Dampak Perang Dagang, Produsen Sepeda Roda Dua China Beralih ke Indonesia

Pelaku usaha industri sepeda roda dua China mulai beralih ke Indonesia menyusul perang dagang antara negara ini dengan Amerika Serikat. 
Annisa Sulistyo Rini | 02 November 2018 22:55 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Pelaku usaha industri sepeda roda dua China mulai beralih ke Indonesia menyusul perang dagang antara negara ini dengan Amerika Serikat. 

Rudiyono, Asosiasi Industri Persepedaan Indonesia (AIPI), mengatakan saat ini ada 2--3 investor sepeda roda dua asal Negeri Tirai Bambu yang mengalihkan bisnisnya ke Indonesia. Menurutnya, upaya ini merupakan dampak dari perang dagang yang terjadi, di mana AS menerapkan bea masuk lebih tinggi untuk barang-barang dari China. 

"China memanfaatkan negara ketiga yang bea masuk ke AS lebih rendah, seperti Indonesia, Kamboja, Srilanka," ujarnya di Jakarta belum lama ini. 

Rudiyono menyampaikan pihaknya belum memastikan investor China tersebut apakah membangun fasilitas produksi secara utuh atau hanya sebagian. "Bisa saja mereka tidak terlalu dalam, misal enggak investasi untuk pabrik, hanya sewa," katanya. 

Di Indonesia, saat ini tercatat terdapat 18 produsen sepeda roda dua. Namun, lanjutnya, kemungkinan masih ada produsen yang tidak terpantau oleh asosiasi karena berada di luar Jawa.

Pasar sepeda roda dua hingga kini masih terpusat di Jawa seiring dengan banyaknya penduduk yang berada di wilayah ini. Kebutuhan sepeda roda dua dalam negeri diperkirakan sekitar 7,5 juta unit hingga 8 juta unit pada tahun ini.

Rudiyono menyebutkan kapasitas produksi di dalam negeri sekitar 3 juta unit, sisanya merupakan produk impor. "Kami sebenarnya bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri dengan genjot produktivitas, karena 3 juta unit itu hanya dalam 1 shift. Namun, karena impor juga banyak, kami tidak maksimal," jelasnya. 

Selain produk impor, kesadaran keselamatan produk impor yang masih rendah juga menjadi tantangan industri sepeda roda dua. Rudiyono menambahkan, pelaku industri sepeda nasional pernah menguji sekitar 16 tipe sepeda impor secara sukarela dan dinyatakan tidak lulus standar. 

Oleh karena itu, dengan pemberlakukan SNI wajib untuk sepeda roda dua diharapkan bisa memberikan kepastian keselamatan dan keamanan bagi masyarakat. "Aturan ini juga mendorong importir untuk mengingatkan produsen di China kalau mereka harus memperhatikan kualitas dan memenuhi standar di Indonesia," jelasnya.

Sebelumnya, Haris Munandar, Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian (Kemenperin), mengatakan industri sepeda nasional masih memiliki kemungkinan untuk bertumbuh yang besar. Hal ini dikarenakan industri nasional telah memiliki raw meterial seperti bahan logam yang cukup untuk kebutuhan pabrikan sepeda.

“Kekuatan manufaktur Tanah Air sudah lengkap. Namun, harus ada investasi di sektor mid stream untuk mengolah bahan baku ini menjadi komoditas yang bisa diolah oleh industri sepeda,” kata Haris.

Dia menjelaskan Kemenperin telah berupaya untuk menjamin ketersediaan bahan baku yang belum bisa diproduksi oleh industri nasional dengan fasilitas seperti bea masuk ditanggung pemerintah (BMDP). Selain itu, Kemenperin mendorong berlakunya SNI untuk membendung produk jadi dari luar negeri.

“Produk China masuk ke dalam negeri dalam jumlah yang banyak, maka harus ada standar yang diterapkan untuk melindungi konsumen dan industri lokal,” katanya.

Tag : sepeda motor
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top