IKM Didorong Produksi Komponen Kendaraan Listrik

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menjelaskan industri kecil dan menengah (IKM) akan didorong untuk memproduksi komponen kendaraan listrik. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mengembangkan kendaraan yang ramah lingkungan.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 14 Januari 2019  |  20:36 WIB
IKM Didorong Produksi Komponen Kendaraan Listrik
Proses pengisian energi mobil listrik saat peluncuran Green Energy Station (GES) Pertamina di Jakarta, Senin (10/12/2018). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menjelaskan industri kecil dan menengah (IKM) akan didorong untuk memproduksi komponen kendaraan listrik. Langkah tersebut dinilai sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam mengembangkan kendaraan yang ramah lingkungan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin Ngakan Timur Antara pada Senin (14/01/2019) di kantor Kemenperin, Jakarta. Dia menjelaskan langkah mengembangkan IKM untuk memproduksi komponen kendaraan listrik tidak akan mudah tetapi harus didorong.

Ngakan menjelaskan, komponen kendaraan listrik cenderung lebih sedikit dibandingkan kendaraan konvensional. Oleh karena itu, menurut Ngakan, IKM yang memproduksi suku cadang kendaraan listrik akan beriringan dengan industri yang memproduksi baterai.

"[Arah pengembangan kendaraan listrik] dari baterai, kemudian di spare part. Kami justru dorong IKM yang menguasai suku cadang kendaraan listrik, tapi kan tidak mudah," ujar Ngakan.

Dia pun menjelaskan pengembangan industri komponen kendaraan listrik bukan perkara kesiapan industri, tetapi bagaimana pelaku industri melihat peluang bisnis dari industri tersebut. Ke depannya, menurut Ngakan, baik industri suku cadang maupun industri baterai akan berkembang berdampingan.

Sebelumnya, pembangunan pabrik baterai lithium di Morowali telah dimulai pada Jumat (11/01/2019). Pabrik tersebut memiliki fasilitas konstruksi 50.000 ton nikel dan 4000 ton kobalt, yang akan memproduksi di antaranya 50.000 ton produk intermedit nikel hidroksida, 150.000 ton baterai kristal nikel sulfat, 20.000 ton baterai kristal sulfat kobalt, dan 30.000 ton baterai kristal sulfat mangan.

Industri otomotif sebagai salah satu sektor prioritas dalam pengembangan industri 4.0 turut mencakup industri kendaraan listrik. Ngakan menjelaskan baik industri kendaraan konvensional dan industri kendaraan listrik akan sama-sama siap menghadapi perkembangan industri 4.0.

Pengembangan kendaraan listrik sendiri menurut Ngakan merupakan komitmen pemerintah, khususnya Kemenperin dalam mengembangkan kendaraan ramah lingkungan.

"Pertama untuk efisiensi, memenuhi komitmen mengurangi gas rumah kaca, menekan [penggunaan] BBM dan [mendorong] penggunaan energi baru terbarukan," ujar Ngakan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Mobil Listrik

Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top