Uber Rencanakan IPO, Penjualan Saham Lyft Merosot

Respon pasar terhadap rencana penawaran saham perdana (IPO) Uber Technologies Inc. menarik saham perusahaan ride-hailing, Lyft Inc. dengan penurunan terendah sebesar 11% pada penutupan pasar Rabu (10/4), waktu New York.
Nirmala Aninda
Nirmala Aninda - Bisnis.com 11 April 2019  |  19:53 WIB
 Uber Rencanakan IPO, Penjualan Saham Lyft Merosot
Uber Technologies Inc - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA -- Respon pasar terhadap rencana penawaran saham perdana (IPO) Uber Technologies Inc. menarik saham perusahaan ride-hailing, Lyft Inc. dengan penurunan terendah sebesar 11% pada penutupan pasar Rabu (10/4), waktu New York.

Penawaran saham Uber diperkirakan akan menjadi aksi korporasi terbesar di Amerika Serikat tahun ini. 

Menurut sumber yang familiar dengan isu ini, IPO Uber akan masuk ke dalam 10 penawaran saham terbesar sepanjang masa di mana perusahaan ini berniat untuk menggalang dana sekitar US$10 miliar.

Berdasarkan informasi yang dilansir melalui Wall Street Journal, Uber menargetkan nilai saham publik (public valuation) pada kisaran US$100 miliar.

Sementara itu, Lyft berhasil mencatatkan penggalangan dana sebesar US$2,3 miliar pada penjualan perdana bulan lalu. Kapitalisasi pasar Lyft ditutup pada posisi US$17,2 miliar.

Lyft melaksanakan perdagangan saham mereka pada Maret dan disambut meriah oleh pasar karena pada saat itu hanya ada satu perusahaan ride-hailing yang terdaftar.

Meski demikian, saham perusahaan yang didirikan pada 2012 oleh Logan Green tersebut telah turun lebih dari 16% sejak penawaran publik hari pertama. Dengan Uber yang sekarang bergabung di lantai bursa, permintaan saham Lyft kemungkinan akan semakin berkurang.

Menurut analis dari Susquehanna, Shyam Patil, peluang pasar yang substansial dan minat investor pada peluang di pasar ride-sharing yang sekuler, akan meningkatkan potensi saham Lyft.

"Namun, begitu Uber go public, mungkin pada pertengahan April, kita bisa melihat arus keluar karena investor berusaha untuk berinvestasi di Uber," kata Patil, seperti dikutip melalui Bloomberg, Kamis (11/4).

IPO Uber hanyalah satu dari segelintir masalah yang harus dihadapi Lyft, setelah beberapa kejadian tidak menyenangkan di awal periode penjualan saham karena sikap skeptis perusahaan terhadap ertumbuhan pangsa pasar, ekspansi pendapatan, dan penilaian yang positif terhadap perusahaan.

Pekan lalu IHS Markit menyatakan saham Lyft cukup bearish di pasar ekuitas Amerika Serikat. Sementara itu perusahaan analitik keuangan S3 Partners menyampaikan short interest Lyft saat ini mendekati 43% dari saham free float.

"Bayang-bayang Uber dan agenda roadshow IPO mendatang akan menjadi hambatan bagi saham Lyft karena aksi korporasi ini [Uber] sangat ditunggu oleh Wall Street," ujar Daniel Ives, seorang analis di Wedbush.

Menurut Ives, Lyft dipandang sebagai 'adik' Uber dan Wall Street khawatir bahwa rencana IPO Uber akan menempatkan Lyft dalam posisi kurang menguntungkan.

Uber berencana untuk meregistrasikan sahamnya menjadi saham publik melalui Komisi Sekuritas dan Bursa AS pada Kamis (11/4).

Menurut sumber yang tidak diidentifikasikan, perusahaan juga akan memulai roadshow investor mulai 29 April dan mulai memperdagangkan sahamnya di New York Stock Exchange pada awal Mei.

Sumber tersebut memperingatkan bahwa rencana ini masih bersifat tentatif dan tergantung dengan kondisi pasar.

Perwakilan untuk Uber menolak berkomentar. Dalam memoderasi ekspektasi valuasinya, Uber menunjukkan realisme yang kerap diadopsi oleh para unicorn Silicon Valley, karena investor pasar saham cenderung enggan berinvestasi pada saham mahal.

Selama roadshow IPO, CEO Uber Dara Khosrowshahi, akan ditugaskan untuk meyakinkan investor bahwa dia telah berhasil mengubah budaya perusahaan dan praktik bisnis setelah serangkaian skandal memalukan selama dua tahun terakhir.

Skandal tersebut ermasuk tuduhan pelecehan seksual, pelanggaran data yang disembunyikan dari regulator, penggunaan perangkat lunak terlarang untuk menghindari pihak berwenang dan tuduhan suap di luar negeri.

Uber tahun lalu melaporkan pendapatan sebesar US$11,3 miliar, sementara pendapatan kotor dari pemesanan kendaraan mencapai US$50 miliar.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
taksi uber

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup