Kunjungan Taman Wisata Berpotensi Naik 10%

Pelaku usaha optimistis pertumbuhan kunjungan wisatawan ke taman wisata dapat meningkat hingga 10%. Hal tersebut seiring dengan semakin kuatnya kinerja ekonomi.
M. Richard
M. Richard - Bisnis.com 07 Februari 2019  |  20:13 WIB
Kunjungan Taman Wisata Berpotensi Naik 10%
Wisatawan melintasi area Golden Spider atau Laba-Laba Emas di kawasan Taman WIsata Candi (TWC) Borobudur, Jawa Tengah, Minggu (23/12/2018). - ANTARA/Anis Efizudin

Bisnis.com, JAKARTA -- Pelaku usaha optimistis pertumbuhan kunjungan wisatawan ke taman wisata dapat meningkat hingga 10% pada tahun ini. Hal tersebut seiring dengan semakin kuatnya kinerja ekonomi.

Sekretaris Eksekutif Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Gunawan Wibisono menyebutkan kinerja ekonomi merupakan salah satu patokan bahwa akan semakin banyaknya kegiatan yang masyarakat lakukan, termasuk rekreasi ke taman wisata. Adapun, tahun ini pemerintah mematok pertumbuhan 5,3%, lebih tinggi dari realisasi 5,17% tahun ini.

"Atas dasar itu, kami melihat pertumbuhan kunjungan tahun ini bisa meningkat sampai 10%. Ekonomi tumbuh dan masyarakat memiliki lebih banyak kesempatan untuk berekreasi," katanya, Kamis (7/2/2019).

Sayangnya, Putri tidak memiliki data terkait dengan jumlah kunjungan wisatawan ke taman wisata. Namun, jumlah kunjungan akan sama dengan jumlah kunjungan wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara.

Adapun, pada 2019 Kementerian Pariwisata menargetkan kunjungan 20 juta kunjungan wisman dan 275 juta kunjungan wisnus. 

Gunawan mengatakan pelaku usaha taman wisata sudah mulai banyak mendapat dukungan dari pemerintah daerah tempatnya beroperasi.

Dukungan tersebut, baik berupa promosi di khalayak ramai, maupun pemanfaatan taman rekreasi sebagai tempat berkumpul keluarga bagi karyawan-karyawan di instansi pemerintah daerah.

Selain itu, katanya pelaku usaha taman rekreasi saat ini sudah semakin gencar menawarkan banyak promosi untuk menggaet wisatawan, baik berupa potongan harga maupun berupa paket-paket wisata terintegrasi dengan pelaku industri pariwisata lainnya, seperti hotel atau restoran.

Meski demikian, Gunawan mengatakan pelaku usaha hanya mengkhawatirkan terjadinya cuaca buruk dan bencana alam. Faktor ini tidak dapat diprediksi dan dapat membuat kunjungan turun drastis secara seketika.

"Contoh, yang di Banten kemarin. taman wisata dan hotel di sana sudah banyak dipesan. Tetapi setelah ada tsunami, semuanya kan langsung batal," ujarnya.

Adapun, Gunawan mengatakan Jawa memiliki lebih dari 800 taman wisata. Jika ditambah dengan taman wisata yang ada di pulau lainnya, maka jumlahnya akan lebih dari 1.000 taman wisata. 

Kunjungan setiap taman wisata cukup beragam, mulai dari 500.000/tahun hingga 20 juta/ tahun.

Gunawan yang juga menjabat sebagai Kepala Humas dan Marketing Taman Mini Indonesia Indah ini menyebut perusahaan juga berhasil meningkatkan kunjungan 10% tahun lalu, dan optimistis mencetak pertumbuhan yang sama tahun ini.

"Tahun lalu kami berhasil mencetak 6 juta kunjungan, tahun ini kami ditantang lagi untuk mencetak pertumbuhan yang setidaknya sama," katanya.

Dia menuturkan pencapaian tahun ini akan didukung oleh semakin banyaknya kegiatan yang dilakukan manajemen di area taman wisata, baik berupa pameran-pameran, atau kegiatan lain resmi lainnya.

Gunawan berharap dengan kegiatan yang semakin banyak dilakukan akan mendorong tamu-tamu undangan untuk tertarik berkunjung ke taman-taman rekreasi.

Optimisme yang sama juga dinyatakan oleh Direktur Pemasaran Jawa Timur Park Gorup Titik Ariyanto. Meski pada 2018 masih belum menyentuh pertumbuhan kunjungan hingga 10%, tetapi tahun ini perusahaan akan berupaya untuk menembus target tersebut.

"Kami berhasil menyentuh angka kunjungan 2 juta per tahun. Tahun ini akan kami genjot dan tumbuh 10% atau lebih, katanya.

Bahkan, Titik mengatakan pertumbuhan kunjungan kali ini akan mulai datang dari kunjungan wisatawan mancanegara. Pasalnya, perusahaan secara reguler mempromosikan Jatim Park di 10 majalah internasional, dan bahkan menawarkan potongan harga yang lebih besar ketimbang wisatawan nusantara.

"Porsi kunjungannya masih sangat kecil, belum sampai 1%, tapi kami harapkan akan ada peningkatan. Kami masih terus berusaha untuk itu," katanya.

Selain itu, perusahaan juga akan semakin gencar melakukan promosi kepada instansi pemerintah, sekolah, dan perusahaan swasta.

Dengan begitu, Titik berharap perusahaan dapat mengoptimalkan kunjungan wisatawan yang ada di daerahnya. 

Di lain pihak, Head of Corporate Secretary Tp Pembangunan Jaya Ancol Tbk Agung Praptono mengatakan perusahaan hanya menargetkan pertumbuhan 5%. Namun, angka tersebut sudah cukup baik karena perusahaan akan menembus angka 20 juta kunjungan.

Dia menuturkan peningkatan kunjungan dikontribusi dari wahana-wahana baru yang telah beroperasi sejak 2017. Wahana baru tersebut a.l. 4 wahana baru di Dunia Fantasi, 2 wahana baru di Ocean Dream Samudera, penambahan biota baru di Seaworld Ancol, dan penambahan fasilitas di Putri Duyung Ancol.

"Wahana-wahana baru itu akan menjadi tumpuan kami meningkatkan jumlah kunjungan," katanya.

Meski tidak terlalu banyak mengharapkan pertumbuhan kunjungan, tetapi perusahaan lebih fokus pada peningkatan belanja pengunjung. Persuahaan berharap satu pengunjung mengunjungi lebih banyak wahana dan berbelanja dalam satu kali kunjungannya.

Agung mengatakan, selain melakukan promosi dengan menjalin kerjasama dengan pelaku industri pariwisata lainnya, perusahaan juga semakin gencar memanfaatkan promosi melalui media sosial.

Menurutnya, media ini cukup baik karena dapat menyampaikan pesan langsung kepada kaum mileneial, yang diharapkan mampu menarik orang-orang di sekitarnya untuk ikut berkunjung.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pariwisata

Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top