Permintaan Obligasi Aramco Capai US$85 miliar

Perusahaan milik negara ini kemungkinan akan menawarkan yield setara atau lebih rendah dari obligasi negara.
Nirmala Aninda | 09 April 2019 16:09 WIB
Saudi Aramco - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan minyak terbesar dunia asal Arab Saudi, Aramco, mencatatkan permintaan dari penerbitan obligasi perdana sebesar US$85 miliar. Perusahaan milik negara ini kemungkinan akan menawarkan yield setara atau lebih rendah dari obligasi negara.

Kondisi dimana imbal hasil obligasi perusahaan lebih rendah dari obligasi negara jarang terjadi dan permintaan di pasar mencerminkan selera investor yang kuat untuk surat utang berkualitas tinggi.

Bagi Arab Saudi dan Aramco, keberhasilan awal dalam penjualan obligasi menandai perputaran yang luar biasa setelah investor, bankir Wall Street dan perusahaan besar lainnya sempat mengecam negara kerajaan tersebut pasca kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Berdasarkan pernyataan pemerintah Amerika Serikat, 16 warga negara Arab Saudi telah masuk daftar hitam terkait keterlibatan mereka dalam pembunuhan Kashoggi.

Krisis ekonomi, termasuk pelemahan harga minyak mentah, menyandera ekonomi Arab Saudi tahun lalu hingga awal 2019. Dengan perlambatan ekonomi ini, sejumlah investor memilih untuk menarik uang mereka dari pasar lokal.

Saat ini, situasinya sudah berubah, ditopang oleh pertumbuhan harga jual minyak hingga lebih dari US$70 per barel dari US$50 per barel pada Desember.

"Mengingat peluang yang dimiliki investor untuk memiliki aset perusahaan secara langsung jika dibandingkan dengan obligasi negara, serta kondisi utang perusahaan yang cukup rendah, volume permintaan sudah dapat dipastikan akan menumpuk. Kondisinya dapat menjadi lebih intens," ujar kolumnis Bloomberg, Marcus Ashworth, seperti dikutip melalui Bloomberg pada Selasa (9/4/2019).

Penawaran Aramco ini adalah salah satu aksi korporasi yang paling ditunggu tahun ini, sebuah langkah ekspansi pertama di pasar obligasi internasional bagi perusahaan.

Di saat Qatar, rival mereka di Timur Tengah, menjual obligasi sebesar US$12 miliar pada awal tahun ini, Arab Saudi berhasil mencatatkan pesanan hingga US$50 miliar sebagai bukti bahwa minat investor terhadap surat utang negara kaya penghasil minyak tersebut sangat tinggi.

Menurut orang-orang yang memiliki informasi terkait aksi korporasi ini, Aramco mencatatkan rekor pemesanan obligasi mencapai US$40 miliar pada saat penjualan dimulai.

Penawaran obligasi sebagian besar dianggap sebagai rencana B pemerintah Arab Saudi untuk menyerap dana guna melancarkan agenda ekonomi mereka, setelah IPO Aramco yang sebelumnya dijadwalkan pada 2018 tertunda sampai dengan 2021.

Akibatnya, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman menggunakan neraca perusahaan untuk mendukung ambisinya.

"Sebagai bagian dari debut perusahaan di pasar obligasi global, Aramco menawarkan obligasi yang terdiri dari enam jenis dari tenor 3 tahun sampai dengan 30 tahun," ujar beberapa narasumber yang familiar dengan isu ini.

Aramco diperkirakan akan menyerap dana antara US$10 miliar - US$15 miliar dengan harga akhir yang akan diumumkan pada Selasa (9/4), siang waktu London.

Bank yang mendistribusikan obligasi ini mengatakan, Aramco diperkirakan akan membayar 1,25 basis poin lebih tinggi dari tresuri Amerika Serikat bertenor 10 tahun, dibadingkan dengan obligasi Arab Saudi yang diperjual-belikan pada kisaran 1,27 basis poin.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
saudi aramco, Obligasi

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup