Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BOJ Menahan Kebijakan Moneter dalam RDG Akhir Tahun

Bank Sentral Jepang (BOJ) membiarkan kebijakan moneter longgarnya tidak berubah dalam rapat kebijakan terakhirnya tahun ini, atau berselang beberapa jam setelah Bank Sentral AS (Federal Reserve) memperdengarkan nada yang sedikit dovish mengenai laju kenaikan Fed Funds Rate (FFR).
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 20 Desember 2018  |  13:54 WIB
Bank of Japan - REUTERS
Bank of Japan - REUTERS

Bisnis.com, JAKARTA—Bank Sentral Jepang (BOJ) membiarkan kebijakan moneter longgarnya tidak berubah dalam rapat kebijakan terakhirnya tahun ini, atau berselang beberapa jam setelah Bank Sentral AS (Federal Reserve) memperdengarkan nada yang sedikit dovish mengenai laju kenaikan Fed Funds Rate (FFR).

Selain itu, BOJ juga tidak mengubah program pengendalian kurva yield dan program pembelian aset. 

Hal itu disampaikan oleh bank sentral lewat pernyataan yang dirilis pada Kamis (20/12/2018) atau keputusan yang sesuai dengan perkiraan 49 ekonom yang disurvei Bloomberg.

Suku bunga acuan dari BOJ tetap berada di level 0,1% dan target yield obligasi pemerintah bertenor 10 tahun ditetapkan di sekitar nol persen, dengan batas pergerakan +/-0,2%.

BOJ juga berjanji untuk menahan suku bunga di level rendah tersebut selama periode tertentu dan menambah porsi kepemilikan obligasi pemerintah (Japanese Government Bond) menjadi sekitar 80 triliun yen per tahun. Begitu pula kepemilikan ETF (exchange-traded fund) juga akan ditambah menjadi 6 triliun yen per tahun.

Sejauh ini, Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda memang tengah menghadapi kondisi yang kian memburuk. Dengan tumbangnya harga minyak, ekonom menilai inflasi Negeri Sakura pun dapat terjatuh mendekati nol dalam setahun ke depan.

Adapun, setelah lebih dari lima tahun BOJ membeli aset senilai US$3,5 triliun, inflasi di sana bahkan masih belum mencapai setengah dari target yang ditetapkan bank sentral sebesar 2%, karena pertumbuhan upah masih sulit dinaikkan.

Belum lagi risko dari perlambatan ekonomi China, yang kian terbebani oleh perang dagang AS—China, serta potensi Brexit yang tidak lancar pada tahun depan dikhawatirkan dapat menekan performa ekonomi Jepang yang terlalu bertopang dengan kinerja ekspor. Dalam tiga kuartal terakhir saja, tingkat ekspor Jepang telah terkontraksi sebanyak dua kali.

“Dengan meningkatnya level kehati-hatian, yang telah diperlihatkan oleh The Fed, BOJ akan menjadi wait and see untuk sementara waktu. Mereka [BOJ] menyadari benar bahwa sekarang bukan waktunya untuk memberikan sinyal normalisasi kebijakan,” kata Junko Nishioka, Kepala Ekonom Jepang di Sumitomo Mitsui Banking Corp., dan mantan pejabat BOJ, seperti dikutip Bloomberg, Kamis (20/12/2018).

Lebih lanjut, BOJ mengulangi penilaian sebelumnya, bahwa ekonomi Jepang tampaknya bakal melanjutkan ekspansi dalam laju moderat ditopang oleh pertumbuhan moderat ekspor dan uptrend permintaan domestik.

Oleh karena itu, BOJ menyampaikan, inflasi inti yang saat ini berada di sekitar 1% kemungkinan dapat naik secara gradual mendekati 2%.

BOJ juga mengulang peringatannya, bahwa terdapat sejumlah risiko eksternal yang dapat memengaruhi ekonomi Negeri Sakura ke depannya, termasuk dari dampak kenaikan suku bunga AS.

Adapun jajak pendapat mengenai kenaikan suku bunga dalam RDG BOJ memperlihatkan hasil 7 banding 2, dengan Goushi Kataoka dan Yutaka Harada menjadi pihak yang memiliki perbedaan pendapat dengan anggota Dewan Gubernur lainnya.

Kataoka kembali berargumen bahwa meningkatnya ketidakpastian terkait aktivitas ekonomi dan inflasi dapat menarik turun yield obligasi jangka panjang.

Sementara Harada menilai, rentang perdagangan (trading range) yield telah terlalu ambigu di dalam panduan operasional kepada pasar.

Selanjutnya, Gubernur BOJ dijadwalkan untuk mengadakan konferensi pers pada 15.30 waktu setempat di Tokyo. Kuroda diperkirakan bakal membahas risiko ekonomi global dan memaparkan langkah-langkah yang dapat diambil BOJ untuk menyeimbangkan kondisi.

Bloomberg mencatat, jikalau Kuroda membunyikan alarm peringatan, hal itu bisa membuat para pembuat kebijakan mendorong pemberian stimulus tambahan. Jika terjadi seperti itu, BOJ pun tidak akan memiliki terlalu banyak pilihan lagi untuk bertindak ke depannya.

Adapun beberapa risiko yang mengintai Jepang mulai terlihat di pasar keuangan. Indeks saham Negeri Sakura, Topix, pada hari ini turun ke level terendah intraday-nya sejak April 2017, sementara benchmark untuk obligasi pemerintah bertenor 10 tahun pada tahun ini melemah 0,01%, atau terendah sejak September 2017.

Sementara beberapa pejabat BOJ menyampaikan bahwa bank sentral masih aman dengan yield yang menyentuh nol persen atau di bawahnya, tapi kondisi tersebut dapat memperpanjang kekhawatiran perbankan Jepang terkait perolehan laba.

Sejauh ini, rusaknya laba perbankan memang menjadi alasan utama bagi BOJ untuk memperkenalkan kendali kurva yield pada 2016.

 
 
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

boj bank of japan
Editor : Gita Arwana Cakti
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top