Hari Bumi: Pengembang Harus Bangun Hunian Ramah Lingkungan

Saat ini lebih dari 100 bangunan dan gedung di Indonesia yang telah menerima sertifikasi bangunan hijau, dan lebih dari 3.000 bangunan dan gedung telah memenuhi standar bangunan gedung hijau, dengan cakupan area seluas lebih dari 20 juta meter persegi.
Putri Salsabila
Putri Salsabila - Bisnis.com 22 April 2019  |  18:13 WIB

Bisnis.com, JAKARTA -- Perubahan suhu dan iklim yang semakin ekstrim dari tahun ke tahun memberikan bukti perubahan bumi yang semakin krisis. Pengembang pun mulai bangun kawasan Ramah lingkungan untuk perbaiki bumi salah satunya dengan membangun hunian green building.

Iwan Prijanto, Chairperson dari Green Building Council Indonesia mengatakan Green Building menjadi sebuah gerakan untuk menciptakan sebuah kehidupan 'kelanjutan peradaban manusia kedepan.’

Adapun hingga saat ini lebih dari 100 bangunan dan gedung di Indonesia yang telah menerima sertifikasi bangunan hijau, dan lebih dari 3.000 bangunan dan gedung telah memenuhi standar bangunan gedung hijau, dengan cakupan area seluas lebih dari 20 juta meter persegi.

"Para pelaku bangunan dan properti perlu untuk segera beralih menuju bangunan pintar, ini bukan persoalan market tetapi keberlangsungan peradaban manusia kedepan," ujarnya pada Bisnis belum lama ini.

Iwan memaparkan bahwa apabila kenaikan suhu bumi rata-rata naik sebanyak 1,5 derajat celcius, maka populasi global panas ekstrim akan mencapai 14 persen. Kemudian apabila kenaikannya menjadi 2 derajat celcius maka bisa menciptakan panas global sebanyak 37 persen yang mengakibatkan semakin tinggi perubahan iklim ekstrim terjadi.

Hal ini akan mengakibatkan kondisi minim air, dan menjadi keadaan yang ekstrim di beberapa tempat di dunia. Berdasarkan CUP 24 di Polandia bahwa suhu bumi kemungkinan besar segera mencapai suhu ini. Apabila suhu bumi naik menjadi 1,5 derajat celcius di Indonesia maka keadaan terumbu karang 90 persen dalam kondisi terancam.

"Pengembang akan terus membangun, namun dipastikan pengembang akan tetap mengikuti pasar (kurang condong membangun green building). Mungkin dianggap demand pasar masih belum terbentuk besar, sehingga para pengembang masih mementingkan market yang lebih membutuhkan sesuai pangsa pasarnya," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
green building

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top