Rumah Tahan Gempa, Tatalogam Perkenalkan Teknologi Domus

PT Tatalogam Lestari, perusahaan genteng metal dan rangka baja ringan terbesar di Indonesia, menawarkan inovasi produk terbaru, yakni teknologi atau sistem pembangunan rumah yang cepat, kuat, indah dan tahan gempa yang dinamakan Domus.
Bambang Supriyanto | 01 November 2018 17:24 WIB
Ilustrasi - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - PT Tatalogam Lestari, perusahaan genteng metal dan rangka baja ringan terbesar di Indonesia, menawarkan inovasi produk terbaru, yakni teknologi atau sistem pembangunan rumah yang cepat, kuat, indah dan tahan gempa yang dinamakan Domus.  

Teknologi Domus bisa diaplikasikan untuk bangunan rumah tinggal, pasar, ruko, pabrik, dan gudang.  Dengan komponen struktur dinding memakai kanal U dan rangka atap baja ringan, menjadikan Domus sebagai bangunan permanen yang kuat, indah, dan tahan gempa.

Teknologi Domus tidak hanya bisa diaplikasikan untuk bangunan permanen, tetapi juga sangat tepat diterapkan bagi hunian sementara (Huntara) bagi korban bencana alam.

“Untuk Huntara dengan teknologi Domus, material dinding yang awalnya memakai bata ringan tinggal diganti material lain yang tersedia dan sesuai kemampuan, misanya bilik bambu, panel gypsum, triplek, spandek, atau bahkan bisa memakai terpal,” ujar Stephanus Koeswandi, Vice President PT Tatalogam Lestari, Kamis.

Menurutnya, ide itu bermula dari Menteri PUPR Basuki Hadimuljono yang disampaikan kepada Tatalogam dalam sebuah even pameran, yang menginginkan agar rumah hunian sementara (Huntara) harus siap untuk difungsikan dan dikembangkan menjadi hunian tetap (Huntap).

“Belajar dari pembangunan rumah pasca gempa di Lombok bahwa masyarakat memerlukan waktu guna memulihkan trauma akibat gempa. Maka dibutuhkan huntara yang siap dialih fungsikan menjadi huntap dalam waktu singkat dan memiliki konsep berkelanjutan, sehingga tidak ada huntara yang mubazir dalam pembangunannya.”

Oleh karena itu, ungkap Stephanus, perusahaan mencoba mengembangkan produk huntara dengan  memadukan smart technology dan efisiensi untuk menghasilkan huntara yang bisa  dikembangkan atau dilanjutkan menjadi hunian tetap.

Dia menjelaskan bahwa huntara Domus standar dengan luas bangunan 36 m2 bisa dibangun dalam  waktu 2 hari saja. Apabila masyarakat yang akan menempati bersedia, maka desain huntara pada lahan terbatas bisa dibuat menjadi bentuk kopel, yaitu rumah yang berpasangan (berhimpitan), satu atap terdiri dari lebih dari satu unit rumah.

“Huntara dengan teknologi Domus ini, jika sudah tidak terpakai bisa dibongkar lalu disimpan, dan bisa digunakan lagi jika terjadi bencana. Atau bahkan bisa dikembangkan mejadi hunian tetap, dengan hanya mengganti material dinding sebelumnya dengan bata ringan.”

Tag : gempa
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top