Besar Potensi, Gasifikasi Batu Bara untuk Hasilkan Bahan Baku Plastik

Inaplas menyatakan penerapan teknologi gasifikasi batu bara untuk menghasilkan bahan baku plastik telah dikaji dua kali sejak 2009. Potensi penerapan teknologi ini dinilai besar mengingat batu bara dalam negeri itu rendah kalori dan memiliki kandungan methane yang tinggi.
Andi M. Arief | 08 Mei 2019 19:00 WIB
Pekerja PT Chandra Asri Petrochemical (CAP) menuangkan biji plastik (polypropylene) ramah lingkungan untuk bahan membuat kantong plastik yang mudah lapuk kembali menjadi tanah dalam tempo 4 bulan, di Cilegon, Banten, Selasa (12/11). Perusahaan petrokimia tersebut memproduksi biji plastik ramah lingkungan dengan kode Asrene SF5008E untuk dipasarkan ke semua kota Besar di Indonesia untuk mengurangi dampak buruk limbah plastik konvensional yang tidak bisa lapuk dalam ratusan tahun. - antara

Bisnis.com, JAKARTA -- Inaplas menyatakan penerapan teknologi gasifikasi batu bara untuk menghasilkan bahan baku plastik telah dikaji dua kali sejak 2009. Potensi penerapan teknologi ini dinilai besar mengingat batu bara dalam negeri itu rendah kalori dan memiliki kandungan methane yang tinggi.

Melalui teknologi gasifikasi, batu bara akan dikonversi menjadi syngas yang jadi bahan baku untuk diproses menjadi dimethyl ether (DME) sebagai bahan bakar, urea sebagai pupuk, dan polypropylene sebagai bahan baku plastik.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono mengatakan implementasi teknologi tersebut mensyaratkan pendirian tambang di dekat lokasi pendirian teknologi tersebut. Fajar menyampaikan, perkembangan teknologi gasifikasi pun berkembang pesat.

"Yang masih kendala dari masalah regulasi. Kan belum ada model [industri] CTP [coal to prophylene] di dalam negeri," ujarnya kepada Bisnis, belum lama.

Fajar menambahkan kesepakatan antara off-taker dan investor tentang teknologi dan investasi sudah hampir 100%. Namun demikian, imbuhnya, para pemangku kepentingan belum menemukan regulasi mengenai usaha gasifikasi yang dinilai sesuai dengan pada pelaku.

Adapun, teknologi gasifikasi ini dapat menyubstitusi minyak mentah menjadi batu bara sebagai bahan baku pembuatan prophylene. Fajar memproyeksikan pembangunan teknologi CTP di dalam negeri dapat menambahkan kapasitas produksi  prophylene sebanyak 400.000 ton per tahun.

Namun, sambungnya, industri plastik nasional masih akan mengimpor prophylene. Pasalnya, jika tidak ada halangan, pembangunan teknologi tersebut akan rampung pada 2023 dan tingkat konsumsi plastik akan terus naik.

"Prophylene itu [konsumsinya] 1,7 juta ton per tahun, dalam negeri baru [dapat menyediakan] sekitar 800.000 ton, jadi 900.000 ton masih impor. Kalau itu CTP dibangun akan tambah 400.000 ton lagi, jadi dalam negeri [bisa menyediakan sekitar] 1,2 juta ton. Tapi, kebutuhan kita pada 2023 akan naik jadi 2,3 juta lebih," paparnya.

Fajar berujar teknologi CTP yang biasa dipakai secara global berasal dari China. Namun, menurutnya, kini ada beberapa negara lain yang menyediakan teknologi tersebut seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Afrika Selatan.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gasifikasi batu bara

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup