Setelah Protokol Manggis dan Buah Naga, Jangan Lupa Nanas dan Salak

Berdasarkan data Trade Map, nilai ekspor buah manggis segar yang tergabung dalam kode harmonized system (HS code) 0804 menuju China mencapai US$10,74 juta pada 2018.
Yustinus Andri DP | 29 April 2019 11:06 WIB
Pembeli memilih buah nenas madu di Kampung Blang Bebangka, Pegasing, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh, Minggu (26/3). - Antara/Rahmad

Bisnis.com,, JAKARTA — Indonesia dan China telah menyepakati protokol manggis dan buah naga, untuk mendukung aktivitas ekspor kedua komoditas tersebut dari Tanah Air ke Negeri Panda. Namun, eksportir buah mendorong agar kerja sama perdagangan didorong untuk komoditas lain termasuk nanas, salak, dan pisang.

Ketua Umum Asosiasi Eksportir-Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia (Aseibssindo) Khafid Sirotuddin mengatakan, pemerintah perlu menambah jumlah buah asal RI untuk dikerjasamakan dengan China. Sebab, menurutnya, protokol yang telah dijalin Indonesia dengan China di komoditas manggis dan buah naga belum cukup dan masih bisa ditingkatkan.

“Kita punya buah nanas kaleng yang produksinya besar sekali dan kontinuitas produksinya terjaga. Belum lagi ada komoditas potensial ekspor lain seperti salak, pisang dan ubi-ubian. Tetapi komoditas itu belum mendapatkan akses khusus ke China, padahal pasar di negara itu besar sekali,” jelasnya, Minggu (28/4).

Menurutnya, potensi ekspor buah-buahan seperti nanas kaleng sangat besar lantaran produksinya tiap tahun mencapai 7 juta ton dan dapat terus ditingkatkan produksinya. Di sisi lain, nanas kaleng Indonesia memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan negara produsen lain seperti Thailand dan Vietnam.

Untuk itu dia berharap pemerintah turut membentuk protokol kerja sama dengan China terhadap komoditas-komoditas buah asal RI tersebut. Pasalnya, menurutnya, apabila dibandingkan dengan manggis yang menurut data Kementerian Pertanian produksinya hanya 3 juta ton per tahun, potensi ekspor dari sektor nanas kaleng, pisang, salak ke China bisa mencapai tiga kali lipat dari manggis.

Hanya saja, salah satu persoalan yang cukup menghambat potensi ekspor komoditas selain manggis dan buah naga ke China adalah ketentuan Good Agricultural Practices (GAP) yang kurang berpihak pada buah-buahan tropis. Dia menyebutkan, ketentuan dalam GAP selama ini lebih banyak didasarkan pada buah nontropis.

Selain itu, komoditas buah tropis asal Indonesia juga masih mengalami kendala dalam hal kualitas dan kandungan pestisida yang dinilai terlalu tinggi di negara lain. Kondisi itu membuat buah-buahan RI kesulitan mendapatkan izin ekspor dari negara tujuan, seperti Negeri Panda.

“Maka dari itu, perluasan protokol kerja sama ini penting untuk menjamin keberlangsungan ekspor kita ke negara tujuan. Di sisi lain, pemerintah juga perlu mengembangkan perkebunan untuk buah-buahan potensial namun belum kontinu produksinya seperti pisang dan salak. Supaya ketika dibuka akses pasarnya, volume ekspornya termaksimalkan,” ujarnya.

Adapun, sebelumnya, dalam kunjungannya ke China, Wakil Presiden Jusuf Kalla menyaksikan penandatanganan protokol kerja sama dagang berupa impor China terhadap buah naga dan manggis dari Indonesia (Bisnis, 25/9). Penandatanganan itu dilakukan oleh Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dan Menteri Bea Cukai China Ni Yue Feng

Penandatanganan protokol kerja sama itu merupakan tindak lanjut dari pembukaan kembali keran impor manggis China dari Indonesia yang dilakukan akhir 2017. Adapun, China kembali membuka keran impor manggis dari Indonesia setelah sempat ditutup pada 2014 karena tingginya kandungan zat kimia komoditas itu dari RI.

Selain itu, dalam sesi penandatanganan tersebut, Menlu Retno juga meminta kepada pemerintah China untuk memperluas akses impor produk nanas dari RI. Hal itu diharapkan dapat dilakukan Negeri Panda, setelah Indonesia memfasilitasi impor jeruk mandarin dari negara tersebut selama ini.

Terpisah, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan Iman Pambagyo mengatakan, pemerintah masih terus melobi agar protokol kerja sama serupa diberlakukan pada produk buah-buahan tropis lain asal Indonesia. Hal itu diharapkan dapat membantu menekan defisit neraca perdagangan dengan China.

“Kami masih upayakan perluasan kerja sama ekspor buah kita ke China, karena potensinya besar,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
hortikultura, ekspor buah

Editor : Demis Rizky Gosta

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top