Menhub Tunggu Hasil dari KNKT untuk Sanksi Lion Air

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pihaknya belum bisa memberikan sanksi kepada pihak Lion Air.
Muhammad Ridwan | 05 November 2018 19:02 WIB
Tim SAR gabungan mengangkat ban Pesawat Lion Air JT610 ke atas Kapal Baruna Jaya I di Perairan Karawang, Jawa Barat, Minggu (4/11/2018). Ban pesawat tersebut ditemukan di kedalaman 32 meter. - Antara/Rivan Awal Lingga

Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan pihaknya belum bisa memberikan sanksi kepada pihak Lion Air.

Pasalnya, ia masih harus menunggu hasil dari penyelidikan yang sedang dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

“Jadi kita akan lakukan satu yang namanya klarifikasi yang dilakukan oleh KNKT. Jadi kita akan mengikuti rekomendasi dan disandarkan pada ketentuan yang berlaku, apabila itu dijadikan rekomendasi maka itulah yang akan kita lakukan,” ujarnya di Hotel Ibis, Jakarta, Senin (5/11/2018).

Lebih lanjut, dijelaskannya, sanksi yang akan diberikan lebih mengarah kepada manajemen maskapai berlogo singa tersebut, bukan kepada rute penerbangannya.

Selain itu, Menhub juga menjelaskan langkah penting untuk saat ini adalah memastikan keamanan pesawat sejenis dengan yang mengalami kecelakaan.

“Audit teknis berkaitan dengan 11 pesawat itu sudah bisa kita selesaikan, dan dengan suatu prosedur yang dikeluarkan oleh Boeing, maka bisa dinyatakan pesawat itu laik. Artinya bagi penggunaan pesawat itu laik,” pungkasnya.

Puing pesawat Lion Air PK-LQP JT-610 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Senin (5/11/2018). Pada operasi evakuasi badan pesawat Lion Air PK-LQP JT 610 hari ke delapan tim SAR gabungan menemukan puing pesawat yaitu Emergency Locater Transmitter (ELT), Direction Flight, dan bagian roda pesawat./Antara-Galih Pradipta

Sementara dalam perkembangan lain, Kapal Riset Baruna Jaya I memperluas area pencarian korban dan bagian kotak hitam lainnya (black box) dari pesawat naas Lion Air JT 610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat.

Deputi Teknologi Pengembangan Sumberdaya Alam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Hammam Riza di Jakarta, Senin (5/11/2018), mengatakan Kapal Riset Baruna Jaya I yang dipakai untuk cari kotak hitam hari ini kembali ke pelabuhan untuk mengisi bahan bakar sebelum melanjutkan pencarian.

"Kami terus evaluasi dan koordinasi bersama KNKT (Komite Nasional Keselamatan Transportasi) dan Basarnas untuk kelanjutan misi SAR, termasuk perluasan area pencarian," ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Balai Teknologi Survei Kelautan BPPT M. Ilyas mengatakan Kapal Riset Baruna Jaya I masih dengan "Multi Beam Echo Sounder" mencoba memetakan lokasi yang diperkirakan terdapat "cockpit voice recorder" (CVR). Kemampuan teknologi ini bisa memetakan dasar laut hingga 11 kilometer (km).

"Sekali menyapu dasar laut bisa mendapatkan data image dan topografi dasar laut. Ini untuk mengidentifikasi objek dasar laut," ujar dia.

Pada kesempatan berbeda, Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Muhammad Syaugi mengatakan tim SAR gabungan pencarian dan evakuasi penumpang dan pesawat JT 610 akan berjuang untuk mengevakuasi semua penumpang.

"Kami tetap berusaha sekuat tenaga dengan apa yang kami miliki, kami yakin bisa mengevakuasi semua korban," kata Syaugi dalam pertemuan antara tim SAR gabungan dengan keluarga penumpang di Hotel Ibis Cawang, Jakarta.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
lion air jatuh

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top