Pasar Batu Bara di China Masih Prospektif

Harga batu bara acuan (HBA) April 2019 dengan nilai kalori 6.322 kcal/kg GAR ditetapkan senilai US$88,85 per ton atau turun 1,9 persen dari HBA Februari 2019 senilai US$90,57 per ton.
Lucky Leonard
Lucky Leonard - Bisnis.com 23 April 2019  |  11:22 WIB
Pasar Batu Bara di China Masih Prospektif
Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatra Selatan, Kamis (3/1/2019). - ANTARA/Nova Wahyudi

Bisnis.com, JAKARTA--Pasar batu bara di China diyakini masih prospektif bagi Indonesia meskipun permintaan diprediksi akan berangsur-angsur turun dalam jangka panjang.

Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Hendra Sinadia mengatakan dalam kunjungannya ke China beberapa waktu lalu, sejumlah importir masih melihat Indonesia sebagai negara utama pemasok batu bara. Menurutnya, hal tersebut menjadi sinyal positif bagi para produsen batu bara dalam Indonesia.

"Mereka masih melihat positif sih untuk batu bara dari Indonesia. Jadi perkiraannya memang pasar China cukup prospektif untuk beberapa waktu ke depan," katanya kepada Bisnis, Senin (22/4/2019).

Meskipun begitu, dalam jangka panjang Negeri Tirai Bambu tersebut memang akan terus mengurangi konsumsi batu bara kalori rendahnya, termasuk dari Indonesia. Perlu diketahui, Indonesia sebagai eksportir terbesar batu bara thermal, memiliki cadangan yang didominasi oleh batu bara kalori menengah dan rendah.

"Mungkin secara bertahap untuk kalori rendah mereka mengurangi, tapi tidak langsung berkurang secara penuh," ujarnya.

Sementara itu, terkait terus tertundanya pasokan batu bara Australia ke China, Hendra menyatakan kondisi tersebut hanya bisa dimanfaatkan oleh beberapa negara yang kualitas batu baranya sama dengan Australia. Dua di antaranya adalah Rusia dan Mongolia.

Adapun tertundanya pasokan batu bara dari Australia tersebut menjadi sentimen negatif terhadap harga batu bara kalori tinggi. Meskipun Indonesia hanya memiliki sedikit batu bara kalori tinggi, sentimen tersebut membuat indeks harga batu bara secara keseluran ikut tertekan.

"Dampaknya memang lebih ke kalori tinggi yang terus tertekan. Indeks jadi ikut terdorong turun," katanya.

Berdasarkan data dari Kementerian ESDM, harga batu bara acuan (HBA) April 2019 dengan nilai kalori 6.322 kcal/kg GAR ditetapkan senilai US$88,85 per ton atau turun 1,9 persen dari HBA Februari 2019 senilai US$90,57 per ton.

Meskipun penurunan tersebut tidak signifikan, sejak September 2018, HBA terus terkikis dan belum pernah mencetak kenaikan bulanan. Terakhir kali HBA mencetak kenaikan bulanan pada Agustus 2018 ketika bertengger di level US$107,83 per ton.

Tren penurunan yang panjang tersebut membuat rata-rata HBA dalam empat bulan pertama tahun ini 'hanya' senilai US$90,91 per ton, jauh dari rata-rata HBA sepanjang tahun lalu yang mencapai US$98,96 per ton.

Nilai HBA April 2019 tersebut sekaligus menjadi yang terendah sejak Agustus 2017. Kala itu, HBA ditetapkan senilai US$83,97 per ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ekspor batu bara

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup