Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

2019 Jadi Tahun Pertimbangan Pengembang Asing

Tahun politik pada 2019 dilihat sebagai suatu pertimbangan bagi pengembang asing dalam menggarap proyek baru yang sebelumnya sebelumnya bergerak ekspansif di Indonesia.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 29 Januari 2019  |  19:32 WIB
Branz Simatupang - branz/simatupang.com
Branz Simatupang - branz/simatupang.com

Bisnis.com, JAKARTA - Tahun politik pada 2019 dilihat sebagai suatu pertimbangan bagi pengembang asing dalam menggarap proyek baru yang sebelumnya sebelumnya bergerak ekspansif di Indonesia.

Vice President Coldwell Banker Dani Indra Bhatara mengatakan pengembang asing akan tetap bergerak memasuki pasar Indonesia, namun mereka juga akan tetap hati-hati pada momen Pemilu tahun ini.

"Pengembang asing kebanyakan bekerja sama dengan pengembang lokal, jadi mereka juga akan mendengarkan masukan dari pengembang lokal. Meskipun mereka ready, kemungkinan akan tetap hati-hati pada momen Pilpres," kata Dani kepada Bisnis, belum lama ini.

Dani mengatakan pengembang asing biasanya sudah memiliki strategi sendiri untuk bergerak, ketika mereka merasa momen itu tepat.

Dia menilai mereka yang masuk ke Indonesia memang lebih mendorong kepercayaan pasar terhadap suatu produk, misalnya saja hunian-hunian di Alam Sutera, Tangerang Selatan. Namun, harus tetap berhati-hati karena tidak semua pengembang asing berhasil mengerjakan proyeknya.

"Seperti ada satu contoh pengembang dari Hong Kong yang menggarap apartemen The Noble di Alam Sutera sekarang sudah tutup, tidak lagi melanjutkan pembangunan, bisa jadi karena penerimaan pasar tidak terlalu bagus, permasalahan internal, atau mereka melihat investasinya tidak bisa kembali dengan cepat," jelas Dani.

Oleh karena itu, menurut dia, konsumen juga tidak langsung percaya karena embel-embel asing, mereka akan melihat asal pengembang tersebut, produk-produk, dan siapa dibaliknya

"Konsumen sudah lebih hati-hati, jadi tidak hanya karena nama pengembang asing mereka langsung percaya, tapi harus ada bukti atau namanya sudah sangat bagus," tambah dia.

Sementara, Associate Director Investment Service Colliers International Indonesia Aldi Garibaldi mengatakan pengembang asing akan berbisnis seperti biasanya, tidak banyak terpengaruh oleh tahun politik.

"Mereka berbisnis seperti biasa, jika harga pas maka akan agresif, tapi jika tidak ya pasif," kata Aldi kepada Bisnis, Selasa (29/1/2019).

Dia mengatakan negara-negara seperti Singapura, Hong Kong, China, Korea, dan Jepang masih sangat tertarik untuk masuk. Bahkan, menurut dia, pada saat-saat seperti inilah mereka harus masuk ke Indonesia.

"Jika mau catch the way ya sekarang, di saat properti lagi turun, bukan pada saat lagi naik. Berbeda dengan Vietnam yang sedang booming. Pengembang yg sudah ke sini pasti sudah pernah ke vietnam. Tapi, di vietnam kalau masuk sekarang sudah telat karena siklus properti mereka sudah di atas," jelas dia.

Kata Aldi, pengembang asing memiliki banyak kelebihan, dengan membawa keahlian, inovasi, kepercayaan, dan pendanaan. Jika konsumen lebih percaya dengan mereka, maka menurutnya pasar malah akan tercipta.

"Mereka masuk ke sini juga sadar ada beberapa pengembang lokal yang tidak perform. Mereka memiliki akses pendanaan yang kuat, jadi tidak bisa diremehkan, belum lagi banyak proyek yang mandek," kata dia.

Lanjutnya, mayoritas pengembang asing masih memilih lokasi pengembangan di area Jakarta dengan menyasar segmen menengah.

Pada akhir 2018 lalu, Tokyo Tatemono, pengembang dari Jepang, masuk ke Indonesia dengan membentuk kerja sama joint venture (JV) dengan Farpoint untuk mengembangkan proyek kondomonium The Loggia.

Executive Director Tokyo Tatemono Asia Pte. Ltd. Ryutaro Nishimura mengatakan Indonesia adalah pasar yang sangat penting bagi Tokyo Tatemono karena pihaknya melihat dalam beberapa tahun terakhir, perekonomian Indonesia telah tumbuh positif dalam beberapa tahun terakhir, ditandai dengan pencapaian gross domestic product (GDP) tertinggi diantara negara-negara Asean.

"Ekspansi yang kami lakukan juga merupakan strategi perusahaan karena pasar properti Jepang sudah melambat. Oleh karena itu, kami menyasar negara-negara Asia Tenggara untuk mengantisipasi pasar dalam 2 tahun kedepan," jelas dia.

Tokyo Tatemono merupakan perusahaan yang sudah berkembang sejak 1896 dan saat ini merupakan developer properti tertua di Jepang. Tokyo Tatemono telah mengambangkan berbagai bisnis, mulai dari realestat, manajemen properti, perhotelan, fasilitas operasional resort, ritel, dan lainnya.

Kerja sama strategis dengan FARPOINT adalah yang ke empat di Asean setelah Singapura, Myanmar, dan Thailand.

Selain itu, Keppel Land Limited (Keppel Land), pengembang besar yang berbasis di Singapura, melalui anak usahanya PT Sukses Manis Indonesia, bersama dengan PT Metropolitan Land Tbk (Metland) mengembangkan proyek perumahan seluas 12 hektare di kawasan Metland Menteng di Jakarta Timur, Indonesia.

Keppel Land dan Metland masing-masing akan memiliki 50% kepemilikan dari kerja sama operasi (KSO) yang akan menghasilkan sekitar 500 unit rumah dengan ruko pendukung. Dana investasi yang akan digelontorkan diperkirakan mencapai Rp1,2 triliun.

President Keppel Land Indonesia Goh York Lin mengatakan pihaknya Indonesia merupakan salah satu pasar utama bagi mereka. Pihaknya yakin pengembangan proyek baru ini akan sangat menarik bagi konsumen yang mencari perumahan dengan lokasi strategis juga bagi para investor yang mencari investasi yang menguntungkan.

“Kami berkomitmen untuk terus meningkatkan keberadaan kami di negara ini dengan berfokus pada kawasan Jabodetabek. Kami percaya Indonesia dengan peningkatan urbanisasi dan pertumbuhan kelas menengah yang terus meningkat, akan terus menciptakan permintaan perumahan berkualitas tinggi,” kata dia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pengembang asing
Editor : M. Rochmad Purboyo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top