Menteri Susi : Do Nothing, Have Nothing

Saat memperingati Hari Kartini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bercerita tentang perjuangannya membangun bisnis pada masa lalu hingga ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai pejabat.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 27 April 2019  |  12:14 WIB
Menteri Susi : Do Nothing, Have Nothing
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (kedua kanan) memakai topi dari bahan sampah laut hasil kreasi nelayan setempat di Bangsring, Banyuwangi, Jawa Timur, Selasa (2/4/2019). - ANTARA/Budi Candra Setya

Bisnis.com, JAKARTA– Saat memperingati Hari Kartini, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bercerita tentang perjuangannya membangun bisnis pada masa lalu hingga ditunjuk Presiden Joko Widodo sebagai pejabat.

Menurut Susi, meskipun seorang perempuan, sejak remaja ia sudah bertekad untuk mandiri. Susi mengisahkan dirinya yang merasa tidak cocok dengan sistem sekolah, akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah di kelas 2 SMA.

Meskipun dirinya merasa tidak cocok dengan sistem sekolah, bukan berarti sekolah tidak cocok untuk semua orang. Untuk itu,  Susi tidak menyarankan generasi muda menjadikan dirinya sebagai alasan untuk tidak melanjutkan sekolah.

Dia sadar dirinya tak bisa terus bergantung kepada keluarga dan orangtua, maka Susi pun memulai merintis bisnis. Mulai dari menjadi pengepul ikan di Pangandaran dengan modal awal hanya Rp750.000.

“Kalau saya do nothing, have nothing, saya tidak bisa mandiri. Saya tidak bisa melakukan apa yang saya mau dan mendapatkan apa yang saya mau karena masih bergantung pada orang tua. Keinginan untuk mandiri membuat saya memutuskan saya harus bisa menghasilkan uang sendiri, karena finansial itu sangat berpengaruh pada kemandirian,” kata Susi dalam siaran resmi Sabtu (27/4/2019).

Menggeluti bisnis perikanan selama kurang lebih 30 tahun membuat dirinya paham bahwa ikan dengan nilai jual tertinggi adalah ikan dalam keadaan segar. Kemudian disusul added value product, ikan beku, ikan kaleng, ikan asap, ikan pindang, dan ikan asin. Namun, terbatasnya akses transportasi menjadi masalah besar dalam pemasaran produk perikanan segar.

Bisnis Jangka Panjang

Maka itu, Susi berharap masyarakat termasuk perempuan untuk ikut serta dalam dunia bisnis, namun harus tetap memperhatikan keberlanjutan.

“Kadang-kadang pengusaha pikir peraturan ini bikin susah mereka. Padahal, justru kita mempertahankan keberlanjutan bisnis dan mengupayakan bisnis bertahan dalam jangka panjang,” imbuh Susi.

“Kita semua, anak-anak muda telah mengerti tentang lingkungan, teknologi, dan keberlanjutan. Kita peduli. Kita harusnya tahu ketika kita menetapkan pembatasan dan aturan pada pemanfaatan renewable nature resources, hasil satu-satunya adalah produktivitas yang lebih baik,” terangnya.

Generasi Muda

Susi pun menginginkan agar bisnis generasi muda tidak hanya berorientasi kepada hasil yang dapat diambil, melainkan juga produktivitas dalam jangka panjang. Inilah yang dapat mengantar bangsa pada pilar kesejahteraan.

“Produktivitas penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis, untuk menjaga keberlanjutan pendapatan yang terus menerus, menjaga keuntungan. Tanpa keberlanjutan, bisnis kalian akan berhenti dan keuntungan yang didapat juga akan berhenti,” tegas Susi.

Ia meminta, sebagai generasi cerdas penerus bangsa agar masyarakat milenial berpikir kelestarian untuk masa depan dan generasi selanjutnya. Sebab, menurut Susi, generasi mendatang akan dihadapkan pada konflik kecukupan pangan dan energi seiring dengan bertumbuhnya populasi dunia, sehingga sumber daya perikanan sebagai salah satu sumber pangan dan protein akan menjadi rebutan.

“Pemenuhan protein diet supply termurah adalah laut. Tapi, laut kalau tidak dijaga, bisa rusak. Untuk itu kita perlu menghentikan ekstraktif dan eksploitasi berlebihan,” pungkas Susi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kementerian kelautan dan perikanan, hari kartini, Susi Pudjiastuti

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top