Perang Dagang Suramkan Properti Negara Berkembang

Sejumlah negara berkembang seperti Thailand, Dubai, dan Brasil kini mengalami penurunan penjualan properti real estat hingga dua digit, tertekan oleh pelemahan pertumbuhan domestiknya.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 08 Mei 2019  |  14:01 WIB
Perang Dagang Suramkan Properti Negara Berkembang
Properti Dubai, Uni Emirat Arab - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA – Pertumbuhan ekonomi global yang kian mengkhawatirkan dan perang dagang mulai mengancam pasar negara berkembang pada 2019, salah satu yang terdampak adalah pasar properti yang diprediksi bisa kembali suram.

Sejumlah negara berkembang seperti Thailand, Dubai, dan Brasil kini mengalami penurunan penjualan properti real estat hingga dua digit, tertekan oleh pelemahan pertumbuhan domestiknya. Adapun, negara maju juga ikut terkena imbasnya, termasuk Australia, Inggris, Swiss, dan Singapura, yang membuat biaya pinjamannya relatif tetap rendah.

“Faktor penyebabnya berbeda-beda di tiap pasar, real estat misalnya akan cenderung dipengaruhi oleh sentimen lokal,” kata Todd Schubert, Head of fixed-income research di Bank of Singapore Ltd. seperti dilansir Bloomberg, Rabu (8/5/2019).

Namun, imbuh Schubert, perlambatan momentum pertumbuhan ekonomi global tetap membawa pengaruh ke pasar properti secara global yang mencegah pasar properti kembali pulih, seperti di Dubai yang terus mengalami penurunan selama bertahun-tahun.

Kendati demikian, pelemahan tidak berlaku di pasar real estat China, yang menunjukkan masih terus menghijau. Serupa di Polandia, pasar real estatnya terdorong oleh suku bunga rendah.

Di China, pertumbuhan harga rumahnya sudah mematahkan garis penurunan yang terjadi selama empat bulan. Hal itu menjadi salah satu pertanda bahwa pasar perumahannya secara menyeluruh sudah mulai kembali pulih.

Pemulihan terlihat jelas di kota-kota Tier 2 dan 3, di mana pemerintah lokalnya telah melakukan pelonggaran aturan untuk mengimbangi dan mendukung pembangunan di kota-kota kecil.

Kemudian, di Thailand, banks sentral Negeri Gajah Putih itu mengajukan rencana pada Oktober untuk memperketat syarat pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR) pada 2019 karena pemerintahnya melihat pasar perumahannya mulai menggelembung.

Colliers Internationals menyebutkan pada laporan kuartal IV/2018 bahwa jumlah pasok kondominium baru turun hingga 24% tahun ini karena properti yang tak terjual makin menumpuk. Sementara itu, Bloomberg Economics menyebutkan bahwa minat investor untuk memacu permintaan juga masih rendah.

Kemudian, di Indonesia, pasar properti di negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara kembali terjebak dalam kesulitan. Berdasarkan data Bank Indonesia, penjualan properti residensial Tanah Air mengalami kontraksi 5,78 persen pada kuartal IV/2018.

Fitch Ratings menyebutkan, kenaikan suku bunga, volatilitas mata uang, harga komoditas yang lemah, dan periode pemilihan umum membebani permintaan semester pertama tahun ini.

Fitch Ratings mengatakan, ketidakpastian pasca pemilu kemungkinan akan memiliki dampak  yang minim untuk jangka menengah pada pelaksanaan infrastruktur dan profitabilitas kontraktor, karena anggaran 2019 akan memprioritaskan pembangunan tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pasar properti, pasar properti asia

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top