Berminat Ekspansi ke Vietnam, Kimia Farma Terkendala Regulasi

PT Kimia Farma (Persero) Tbk menyatakan minat untuk melakukan ekspansi ke Vietnam dengan mengakuisisi perusahaan ritel farmasi di negara tersebut, namun menghadapi kendala regulasi.
Fatkhul Maskur | 08 Mei 2019 09:10 WIB
Konsumen melakukan transaksi di salah satu apotek Kimia Farma. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - PT Kimia Farma (Persero) Tbk menyatakan minat untuk melakukan ekspansi ke Vietnam dengan mengakuisisi perusahaan ritel farmasi di negara tersebut, namun menghadapi kendala regulasi.

Direktur Keuangan Kimia Farma IGN Suharta Wijaya mengatakan bahwa perseroan terkendala dengan regulasi di Vietnam, di mana investasi asing tidak diperbolehkan menjadi pemegang saham mayoritas.

"Tapi sekarang kami terkendalanya di regulasi setempat. Kalau kami tidak bisa mengendalikan [menjadi pemegang saham mayoritas] hilang nanti uang kami investasi di sana. Jadi tergantung regulasinya, kalau oke, kami bisa masuk tahun ini," katanya di Jakarta, Senin (6/5/2019).

Suharta menyebut potensi pasar di Vietnam sangat besar. Omzet ritel farmasi di negara tersebut bisa mencapai dua kali lipat dari Indonesia. Meski jumlah outlet mereka tidak mencapai ribuan seperti halnya di Indonesia, produktivitas per outlet disebutnya sangat bagus.

"Misalnya, satu outlet Kimia Farma sebulan [omzet] Rp1,5 miliar, dia [ritel di Vietnam] bisa sampai Rp4 miliar sebulan, itu penjualannya, makanya bagus," tuturnya.

Suharta menjelaskan saat ini perseroan telah berkomunikasi dengan dua ritel farmasi di Vietnam untuk kelanjutan rencana akuisisi.

Aksi korporasi itu ditempuh karena prospeknya yang potensial. Ia mengatakan akuisisi ritel farmasi di Vietnam diharapkan dapat memberikan kontribusi hingga 15% terhadap pendapatan perseroan.

Kimia Farma telah melakukan ekspansi dengan akuisisi perusahaan farmasi di Arab Saudi Dawaa Medical Limited Company, yang merupakan anak usaha Marei Bin Mahfouz (MBM) Group pada 2018.

"Kontribusi terhadap pendapatan sekarang masih kecil paling tidak sampai 10%. Kami harapkan naik sampai 15% [dengan akuisisi di Vietnam]," katanya.

Direktur Utama Kimia Farma Honesti Basyir menjelaskan bahwa ada dua perusahaan yang sedang dibidik perseroan untuk diakuisisi, yakni perusahaan ranking satu dan ranking tiga di bidang ritel farmasi di negara tersebut.

"Kami masih coba pelajari aturannya, regulasinya, apakah farmasi ini termasuk dalam Daftar Negatif Investasi (DNI) seperti di Indonesia sehingga tidak boleh asing mayoritas. Kami sedang pelajari ini," tuturnya.

Kimia Farma mengalokasikan belanja modal sebesar Rp4,2 triliun pada 2019. Sebanyak Rp2,5 triliun akan digunakan untuk mendukung pertumbuhan bisnis organik. Sementara sisa Rp1,7 triliun akan digunakan untuk mendukung bisnis nonorganik.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri farmasi, kimia farma, apotek

Sumber : Antara

Editor : Fatkhul Maskur

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup