Bank Indonesia Pertahankan BI 7DDR 6%. Ini Video Streamingnya

Bank Indonesia hari ini, Kamis (25/4/2019), menggelar rapat dewan Gubernur Bank Indonesia untuk memutuskan besaran BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR).
Hadijah Alaydrus/Sutarno | 25 April 2019 17:14 WIB
Loading the player ...

Bisnis.com, JAKARTA -  Bank Indonesia hari ini, Kamis (25/4/2019), menggelar rapat dewan Gubernur Bank Indonesia untuk memutuskan besaran BI 7-day Reverse Repo Rate (BI7DRR).

Tahun ini, Bank Indonesia tetap pada pendiriannya untuk mempertahankan BI7DDR di level 6%. Apakah angka itu masih dipertahankan? Ikuti laporannya di sini.

17:13 WIB

BI: Belum Saatnya Turunkan Suku Bunga

Defisit transaksi berjalan yang berpotensi tertekan pada kuartal II/2019 dan pemburukan performa ekspor akibat penurunan ekonomi global menjadi sandungan bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga. 

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menuturkan indikator kondisi global yang lebih ramah bagi prospek aliran modal masuk asing. Selain itu, BI melihat Fed Fund Rate (FFR) diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga pada tahun dan tahun depan. 

"FFR tidak jadi naik, tapi ekonomi global menurun sehingga kita perlu mendorong ekspor," ujar Perry.

Sementara itu, indikator pertumbuhan ekonomi cukup baik didorong oleh konsumsi dan investasi. Namun, BI memandang permintaan domestik masih perlu diperkuat agar PDB terus meningkat. 

Dari indikator inflasi, BI menegaskan laju inflasi terkendali. BI meyakini inflasi 2019 akan berada di kisaran sasaran, yakni di bawah 3,5%.

Posisi rupiah yang bergerak pada kisaran Rp14.200-14.000 per dolar AS dinilai cukup stabil. Namun, Perry mengungkapkan nilainya masih undervalued. 

Faktor lainnya seperti cadangan devisa dinilai cukup kuat. Aliran dana asing pada kuartal I/2019 mencapai US$5,5 miliar. 

Di antara faktor tersebut, BI masih melihat risiko kenaikan defisit transaksi berjalan pada kuartal kedua akibat faktor musiman didorong oleh pembayaran bunga dividen. 

"Musiman pada kuartal II/2019, defisit transaksi berjalan memang bergerak naik, tapi kami pastikan akan di bawah 3%," ungkap Perry. 

Di sisi lain, Perry menegaskan pihaknya akan memantau stabilitas eksternal pada bulan-bulan berikutnya untuk memastikan neraca pembayaran keseluruhan dapat surplus. 

"Kami ingin pastikan pada kuartal II/2019, neraca pembayaran akan surplus," tegasnya. 

16:22 WIB

Transaksi Uang Elektronik Tumbuh 78 Persen 

Pembayaran tunai tumbuh positif, dengan Uang Yang Diedarkan (UYD) tumbuh 5,6% (yoy) pada Maret 2019, sedangkan pembayaran non tunai secara konsisten terus meningkat.

Penggunaan ATM-Debit, Kartu Kredit dan Uang Elektronik (UE) tumbuh 17,1% (yoy) pada Februari 2019, diantaranya UE yang mengalami pertumbuhan mencapai 77,6% (yoy).

Penggunaan ATM-Debit mendominasi transaksi sistem pembayaran ritel dengan pangsa 94,8% dan pertumbuhan 16,6% (yoy).

Sementara itu, penggunaan UE di e-commerce terus meningkat di Februari 2019, didorong oleh pergeseran preferensi pembayaran dan preferensi atas barang yang dibeli via e-commerce.

Bank Indonesia mendorong perluasan program elektronifikasi penyaluran bansos, dana desa, moda transportasi, dan operasi keuangan Pemerintah sehingga dapat memperkuat peran sistem pembayaran dalam mendukung kegiatan ekonomi.

Bank Indonesia juga memastikan kecukupan pasokan uang kertas dan logam dalam pecahan dan jumlah yang memadai di seluruh NKRI dalam rangka menghadapi Ramadhan/Idul Fitri 1440 H.

16:05 WIB

CAR Tinggi di 23,4%, NPL Terjaga

Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan Februari 2019 tetap tinggi yakni 23,4% dan disertai rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap rendah yakni 2,6% (gross) atau 1,2% (net).

Dari fungsi intermediasi, pertumbuhan kredit pada Februari 2019 tercatat 12,1% (yoy), stabil dibandingkan dengan pertumbuhan kredit Januari 2019 sebesar 12,0% (yoy).

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Februari 2019 sebesar 6,6%, meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan Januari 2019 sebesar 6,4%. Likuiditas perbankan terjaga, antara lain tercermin pada rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 22,3% pada Februari 2019.

Sementara itu, kinerja korporasi go public membaik tercermin dari peningkatan keuntungan dan kemampuan membayar kewajiban yang sejalan dengan peningkatan aktivitas.

Ke depan, Bank Indonesia memandang pertumbuhan kredit akan terus berlanjut tanpa mengganggu stabilitas sistem keuangan. Hal ini mempertimbangkan siklus kredit yang berada di bawah level optimum di tengah prospek permintaan domestik yang meningkat. Bank Indonesia memprakirakan kredit perbankan.

15:54 WIB

Nilai tukar Rupiah Diyakini Stabil

Nilai tukar Rupiah pada 23 April 2019 tercatat menguat 1,17% secara point to point dibandingkan dengan akhir Maret 2019 dan 0,58% secara rerata dibandingkan dengan rerata Maret 2019.

Bila dibandingkan dengan level 2018, nilai tukar Rupiah juga menguat 2,17% secara point to point dan 0,80% secara rerata. Perkembangan ini tidak terlepas dari perkembangan aliran masuk modal asing yang besar ke pasar keuangan domestik, termasuk aliran masuk ke pasar saham yang berlanjut pada April 2019.

Ke depan, sejalan prospek sektor eksternal yang membaik didorong prospek perekonomian domestik yang tetap positif dan ketidakpastian pasar keuangan yang berkurang, Bank Indonesia memandang nilai tukar Rupiah akan stabil dengan mekanisme pasar yang tetap terjaga baik.

Untuk mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar dan memperkuat pembiayaan domestik, Bank Indonesia terus mengakselerasi pendalaman pasar keuangan, khususnya di pasar uang dan valas.

15:35 WIB

CAR Tinggi di 23,4%, NPL Terjaga

Rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan Februari 2019 tetap tinggi yakni 23,4% dan disertai rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap rendah yakni 2,6% (gross) atau 1,2% (net).

Dari fungsi intermediasi, pertumbuhan kredit pada Februari 2019 tercatat 12,1% (yoy), stabil dibandingkan dengan pertumbuhan kredit Januari 2019 sebesar 12,0% (yoy).

Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) pada Februari 2019 sebesar 6,6%, meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan Januari 2019 sebesar 6,4%. Likuiditas perbankan terjaga, antara lain tercermin pada rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 22,3% pada Februari 2019. Sementara itu, kinerja korporasi go public membaik tercermin dari peningkatan keuntungan dan kemampuan membayar kewajiban yang sejalan dengan peningkatan aktivitas.

Ke depan, Bank Indonesia memandang pertumbuhan kredit akan terus berlanjut tanpa mengganggu stabilitas sistem keuangan. Hal ini mempertimbangkan siklus kredit yang berada di bawah level optimum di tengah prospek permintaan domestik yang meningkat. Bank Indonesia memprakirakan kredit perbankan.

15:27 WIB

Nilai tukar Rupiah Diyakini Stabil

Nilai tukar Rupiah pada 23 April 2019 tercatat menguat 1,17% secara point to point dibandingkan dengan akhir Maret 2019 dan 0,58% secara rerata dibandingkan dengan rerata Maret 2019.

Bila dibandingkan dengan level 2018, nilai tukar Rupiah juga menguat 2,17% secara point to point dan 0,80% secara rerata. Perkembangan ini tidak terlepas dari perkembangan aliran masuk modal asing yang besar ke pasar keuangan domestik, termasuk aliran masuk ke pasar saham yang berlanjut pada April 2019.

Ke depan, sejalan prospek sektor eksternal yang membaik didorong prospek perekonomian domestik yang tetap positif dan ketidakpastian pasar keuangan yang berkurang, Bank Indonesia memandang nilai tukar Rupiah akan stabil dengan mekanisme pasar yang tetap terjaga baik.

Untuk mendukung efektivitas kebijakan nilai tukar dan memperkuat pembiayaan domestik, Bank Indonesia terus mengakselerasi pendalaman pasar keuangan, khususnya di pasar uang dan valas.

15:23 WIB

Neraca Pembayaran Kuartal I/2019 Surplus

Prospek Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) ini dipengaruhi prakiraan defisit tansaksi berjalan yang berkurang dan surplus transaksi modal dan finansial yang cukup besar.

Prospek perbaikan defisit transaksi berjalan didukung peningkatan surplus neraca perdagangan yakni dari 0,33 miliar dolar AS pada Februari 2019 menjadi 0,54 miliar dolar AS pada Maret 2019. Peningkatan surplus dipengaruhi oleh kenaikan pada neraca perdagangan nonmigas dan penurunan defisit neraca perdagangan migas.

Sementara itu, surplus transaksi modal dan finansial cukup besar didukung aliran masuk modal asing yang sampai dengan Maret 2019 tercatat 5,5 miliar dolar AS. Dengan perkembangan ini, posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2019 mencapai 124,5 miliar dolar AS, setara dengan pembiayaan 7,0 bulan impor atau 6,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Ke depan, sinergi kebijakan tetap difokuskan pada upaya memperkuat ketahanan eksternal. Langkah untuk memperkuat ekspor, termasuk peningkatan kinerja sektor pariwisata, dan mengendalikan impor akan terus ditempuh sehingga defisit transaksi berjalan 2019 dapat menuju kisaran 2,5% PDB. Kebijakan juga diarahkan untuk menarik aliran masuk modal asing untuk membiayai defisit transaksi berjalan.

15:19 WIB

Batas Kliring Dinaikkan, Underlying US$5 Juta Dihapus

Bank Indonesia meningkatkan batas maksimal Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) dari Rp500 juta menjadi Rp 1 Miliar.

Selain itu, untuk Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) BI membebaskan transaksi dana US$5 juta dari kewajiban underlying.

Perry Warjiyo menuturkan operasi moneter sejak akhir 2018 ada operasi moneter dua arah: kontraksi bank-nak yang kelebihan likuiditas dan injeksi bank-bank yang kekurangan likuiditas. Ini mampu menekan kenaikan suku bunga kredit dan akan dilanjutkan tahun ini.

BI, katanya,  mengubah asumsi tentang kenaikan suku bunga The Fed. Ekonomi yang melemah dan inflasi yang rendah di Amerika Serikat. "BI yakin FED tak akan menaikkan suku bunga tahun ini dan tahun depan."

Untuk neraca pembayaran, defisit transaksi berjalan Kuartal I/2019 akan lebih rendah dari Kuartal IV/2018.

14:50 WIB

6 Jurus BI Tingkatkan Permintaan Domestik

Selain mempertahankan BI7DDR 6%, BI juga menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.

Untuk mendorong permintaan domestik Bank Indonesia memperluas kebijakan yang lebih akomodatif dengan 6 kebijakan:

1.Meningkatkan ketersediaan likuiditas dan mendukung pendalaman pasar keuangan melalui penguatan strategi operasi moneter;
2.Mendorong efisiensi pembayaran ritel melalui perluasan layanan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia/SKNBI (penambahan waktu dan percepatan setelmen, peningkatan batas nominal transaksi, dan penurunan tarif);
3.Mendorong sisi supply transaksi Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), khususnya melalui penyederhanaan ketentuan kewajiban underlying transaksi;
4.Mendorong implementasi penyelenggara sarana pelaksanaan transaksi di pasar uang dan pasar valas (market operator);
5.Mengembangkan pasar Surat Berharga Komersial (SBK) sebagai alternatif sumber pendanaan jangka pendek oleh korporasi;
6.Mendorong perluasan elektronifikasi bansos non tunai, dana desa, moda transportasi, dan operasi keuangan pemerintah.

14:34 WIB

BI7DDR 6,00 Persen Dipertahankan

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia memutuskan tetap mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) sebesar 6,00%, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75%.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan keputusan ini ditetapkan dengan melihat semua data-data terkait dengan inflasi, pertumbuhan ekonomi dan sistem keuangan di dalam negeri serta perkembangan global. 

“Keputusan tersebut konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas eksternal perekonomina khsusunya untuk mengendalikan defisit transaksi berjalan ke dalam batas yang aman dan mempertahankan daya tarik aset keuangan domestik," tegas Perry dalam paparan, Kamis (25/04/2019).

Keputusan BI tersebut sejalan dengan proyeksi ekonom dan pasar yang memperkirakan suku bunga acuan bank sentral akan tetap berada di level 6%. 

Adapun, posisi cadangan devisa cukup kuat mencapai US$124,5 miliar per Maret 2019. Ini setara dengan pembiayaan 7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. 

Untuk memperkuat stabilitas eksternal, BI akan terus menempuh upaya untuk mengarahkan defisit transaksi berjalan mengarah 2,5%. BI meyakini pembiayaan defisit transaksi berjalan dapat ditopang oleh investasi portofolio serta investasi langsung. 

Terkait dengan rupiiah, BI melihat rupiah ke depannya akan bergerak stabil. Dalam menjaga stabilitas rupiah, Perry menegaskan BI akan terus melakukan akselerasi pendalaman pasar keuangan baik di pasar valas dan pasar uang. 

Laju inflasi, menurut BI, tetap terkendali di level yang rendah. BI melihat adanya perlambatan inflasi inti, sementara tantangan inflasi berada di sisi administered prices terkait dengan harga tiket angkutan udara. 

 

Tag : bank indonesia, BI Rate
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Hot Topic

Top
Tutup