Perantau Andalkan Moda Kapal untuk Mudik ke Pulau Jawa

Tahun ini, perantau yang berasal dari Pulau Jawa dan Pulau Sulawesi yang akan mudik Lebaran 2019 ke Pulau Jawa, sebagian besar beralih menggunakan jasa kapal laut. Oleh karenanya, angkutan lanjutan dari pelabuhan sangat dibutuhkan.
Rinaldi Mohammad Azka | 28 April 2019 23:24 WIB
Sejumlah penumpang turun dari Kapal Pelni Bukit Raya Jakarta saat berlabuh di Gapura Surya Nusantara Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Senin (4/7). Sedikitnya 102 kapal telah melayani sekitar 80 ribu pemudik dan penumpang di pelabuhan tersebut sejak H-18 hingga H-2 Lebaran. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Tahun ini, perantau yang berasal dari Pulau Jawa dan Pulau Sulawesi yang akan mudik Lebaran 2019 ke Pulau Jawa, sebagian besar beralih menggunakan jasa kapal laut. Oleh karenanya, angkutan lanjutan dari pelabuhan sangat dibutuhkan.

Wakil Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno memproyeksikan pemudik melalui jalur laut paling besar menuju pulau Jawa. Harga tiket pesawat udara yang melambung tidak terkendali menyebabkan pilihan untuk beralih moda, terutama yang perantau yang selama ini bermukim di Kalimantan dan Sulawesi. 

"Sejumlah pelabuhan yang berada di Pontianak, Kumai, Sampit, Banjarmasin, Balikpapan, Samarinda, Tarakan dan Nunukan di Kalimantan menjadi asal keberangkatan para perantau itu. Ada juga yang berangkat dari Makassar dan Pare Pare," ungkapnya, Minggu (28/4/2019).

Dengan begitu, Pelabuhan Tanjung Emas di Semarang dan Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya menjadi tujuannya perantau menggunakan kapal laut.  Menurutnya, selama ini sudah disediakan angkutan lanjutan ke beberapa kabupaten/kota di Jatim dan Jabar, sinergi BUMN PT Pelindo dan Perum Damri, bisa juga melibatkan PT Jasa Raharja untuk menyediakan angkutan lanjutan yang murah, nyaman dan aman bagi pemudik yang memakai kapal laut. 

"Tahun ini jumlah armada bus itu harus ditambah, baik di Pelabuhan Tanjung Emas maupum Pelabuhan Tanjung Perak. Harus dihindari beroperasinya angkutan umum pelat hitam yang sering merugikan pemudik dengan tarif semaunya," tuturnya. 

KSOP katanya, sebagai penguasa di pelabuhan harus mengawasi keberadaan angkutan pelat hitam tersebut agar dilarang beroperasi di dalam wilayah pelabuhan.  Dia melanjutkan dapat pula disediakan angkutan lanjutan wajib di beberapa simpul transportasi di daerah, seperti terminal dan stasiun dan tidak menyerahkan angkutan lanjutan pada roda dua dan roda dua daring. 

"Pemda sudah saatnya menata transportasi umum di daerah masing-masing. Penyelenggaraan angkuran umum merupakan kewajiban pemda yang selama ini terabaikan," jelasnya.

Badan Litbang Perhubungan memprediksi pemudik tahun 2019 sekitar 18,2 juta orang. Jumlah itu berasal dari Banten, Jabodetabek dan Bandung Raya. Pasalnya ketiga wilayah ini menjadi bangkitan pemudik terbesar di Indonesia yang paling banyak perantaunya.

Dari ketiga wilayah itu terdapat sekitar 4,5 juta rumah tangga.  Tujuan pemudik yang berasal dari Jabodetabek terbanyak ke Jawa Tengah 5,6 juta (37,68%), Jawa Barat 3,7 juta (24,89%) dan Jawa Timur 1,7 juta (11,14%).

Moda pilihan terbesar menggunakan mobil pribadi 4,3 orang (28,9%), bus ekonomi 2,4 juta (16,1%) dan bus eksekutif 2,1 juta (23,9%). Pemudik yang memilih memakai bus tertinggi, yakti 4,5 juta orang (30%), mobil pribadi 4,3 juta orang (28,9%), KA 2,5 juta orang (16,7%), pesawat udara 1,4 juta orang (9,5%), sepeda motor 942 ribu orang (6,3%).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kapal, mudik lebaran, angkutan laut

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top