Bank Indonesia: Risiko Global 2019 Muncul Dari Perdagangan

Bank Indonesia menegaskan upaya mendorong performa ekspor dan mencari pasar baru dinilai penting di tengah risiko global yang akan masuk melalui kanal perdagangan pada tahun ini.
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 04 Maret 2019  |  13:43 WIB
Bank Indonesia: Risiko Global 2019 Muncul Dari Perdagangan
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyampaikan konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur di Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Kamis (21/2/2019). - ANTARA/Sigid Kurniawan

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia menegaskan upaya mendorong performa ekspor dan mencari pasar baru dinilai penting di tengah risiko global yang akan masuk melalui kanal perdagangan pada tahun ini. 

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menuturkan kondisi global pada tahun ini masih dinilai kurang ramah bagi Indonesia. Jika tahun lalu ancaman datang dari sisi pasar keuangan (financial channel), Perry melihat ancaman kali ini berasal dari sisi perdagangan (trade channel).

"Risiko global bergerak dari financial channel sekarang trade channel. Makanya kita harus antisipasi dan kita hadapi bersama," papar Perry, Senin (04/03/2019).

Menurut Perry, dua negara yang akan ekonominya akan mengalami ancaman dan turut mempengaruhi Indonesia adalah AS dan China. 

Pertumbuhan ekonomi AS pada tahun ini diperkirakan hanya akan mencapai 2,3% atau turun dibandingkan tahun sebelumnya 2,9%. Sementara itu, ekonomi AS diperkirakan hanya akan tumbuh 2% pada tahun depan. 

Salah satu penyebabnya adalah pemerintahan Presiden Trump yang tidak bisa lagi melakukan injeksi stimulus fiskal sehingga menyebabkan timbulnya government shutdown atau berhentinya kegiatan administrasi negara. Faktor lain adalah perang dagang antara AS dan China. 

Pelemahan ini akan mempengaruhi pasar ekspor Indonesia ke AS yang didominasi oleh produk manufaktur seperti garmen dan mesin-mesin. 

"Maka ada implikasinya karena memang AS masih pasar terbesar oleh karena itu kita harus lebih giat menembus pasar AS dan juga mencari pasar-pasar lain," ungkap Perry. 

Demikian pula dengan China, Perry menuturkan perekonomian Negeri Tirai Bambu ini akan mengalami perlambatan pada tahun ini menjadi 6,3% dari sebelumnya 6,6% tahun lalu. Dulu China sangat kuat, namun perekonomiannya mengalami levaraging sehingga pemerintahnya harus melakukan restrukturisasi di BUMN dan sektor keuangan atau delevaraging. 

Oleh karena itu, pertumbuhan ekonominya menurun. China mencoba mendorong stimulus moneter untuk mendorong permintaan domestiknya, tetapi kurang kuat. Di tengah kondisi ini, China dihantam perang dagang dengan AS. Alhasil, perekonomiannya dipastikan akan mengalami perlambatan. 

Posisi China tersebut, kata Perry, akan mempengaruhi ekspor komoditas Indonesia, terutama komoditas. Padahal, China merupakan pasar ekspor komoditas terbesar dari Tanah Air. 

Melihat kondisi ini, Perry berharap semua pihak tidak menyerah dan tetap melihat peluang dari kondisi China tersebut.  "Apa peluangnya yang bisa dilihat dari menurunnya ekonomi China adalah terjadinya relokasi industri dari China ke berbagai daerah," papar Perry. 

Perang dagang sebenarnya pernah terjadi antara Jepang dan AS pada tahun 1980-an sehingga Jepang akhirnya melakukan restrukturisasi dalam bidang industri dan keuangannya. Oleh karena itu, Jepang merelokasi industrinya ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.  "Itu terjadi sehingga dalam istilah akademis ada teori angsa terbang," kata Perry. 

Tidak hanya Jepang, Korea Selatan ketika mengalami krisis Asia pada 1997-1998 melakukan relokasi industri ke Asia Tenggara. 

Perry menegaskan kondisi global dengan pelemahan di dua negara tujuan utama ekspor tersebut jangan dijadikan alasan untuk mengeluh tidak bisa melakukan ekspor. 

"Justru bagaimana Indonesia bisa mendatangkan investasi dari barang yang tadinya kita impor, misalnya negara yang tadinya kita ekspor batu bara atau nikel agar mau membangun smelter dan lain-lain untuk value added," ujar Perry. 

Upaya ini tengah dijalankan pemerintah bersama-sama dengan semua pihak. Terbukti, dia menuturkan beberapa seperti smelter nikel dan investasi baterai litium mulai masuk ke Morowali.

Perry menuturkan pihaknya mendengar perusahaan China juga akan masuk ke konstruksi serta keuangan digital. Dia menegaskan kondisi ini harus dimanfaatkan di tengah penurunan ekonomi global, khususnya China.  "Mari kita tangkap untuk berbagai bidang!," ujar Perry. 

Selain upaya menangkap peluang di atas, Perry berharap upaya mencari pasar baru ke arah Asia Selatan tetap didorong, terutama di bidang konstruksi dan permesinan. Contohnya adalah ekspor gerbong kereta ke Bangladesh dan India atau investasi di bidang konstruksi di wilayah Afrika. 

Ketika ekonomi dunia melambat didorong oleh pelemahan pertumbuhan ekonomi China dan AS, setidaknya Indonesia memiliki pasar-pasar baru. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia

Editor : Fajar Sidik
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top