MRT Sedot Listrik 65 Megawatt

PT Perusahaan Listrik Negara Disjaya memperikarakan kebutuhan konsumsi listrik untuk operasional transportasi massal atau mass rapid transit (MRT) di koridor I, yakni Lebak Bulus hingga Bundaran HI mencapai 65 megawatt (MW).
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 10 Februari 2019  |  21:14 WIB
MRT Sedot Listrik 65 Megawatt
Petugas menaiki kereta Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta fase I koridor Lebak Bulus - Bundaran HI yang sedang diuji coba di Jakarta, Kamis (7/2/2019). - ANTARA/Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA — PT Perusahaan Listrik Negara Disjaya memperikarakan kebutuhan konsumsi listrik untuk operasional transportasi massal atau mass rapid transit (MRT) di koridor I, yakni Lebak Bulus hingga Bundaran HI mencapai 65 megawatt (MW).

Ikhsan Assad, General Manager PLN Disjaya, menuturkan bahwa pihaknya juga sedang membicarakan dengan tim MRT dengan perkiraan tambahan untuk rute fase II hingga Jakarta kota sebesar 50 MW.  Suplai listrik untuk MRT dari Lebak Bulus ke HI akan sebesar 65 MW. Beban listrik MRT ini diperkirakan hanya sekitar 1% dari tingkat konsumsi listrik Ibu Kota saat beban puncak yakni 5.200 MW per hari.

Menurutnya, kesiapan arus listrik untuk operasional MRT akan optimal kendati di Ibu Kota terjadi pemadaman listrik. Pasalnya, MRT tergolong dalam kategori pelanggan premium sehingga akan dipasok dari 2 gardu induk, yakni dari Pondok Indah dan Centrale Stichting Wederopbouw, CSW, dekat Kejaksaan Agunng Terlebih, kata dia, MRT juga akan memiliki gardu induk tersendiri yang terletak di bawah tanah.

“Jadi kalau salah satu sistemnya gagal akan langsung pindah di Sambas. Instalasi di dalam mrt, Itu gardu induk pertama di Indonesia,”ungkapnya Jumat (10/2/2019).

Kereta Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta dijadwalkan beroperasi secara komersial pada pertengahan Maret 2019.

Saat ini, PT MRT Jakarta tengah melakukan testing and commissioning atau uji coba persinyalan untuk setiap kereta MRT yang melewati rute fase I Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia (HI). Baru para pejabat seperti Presiden RI Joko Widodo, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Gubernur DKI Anies Baswedan, dan Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetio Edi Marsudi yang telah menjajal kereta canggih buatan Jepang tersebut.

Dalam uji coba, waktu tempuh dari Bundaran HI menuju Lebak Bulus hanya 15 menit. Namun, target tersebut dapat dicapai dengan catatan kereta melaju dengan kecepatan 80 km/jam-90 km/jam dan tidak berhenti di stasiun.Dengan demikian, waktu tempuh tersebut akan lebih lama jika kereta MRT beroperasi sesuai prosedur penumpang.

"Nanti, waktu tempuh rute fase I sepanjang 16 km sekitar 30 menit. Kereta akan berhenti di 13 stasiun,"ungkap Direktur Utama PT MRT, William Sabandar.

Sebagai informasi, fase I MRT Jakarta Lebak Bulus-Bundaran HI akan menggunakan 16 rangkaian kereta. Masing-masing rangkaian terdiri dari 6 kereta sehingga total kereta yang bakal digunakan berjumlah 96 unit.

Satu kereta dapat menampung sekitar 200-300 penumpang. Satu rangkaian kereta MRT dapat mengangkut maksimal 1.800 penumpang.

Sebelumnya, presiden Joko Widodo menyatakan tarif kereta mass rapid transit (MRT) berkisar Rp8.000-Rp9.000. Pernyataan itu disampaikan oleh Presiden seusai menjajal kereta MRT dengan rute Stasiun Bundaran Hotel Indonesia menuju Depo MRT Lebak Bulus sepanjang 16 kilometer. Menurut Jokowi, MRT akan menciptakan efisiensi bagi masyarakat.

Jokowi menegaskan MRT harus dapat terintegrasi dengan moda transportasi lainnya seperti kereta ringan (light rail transit/LRT), kereta bandara, bus Transjakarta, bus Kopaja sampai angkutan kota (angkot).

Dengan terintegrasinya angkutan umum tersebut, ditambah kebijakan lain seperti electronic road pricing (ERP), Presiden berharap kemacetan lalu lintas dapat berkurang. Di samping itu, penggunaan mobil pribadi di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi juga dapat berkurang.

Proyek ini pun diharapkan akan beroperaisonal pada Maret 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
mrt

Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top