Usaha Penggilingan Meredup, Produksi Gabah Turut Susut

Terbatasnya produksi gabah nasional ditengarai akibat meredupnya industri penggilingan padi. Pasalnya penggilingan kecil harus bersaing dengan yang kecil di pasar yang sama.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 18 Maret 2019  |  18:19 WIB
Usaha Penggilingan Meredup, Produksi Gabah Turut Susut
Penggilingan beras - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Terbatasnya produksi gabah nasional ditengarai akibat meredupnya industri penggilingan padi. Pasalnya penggilingan kecil harus bersaing dengan yang kecil di pasar yang sama.

Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) mencatat total kapasitas penggilingan padi yang mencapai 200 juta ton gabah per tahun, sedangkan produksi padi per tahun hanya 56,5 juta ton.

Berdasarkan data Perpadi, total usaha penggilingan padi nasional mencapai 182.000 unit, dengan penggilingan besar sebanyak 2.000 unit, penggilingan sedang 8.000 unit, dan terbanyak penggilingan kecil 172.000 unit. Namun dengan terbatasnya produksi nasional mengakibatkan penggilingan padi kecil 40%—60% tidak operasional lagi akibat berebut.

Pengamat pertanian dari Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Husein Sawit menilai kondisi tersebut saling mempengaruhi satu sama lain. Lesunya pertumbuhan industri penggilingan ikut memengaruhi peningkatan produksi gabah nasional.

"Keberadaan Industri Penggilingan Padi [IPP] sangat bergantung pada pertumbuhan industri padi, dimana gabah sebagai bahan baku utama. Dengan kata lain, gabah merupakan salah satu pendorong pertumbuhan IPP. Pertumbuhan IPP pun dapat menarik pertumbuhan industri padi, yang akan berdampak pada petani," ungkap Husein, belum lama ini.

Husein mengatakan total kapasitas yang terpakai oleh IPP hanya 36% sedangkan sisanya menganggur. Kebanyakan idle capacity dimiliki oleh IPP berskala kecil yang hanya mampu menggiling 1,5 ton gabah/jam. Menurutnya penggilingan kecil itu tidak bisa bersaing dalam hal modal untuk menyerap maupun menyimpan dalam waktu lama.

Husein menilai kondisi tersebut diperparah dengan kebijakan pemerintah yang menentukan harga eceran tertinggi beras di hilir. Tapi membebaskan petani untuk menjual gabah tanpa batasan.

"Kalau kebijakan [HET beras dan harga yang harus stabil] tidak dikoreksi, maka IPP berada dalam stagnasi. Tidak akan ada investasi baru karena daya saing juga rendah," katanya. Hal ini berpengaruh pada kualitas beras yang dihasilkan dan juga tingkat rendemen giling. Padahal menurut Husein, IPP harus diperkuat untuk meningkatkan kualitas produksi nasional.

Husein pun menambahkan penggunaan beras masih terfokus pada konsumsi rumah tangga. Kalau saja produksi bisa meningkat dan industri diperkuat, industri hilir yang memanfaatkan limbah padi pun bisa terbangun.

"Kalau idle capacity bisa digunakan pengaruh ekonominya akan luar biasa. Setidaknya menhasilkan gabah 2x lipat daripada sekarang atau 100 juta ton," katanya.

Husein pun menawarkan solusi untuk memperbaiki IPP yaitu dengan menerapkan pola kerjasama antara IPP besar dengan yang kecil. Sehingga antar keduanya tidak saling memakan karena berada di pasar yang sama.

"Buat kebijakan yang mensinergikan antara IPP besar dan kecil. Penggilingan kecil itu sampai beras pech kulit kemudian diolah oleh IPP besar. Jadi yang besar tidak masuk ke gabah dan persaingan tidak saling mengancam. Kalau di lempar ke mekanisme pasar tidak bisa, tapi dengan kebijakan yang ada insentif pasti mau," pungkasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
produksi beras, penggilingan padi

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top