Setelah Kereta Cepat, China Railway Lirik Proyek Infrastruktur Jawa Barat

PT China Railway Group Limited (CREC) membidik investasi sejumlah proyek infrastruktur yang ada di Jawa Barat.
Wisnu Wage Pamungkas | 10 Januari 2019 15:19 WIB
Pelabuhan Patimban di Subang, Jawa Barat, ditawarkan kepada China Railawa. - Bisnis.com

Bisnis.com, BANDUNG— PT China Railway Group Limited (CREC) membidik investasi sejumlah proyek infrastruktur yang ada di Jawa Barat.

Sekda Jabar Iwa Karniwa mengatakan pemimpin konsorsium Tiongkok untuk proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung  tersebut sudah membuka pembicaraan bersama pihaknya terkait rencana investasi di Jabar.

“Mereka mewakili para owner kereta cepat yang berkeinginan untuk investasi tak hanya di proyek kereta api cepat,” katanya di Bandung, Kamis (10/1/2019).

Menurutnya pihak CREC mengajukan diri untuk bisa berkontribusi membangun sejumlah rencana pembangunan ruas tol, akses bandara Kertajati hingga pelabuhan Patimban.

Saat disodori peluang investasi di Tempat Pengelolaan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Legoknangka, Bandung pun CREC tertarik.

Pemprov Jabar diakui Iwa menyambut baik rencana investasi tersebut, namun pihaknya meminta agar CREC berkomunikasi aktif dengan Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) mengingat urusan inisiasi maupun investasi tol ada di sana.

“Di kita ada 16 ruas jalan tol, kita arahkan ke BPJT karena bukan di kita [kewenangannya], tapi provinsi akan membantu sepenuhnya investasi di Jabar, agar proyek tol terealisasi semua,” paparnya.

Pihak CREC dalam pertemuan tersebut menurutnya tidak membahas progres proyek kereta api cepat Jakarta-Bandung. Alasan ingin menanamkan modal di Jabar dipastikan pihaknya karena konsorsium sudah kadung mengerjakan proyek besar di Jabar. “Mereka melihat setelah kereta cepat berjalan baik, akhirnya tertarik untuk investasi lain,” tuturnya.

Terkait kesiapan dana, meski dalam pertemuan tidak terungkap besarannya, pihak CREC memastikan memiliki dukungan dana tak terbatas. Pemprov sendiri memilih untuk urusan guyuran infrastruktur tersebut dibahas langsung antara CREC bersama BPJT.

“Semisal tol Gedebage-Cilacap itu investasinya butuh Rp41 triliun, silahkan berkoordinasi dengan BPJT,” ujarnya.

Menurutnya karena sejumlah proyek tol dan infrastruktur lain sudah mulai berproses, pihak CREC masih dimungkinkan untuk turut serta. Iwa memastikan meski konsorsium memiliki dana yang tak terbatas, aturan main dan administrasi tidak bisa dilanggar. “Harus sesuai aturan berlaku,” paparnya.

Belum Spesifik

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Setda Jabar Eddy M Nasution melihat CREC baru menawarkan diri untuk bisa memasuki sejumlah peluang investasi infrastruktur di Jabar namun belum menunjukan ketertarikan yang spesifik.

“Belum ada yang spesifik, baru menawarkan diri tertarik. Mereka merasa karena sudah ada di Bandung, ingin meluaskan bisnisnya,” katanya.

Menurutnya selain tol dan TPPAS Legoknangka, pihaknya juga menawarkan investasi di LRT Bandung Raya yang akan menjadi rangkaian konektifitas kereta cepat Jakarta-Bandung. Namun Eddy menilai CREC kemungkinan ingin mencoba peluang baru di luar investasi berbasis rel.

“Silahkan saja dipilih, mau yang mana mereka? Tinggal ikut lelang,” paparnya.

Namun pihak CREC juga ditawari peluang agar mengawali rencana dan ketertarikan investasi di Jabar dengan menggelar pra studi kelayakan proyek tertentu. Menurutnya dengan langkah ini, ketika sebuah proyek akan dilelang, maka CREC bisa mendapat perlakuan berbeda karena sudah mengantongi hasil studi. “Silahkan saja mereka memulai konsep KPBU,” ujarnya.

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top