Gapkindo Optimistis Kebijakan Pengaturan Ekspor, Mampu Dongkrak Harga Karet

Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) optimistis dengan adanya kesepakatan pengaturan jumlah ekspor karet di antara ketiga negara anggota International Tripartite Rubber Council (ITRC) sebesar 200-300 ribu metrik ton dalam waktu tiga bulan ke depan, akan mampu mendongkrak harga karet alam.
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 26 Februari 2019  |  07:10 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (Gapkindo) optimistis dengan adanya kesepakatan pengaturan jumlah ekspor karet di antara ketiga negara anggota International Tripartite Rubber Council (ITRC) sebesar 200-300 ribu metrik ton dalam waktu tiga bulan ke depan, akan mampu mendongkrak harga karet alam.

Pasalnya, Ketua Umum Gapkindo, Moenardji Soedarto, stok karet alam dunia saat ini menurut perhitungan ITRC saat ini sekitar 2,5 juta metrik ton. Jumlah tersebut ekuivalen dengan konsumsi dunia yang hanya bertahan hingga dua bulan ke depan.

"Nah dengan itu maka kenapa harga karet masih sangat rendah, ini pasti ada yang tidak benar. Pasar terbuai dengan stigma yang salah. Oleh karena itu maka diputuskan ada 200-300 ribu ton kita kurangi ekspornya untuk tiga bulan ke depan, agar bereaksi," tuturnya di Kemenko Perekonomian, Senin (25/2/2019).

Pihaknya pun tetap optimistis kebijakan yang diambil ITRC tersebut juga akan efektif, meskipun saat ini Vietnam, sebagai salah satu negara yang juga produsen karet besar belum bergabung dalam ITRC.

"Meskipun Vietnam belum masuk ITRC, ya nggak masalah. Kita di tiga negara ini sudah 60%. Tapi nanti pelan pelan pemerintah juga akan undang Vietnam untuk diajak duduk bersama," ujarnya. 

Seperti diketahui bahwa untuk mengatasi harga karet alam yang berada di level rendah sepanjang 2018 hingga awal 2019, pemerintah mengeluarkan tiga kebijakan utama yakni jangka pendek, menengah, dan panjang. 

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan bahwa tiga kebijakan itu diwujudkan dengan mengatur jumlah ekspor karet alam (jangka pendek), peningkatan penggunaan karet alam di dalam negeri (jangka menengah), dan peremajaan atau replanting karet alam (jangka panjang). 

Menurutnya tiga kebijakan itu merupakan keputusan dari Special Ministerial Committee Meeting of the International Tripartite Rubber Council (ITRC) yang diinisiasi tiga negara produsen karet, yakni Indonesia, Malaysia, dan Thailand, di Bangkok, Thailand pekan lalu.

Darmin menerangkan bahwa upaya jangka pendek yang dilakukan sebagai bentuk implementasi AETS, disepakati untuk mengurangi ekspor dari ketiga negara tersebut sebesar 200-300 ribu Metric Ton (MT), untuk jangka waktu tiga bulan ke depan. 

Kemudian, implementasi AETS perlu dilanjutkan dengan mekanisme DPS, sebagai kebijakan jangka menengah, guna meningkatkan konsumsi domestik secara signifikan di masing-masing negara. 

"Di Indonesia sendiri, utilisasi karet alam terdapat pada proyek-proyek infrastruktur, seperti jalan provinsi dan kabupaten yang tersebar di seluruh negeri, damper jalur rel, pemisah jalan, bantalan jembatan, dan vulkanisir ban," ujarnya. 

Selain itu, pemerintah juga berkomitmen melanjutkan dan memperbaiki implementasi replanting karena berperan penting dalam pencapaian titik keseimbangan antara supply dan demand karet alam dengan mengakselerasi penanaman kembali atau replanting karet alam. 

“Inti dari SMS adalah replanting. Di Indonesia, yang sudah dilakukan Kementerian Pertanian yakni dari lahan replanting sejumlah 60% itu ditanami karet, dan sisanya ditanami tanaman lain, semisal kakao, hortikultura, dan sebagainya. Ini untuk mengatasi oversupply karet," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga karet, gapkindo

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top
Tutup