Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kementan Dorong Produksi Kentang Atlantik

Kementerian Pertanian menargetkan dapat menswasembadakan Kentang Atlantik untuk kebutuhan bahan baku industri pada 2020.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 15 November 2018  |  14:46 WIB
/Ilustrasi
/Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Pertanian menargetkan dapat menswasembadakan Kentang Atlantik untuk kebutuhan bahan baku industri pada 2020.

Direktur Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian Suwandi mengatakan bahwa Indonesia sudah swasembada Kentang Granula atau kentang konsumsi sejak 2018, sedangkan Kentang Atlantik untuk kebutuhan bahan baku industri  ditargetkan swasembada paling lambat 2020.

"Kami optimis bisa capai, kemarin kami dengan pelaku usaha menggelar rapat koordinasi untuk memacu pencapaian swasembada,” katanya, Rabu (14/11/2018).

Suwandi menjelaskan kentang untuk industri memang berbeda yang selama ini pasokannya masing mengandalkan impor. Menurutnya dengan perkembangan teknologi perbenihan dan pemuliaan benih kentang, telah ditemukan berbagai varietas seperti varietas Median, Bliss, Omabeli sebagai substitusi jenis atlantik sehingga nantinya tidak lagi mengandalkan impor.

“Benih kentang lokal ini punya keunggulan bisa diproses tertentu sehingga hasil produknya akan bermanfaat bagi kesehatan, berdampak langsung bagi stamina tubuh. Tadi sudah diuji coba kekuatan otot tubuh terbukti dengan benih kentang lokal yang lebih kuat dari kentang impor,” ujarnya.

Suwandi menyebutkan swasembada kentang industri sebelumnya ditargetkan pada tahun 2019. Akan tetapi setelah mencermati kesiapan industri, kemampuan produksi, umur panen tiga bulan, proses panen menjadi benih 3 hingga 4 bulan, sehingga paling lambat swasembada di tahun 2020.

“Bisnis kentang industri dikelola dua industri besar dan beberapa industri menengah dan kecil. Salah satu industri besar  sudah mampu memproduksi sendiri dan swasembada pada Juli 2019 dan satunya lagi dilakukan percepatan paling lambat pada akhir 2020,” sebutnya.

Perlu diketahui, melansir data BPS, impor kentang industri pada tahun 2017 sebesar 51.849 ton yang nilainya mencapai Rp275 miliar. Namun pada Januari-September 2018 impor hanya 29.649 ton, senilai Rp117 miliar sehingga ini menandakkan impor kentang industri turun drastis.

“Yang tak kalah membanggakan, sejak 2018 tidak ada impor kentang konsumsi, sudah swasembada. Bahkan saat ini juga mendorong ekspor kentang segar. Januari-September 2018 sudah ekspor 2.781 ton,” ungkap Suwandi.

Sementara itu, Direksi PT Indofood Fritolay Makmur, Suaimi Suriady mengatakan perusahaannya memproduksi berbagai produk berbahan baku dari kentang. Oleh karena itu, sejak 2016 bersama Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan dan Kementerian Perdagangan sudah menyiapkan roadmap mencapai swasembada bahan baku kentang industri.

“Sebagian besar bahan baku kentang  kami bersumber dari mitra petani yang ditanam menggunakan benih yang tersedia. Kami akan selalu mendukung program dan mengikuti regulasi Kementan untuk mencapai Swasembada,” katanya.

Direktur Wingsfood, Stefanus menyatakan sebagai perusahaan olahan kentang yang baru berumur dua tahun perlu waktu  untuk memenuhi kebutuhan bahan baku dari produksi kentang dalam negeri. Untuk menuju pemenuhan bahan bakunya dari produksi dalam negeri, Wingsfood sedang dan akan melakukan penanaman di daerah Pemalang, Majalengka dan Magelang.

“Bahkan Wingsfood bekerjasama dengan Institut Pertanian Bogor dan Japan International Cooperation Program (red. JICA).  Untuk memenuhi kebutuhan benihnya, Wingsfood akan bekerjasama penangkar benih dan importir benih untuk proses produksinya,” sebutnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kentang
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top