Pembangkit Substitusi Batu Bara Diuji Coba

PT Indonesia Power bersama PT PLN (Persero) PUSLITBANG dan PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat melakukan uji coba co-firing Refused Derived Fuel (RDF) dengan batubara di PLTU Jeranjang.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 28 Februari 2019  |  12:53 WIB
Pembangkit Substitusi Batu Bara Diuji Coba
ilustrasi: Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Bantar Gebang di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (15/1/2019). - ANTARA/Risky Andrianto

Bisnis.com, JAKARTA-- PT Indonesia Power bersama PT PLN (Persero) PUSLITBANG dan PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat melakukan uji coba co-firing Refused Derived Fuel (RDF) dengan batubara di PLTU Jeranjang.

Metode RDF adalah alternatif untuk mengurangi pemakaian batubara dengan menerapkan metode co-firing, dengan cara mensubstitusi sebagian batubara dengan bahan bakar renewable pada ratio tertentu dengan tetap memperhatikan kualitas bahan bakar sesuai kebutuhan.Metode Co-firing ini sendiri telah umum dilakukan oleh sejumlah PLTU batubara di Eropa dan Amerika.

Saat ini, menurut data kementeriam ESDM hingga akhir tahun lalu, dalam bauran energi primer pembangkit listrik, 60,5% di antaranya masih berbasis batubara.

Untuk mengantisipasi menipisnya pasokan atau ketersediaan batu bara, sehingga perlu adanya langkah konkrit dalam mereduksi pemakaian bahan bakar tersebut.

Sripeni Inten Cahyani Direktur Utama Indonesia Power dalam keterangan resminya Kamis (28/2/2019) menyebut di Indonesia teknologi ini masih jarang ditemui, padahal potensi adanya bahan bakar lain yang dapat digunakan sebagai bahan substitusi batubara cukup melimpah, seperti sampah atau yang dikenal dengan konsep Waste to Energy (WTE).

"Saat ini persentase pellet RDF yang digunakan sampai dengan 5% dari kebutuhan bahan bakar PLTU Jeranjang.  Program mengelola sampah domestic menjadi pellet RFD bisa menjadi campuran bahan bakar PLTU Batubara.

Uji coba dilakukan pada tanggal 19-20 Februari 2019 pada beban 25 MW dengan tahapan hari pertama uji operasional dan hari kedua uji stabilitas selama 5 jam. Hasil ujicoba menunjukan hasil yang positif dimana sebagian besar parameter operasi dalam batas aman dan emisi gas buang yang didapat juga dalam batas normal, ini adalah yang pertama di Indonesia.

Seperti yang kita ketahui sampah merupakan material yang jumlahnya cenderung meningkat dari waktu ke waktu. Sampah domestik memiliki nilai kalor sekitar 1.000 kkal/kg, lebih rendah dibandingkan jerami padi (2.400 kkal/kg) atau sekam (3.000 kkal/kg).

Nilai kalori sampah dapat ditingkatkan dengan cara pemprosesan menjadi pellet RDF dengan memanfaatkan bioactivator sehingga bau sampah akan hilang serta volume sampah akan mengendap dan lapuk hingga 50%.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pembangkit listrik

Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top