Libur Imlek Tak Cukup Dorong Kunjungan Wisatawan

Momentum libur Imlek 2019 diperkirakan tidak akan mampu berkontribusi banyak dalam menambah jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara.
Yustinus Andri DP | 05 Februari 2019 17:22 WIB
Pria berkostum Dewa Rejeki (tengah) membagikan angpao pada warga setelah pelaksanaan sembahyang tahun baru Imlek 2570 di Klenteng Hong San Ko Tee, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (5/2/2019). Bagi-bagi angpao itu merupakan salah satu tradisi yang dilakukan saat perayaan tahun baru Imlek. - Antara

Bisnis.com, JAKARTA — Momentum libur Imlek 2019 diperkirakan tidak akan mampu berkontribusi banyak dalam menambah jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara.

Pelaksana tugas (Plt) Ketua Umum  Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies /Asita) Budijanto Ardiansjah menjelaskan, minat berpelesir wisatawan mancanegara (wisman) dan wisatawan nusantara (wisnus) pada periode libur Tahun Baru China 2570 tidak akan setinggi tahun lalu.

Meskipun perayaan Imlek tahun ini jatuh pada Selasa (5/2), Budijanto memprediksi minat wisnus untuk mengambil cuti untuk berlibur pada Senin (4/2/2019) tidak tinggi.

“Memang ada hari ‘kejepit’ yang bisa dimanfatkan oleh masyarakat untuk mengambil cuti sehingga liburannya panjang. Namun, hal ini tidak akan [berpengaruh] terlalu signifikan karena ada beberapa hal yang menghalangi minat bepergian masyarakat,” tuturnya kepada Bisnis.com, pekan ini.

Dia berpendapat, rendahnya minat turis domestik untuk berpelesir saat libur Imlek salah satunya disebabkan oleh kenaikan harga tiket pesawat. Di sisi lain, dia melihat, mayoritas masyarakat telanjur membelanjakan uangnya dan jatah liburnya untuk  periode libur Natal 2018 dan Tahun Baru 2019.

Menurutnya, wisnus cenderung memilih untuk berwisata ke daerah yang dekat dengan kediamannya dan hanya dilakukan pada hari libur saja. Dia memperkirakan, kota-kota besar seperti Bandung, Bogor, dan Yogyakarta akan menjadi tujuan melancong wisnus saat libur Imlek tahun ini.

Di sisi lain, Budijanto memproyeksikan angka kunjungan wisman saat libur Imlek tahun ini juga tidak akan setinggi tahun lalu. Menurutnya, kunjungan wisman paling banyak saat sincia biasanya ditorehkan oleh turis asal China.

Namun, seiring dengan perlambatan ekonomi Negeri Panda, dia meyakini minat berwisata penduduknya pun menurun.

“Perlambatan ekonomi di China kami perkirakan sangat berpengaruh ke tingkat kunjungan mereka ke Indonesia. Berdasarkan laporan yang saya dapat, hingga saat ini belum ada tanda-tanda lonjakan tamu dari China,” lanjut dia.

Menurut analisisnya, wisatawan China lebih banyak yang mengalihkan kunjungan wisatanya saat libu Imlek ke negara lain. Pasalnya, citra Indonesia di mata wisman China telah turun lantaran kasus ‘zero dollar tour’ yang merebak di Bali pada tahun lalu.

Budijanto mengatakan, wisatawan China cenderung memilih destinasi pelesir dengan biaya yang murah. Dalam hal ini, Indonesia dinilai kalah murah apabila dibandingkan dengan Filipina maupun Vietnam dan Thailand.

Dengan demikian, dia tidak yakin kunjungan wisman Tiongkok pada libur Imlek 2019, akan mampu melampaui capaian pada Februari 2018 yang menembus 214.485 wisman. Para pengusaha sektor pariwisata pun harus bekerja ekstra keras untuk mencapai taget pemerintah dalam menggaet 200.000 kunjungan wisman China saat Imlek.

Secara terpisah, Sekretaris Eksekutif Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) Gunawan Wibisono memperkirakan, jumlah kunjungan wisatawan ke tempat rekreasi saat libur Imlek tidak akan naik signifikan.

“Perkiraan kami ada kenaikan menjadi 10.000—20.000 kunjungan wisman di berbagai tempat rekreasi di seluruh Indonesia. Jumlah itu tergolong wajar,  atau sama seperti ketika libur Sabtu dan Minggu atau tanggal merah lainnya yang hanya berlangsung satu hari,” jelas dia.

Sementara itu, terkait dengan tingkat kunjungan wisman China tahun ini, dia memprediksi kenaikan baru terjadi menjelang perayaan Cap Go Meh 2019.

“Kunjungan wisman China perkiraan kami akan lebih banyak dilakukan di daerah-daerah seperti Singkawang atau Manado, sehingga potensi kunjungan wisman ke tempat rekreasi di sekitar dua daerah itu akan mengalami kenaikan.”

WISATA SEJARAH

Pada kesempatan berbeda, Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia (ICPI) Azril Azahari menyebutkan, lokasi-lokasi wisata yang memiliki keterkaitan sejarah dengan China selama ini belum digarap dengan baik oleh pemerintah. Akibatnya, Indonesia gagal memanfaatkan peluang dari kunjungan wisman yang memiliki budaya primordialisme yang tinggi.

“Selama ini baru Singkawang dan Palembang yang rutin menggelar acara dan menggarap dengan baik kebudayaan etnis China untuk menarik [kunjungan] wisman. Selain itu, [destinasi lainnya] tidak [digarap] maksimal, sehingga yang dikunjungi wisman China selama ini hanya destinasi wisata alam seperti Bali atau Manado,” jelasnya.

Padahal, ujarnya, minat wisman China untuk menelusuri jejak leluhurnya di Indonesia sangat besar. Terlebih penduduk negara tersebut memiliki budaya berkunjung ke rumah saudara dan lokasi peninggalan lelurhurnya saat libur Tahun Baru.

Dia berpendapat, Indonesia sebenarnya memiliki cukup banyak daerah yang kental dengan budaya Tionghoa seperti Semarang, Cirebon, Tangerang dan beberapa daerah lain yang sempat menjadi persinggahan pedagang China pada masa lampau.

“Uang pemerintah selama ini lebih banyak dihabiskan untuk promosi dibandingkan dengan mengembangkan dan memoles destinasi wisata yang dimiliki. Akibatnya, banyak potensi yang akhirnya terbengkalai,” ujar dia.

Sekadar catatan, Kementerian Pariwisata menargetkan 200.000 kunjungan wisman asal China selama Februari dalam rangka perayaan Imlek dan Cap Go Meh.

Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Regional I (Great China) Kemenpar Vinsensius Jemadu mengatakan, Februari merupakan salah satu periode puncak kunjungan wisman China.

Sejumlah destinasi favorit wisman China a.l. Bali, Manado, Batam, Bintan, dan Jakarta. Sehubungan dengan itu,  Kemenpar pun telah menyiapkan paket wisata bertema Imlek yang akan dilakukan di daerah-daerah tersebut.

“Dari paket Imlek yang kami jual— untuk paket di Bali—kami targetkan menyumbang 50.000—75.000 wisman. Lalu, Batam 20.000 wisman, Bintan 35.000 wisman, Manado setiap bulan sudah mencapai 10.000 wisman, dan Jakarta 15.000 wisman. Minimal 200.000 wisman China datang ke Indonesia selama Februari,” ujarnya, seperti dikutip dari keterangan resminya.

Pada perkembangan lain, target pemerintah untuk mencapai target 17 juta kunjungan wisman tahun lalu terbukti gagal. Laporan BPS pekan lalu menyebutkan, total kunjungan wisman pada 2018 hanya menyentuh 15,81 juta kunjungan.

Bagaimanapun, Ketua Umum Asosiasi Penguasaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan, upaya yang dilakukan pemerintah pada 2018 sebenarnya sudah cukup baik.

Meski demikian, dia juga mengeluhkan strategi pemasaran yang dilakukan Kemenpar. Padhal, pelaku industri pariwisata sudah menyiapkan banyak paket yang bisa diobral untuk dapat mengundang lebih banyak wisman.

Akan tetapi, menurutnya, dana pemerintah terlalu banyak digunakan untuk membiayai pemasaran seperti forum berkal dan forum group discussion, sehingga membuat pelaku industri pariwisata harus berjuang sendiri dalam penjualan paket wisata.

“Maka dari itu, untuk tahun ini kami lebih mengedepankan usaha sendiri. Kami akan buat kerja sama sendiri antar pelaku usaha, kami mengajak juga pelaku online-nya,” katanya.

Untuk tahun ini, pemerintah telah menetapkan target ambisius untuk menggaet 20 juta kunjungan wisman dan mendatangkan devisa pariwisata senilai US$20 miliar. 

Tag : imlek
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top