PROGRAM B20, Penyerapan Biodiesel Hingga Akhir Oktober 2018 Capai 95%

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi serapan bahan bakar nabati jenis biodiesel dari minyak sawit (fatty acid methyl ester/FAME) sebesar 20% (B20) sampai akhir Oktober 2018 mencapai 95%.
Dewi Aminatuz Zuhriyah | 05 November 2018 15:05 WIB
Kebijakan bauran biodiesel 20% atau B20. - Bisnis/Radityo Eko

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat realisasi serapan bahan bakar nabati jenis biodiesel dari minyak sawit (fatty acid methyl ester/FAME) sebesar 20% (B20) sampai akhir Oktober 2018 mencapai 95%.

Dirjen Minyak dan Gas Djoko Siswanto mengatakan bahwa pihaknya belum mengetahui nilai pengehematan devisa negara dari penyerapan FAME tersebut.  Penyerapan biodiesel jenis FAME otomatis akan mengurangi konsumsi bahan bakar fosil seperti minyak mentah dan bahan bakar minyak (BBM). Selama ini, Indonesia masih mengimpor BBM dan minyak mentah.

Penggunaan biodiesel dalam bauran BBM diharapkan mampu mengurangi impor minyak dan BBM sehingga dapat menghemat devisa negara.

"Sampai 28 Oktober [penyerapan FAME] 94%-an, Itu kan per bulan ukurannya, September kan 85% koma sekian, kira-kira sampai akhir Oktober 95% lah. [Nilai penghematan] belum dihitunglah," katanya, Senin (5/11/2018).

Secara nilai volume, penyerapan FAME hingga Oktober sudah mencapai 360.007 kiloliter. Secara akumulasi, dari Januari hingga Oktober  2018 mencapai 2,53 juta kiloliter (kl).

Sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana mengakui bahwa penyerapan FAME dalam mandatory B20 belum optimal karena masih terkendala persoalan rantai pasok. Namun, dia optimistis target serapan FAME dapat tercapai.

"Kami akui belum optimal tapi kalau boleh saya klaim, sampai September ini sudah lebih baik. Kendala di supplai chain, di midstream-nya," ujar Rida di Gedung DPR RI, pada Oktober kemarin.

Rida mengatakan pasokan FAME dari badan usaha BBN kepada BU BBM seringkali mengalami keterlambatan lantaran harus mengantre di pelabuhan.

Pemerintah sedang mencari solusi agar angkutan FAME bisa diprioritaskan, seperti halnya angkutan sembako dan BBM.

Rida berujar Kemenko Perekonomian sudah menyurati terkait permasalahan pengiriman ini kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Laut. "Sudah surati Dirjen Laut untuk minta dukungan," katanya.

Di sisi lain, penyaluran FAME, terutama ke Pertamina, juga belum dilakukan terpusat seperti yang direncanakan sebelumnya.

Menurutnya, untuk memudahkan penyaluran pasokan FAME, sebelumnya Pertamina telah mengusulkan agar pengiriman FAME hanya dikirim ke 14 fasilitas pencampuran Solar dan biodiesel Pertamina, yakni enam kilang dan delapan Terminal BBM (TBBM).

Nantinya, biodiesel yang sudah dicampur di 14 titik tersebut akan didistribusikan sendiri oleh Pertamina ke SPBU-SPBU miliknya, sehingga BU BBN tak perlu lagi memasok ke 112 TBBM Pertamina.

Tag : Biodiesel
Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top