota-kota besar di seluruh Amerika Serikat (AS) dan Inggris berencana mogok pada Rabu (8/5/2019), waktu setempat, karena upah rendah dan kondisi kerja yang tidak ideal.

Protes yang berlangsung dalam skala global ini dijadwalkan tepat sebelum Uber Technologies Inc. melakukan penawaran saham publik perdana atau initial public offering (IPO) pekan ini.

Mengutip Bloomberg, pengendara mitra Uber di London dan kota-kota lainnya menyatakan akan mematikan aplikasi mulai pukul 07:00 pagi.

Di AS, kelompok pengemudi dari kota-kota besar seperti Boston, Los Angeles, New York, San Fransisco, dan kota lainnya mengancam akan bergabung dalam mogok kerja tersebut, dan mengajak pengguna untuk memboikot aplikasi.

Boikot di New York hanya akan berlangsung selama jam sibuk pagi hari, sedangkan kelompok pengemudi di Boston dan Los Angeles mendorong pengemudi untuk mematikan aplikasi selama sehari penuh.

"Permasalahan yang memicu protes ini adalah perselisihan yang sudah berlangsung sejak lama antara perusahaan dan pengemudi profesional, yang mengatakan platform ini telah menyulitkan mereka untuk mencari nafkah di industri ride-hailing," seperti dikutip melalui Bloomberg, Rabu (8/5/2019).

Tuntutan dari Aliansi Pengemudi Taksi New York, yang mewakili sebagian besar suara dari kelompok lain, adalah peningkatan stabilitas pekerjaan dengan mengakhiri penonaktifan secara tidak adil, meningkatkan upah pengemudi dan meningkatkan pengaturan tarif, dan menjamin komisi yang lebih besar bagi pengemudi.

Tuntutan lain adalah agar pengemudi diklasifikasikan sebagai karyawan. Jika ini dipenuhi, maka akan memberikan implikasi mendalam bagi model bisnis ride-hailing.

Protes yang dikoordinasikan pengendara Uber ini serupa dengan protes yang menimpa perusahaan rival, Lyft Inc., yang juga tengah melakukan IPO senilai US$25 miliar pada Maret.

Ketika perusahaan melakukan penawaran kepada investor, pengunjuk rasa berusaha untuk menyabotase roadshow investor, di mana para pengemudi melakukan pemogokan di San Diego dan Los Angeles.

Namun, protes yang akan dijalankan pengemudi Uber diperkirakan akan berlangsung dalam skala yang lebih besar.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
taksi uber

Editor : Tegar Arief

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup