Inalum Cari Partner Asing untuk Ekspansi Proyek Hilir Pertambangan

PT Indonesia Asahan Alumunium (persero) sedang mencari partner pendanaan bagi proyek-proyek ekspansi perusahaan.
Sepudin Zuhri | 29 Oktober 2018 17:41 WIB
Alat berat dioperasikan untuk membongkar muatan batu bara dari kapal tongkang, di Pelabuhan Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (3/4/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA - PT Indonesia Asahan Alumunium (persero) sedang mencari partner pendanaan bagi proyek-proyek ekspansi perusahaan.

Head of Corporate Communication Inalum Rendi Achmad Witular mengatakan pendanaan itu utamanya bagi proyek pengembangan sayap ke Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.

Rencananya, kata dia, Inalum akan mendirikan pabrik aluminium primer dengan kapasitas 500 kiloton per annum beserta pembangkit listrik tenaga air dengan memanfaatkan sungai Kayan. Nilai proyek ini diperkirakan menelan investasi sebesar US$6 miliar.

\"Untuk Proyek Bulungan, project financing, sedang mencari partner asing,\"katanya kepada Bisnis Senin(28/10/2018)

Ekspansi ke provinsi ini pun diharapkan dapat dimulai tahun depan.

Inalum sebagai Holding Industri Pertambangan memang didorong untuk hilirisasi produk sektor pertambangan dengan melakukan kerjasama dengan berbagai pihak untuk merealisasikan proyek-proyek besar bernilai lebih dari US$10 miliar (Rp 150 triliun).

Beberapa kerjasama dengan BUMN dan pihak swasta pun telah ditandatangani dan siap berjalan. Sejumlah proyek hilirisasi yang tengah dan sudah bergulir diantaranya di segmen aluminium, bauksit dan batubara.

Budi G. Sadikin, Direktur Utama Inalum juga mengatakan hilirisasi produk tambang merupakan salah satu dari tiga mandat Holding Industri Pertambangan. Hal itu dilakukan supaya ada nilai tambah produk di sektor tambang dan upaya mendukung penghematan devisa negara.

Inalum bersama anggota HIP PT Antam Tbk dan produsen alumina terbesar kedua di dunia Aluminum Corporation of China Ltd (CHALCO) juga akan bekerja sama membangun pabrik pemurnian untuk memproses bauksit menjadi alumina, yang merupakan bahan baku utama untuk membuat aluminium ingot. INALUM sendiri merupakan produsen aluminium ingot satu-satunya di Indonesia.

Konstruksi proyek yang berlokasi di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, ini dilakukan dalam 2 tahap dengan total kapasitas produksi 2 juta metrik ton alumina. Investasi untuk membangun pabrik tahap 1 tersebut diperkirakan sekitar US$ 850 juta dan di targetkan mulai produksi pada 2021.

Anggota HIP lainnya, PT Bukit Asam Tbk, akan berkolaborasi dengan PT Pertamina (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk untuk mengkonversi batubara muda menjadi syngas yang merupakan bahan baku untuk diproses lebih lanjut menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai bahan bakar, urea sebagai pupuk, dan polypropylene sebagai bahan baku plastik.

Pabrik pengolahan gasifikasi batubara sendiri direncanakan mulai beroperasi pada November 2022. Diharapkan produksi dapat memenuhi kebutuhan pasar sebesar 500 ribu per tahun, 400 ribu ton DME per tahun dan 450 ribu ton Polypropylene per tahun. Dengan target pemenuhan kebutuhan sebesar itu, diperkirakan kebutuhan batubara sebagai bahan baku akan sebesar 9 juta ton per tahun; termasuk untuk mendukung kebutuhan batubara bagi pembangkit listriknya. Nilai keseluruhan proyek tersebut diperkirakan lebih dari US$3 miliar.

HIP juga menjadi salah satu tulang punggung negara dalam mendulang devisa dari hasil ekspor dan mengurangi ketergantungan bahan baku dari impor. HIP memperkirakan penjualan hasil ekspor hingga 2018 sebesar US$ 2,51 miliar atau sekitar Rp 37 triliun. Adapun hingga Agustus 2018, telah terealisasi US$ 1,57 miliar atai 62,5% dari proyeksi.

Holding Industri Pertambangan resmi dibentuk pada 27 November 2017 dimana INALUM menjadi Induk Usaha Holding dan PT Aneka Tambang Tbk., PT Bukit Asam Tbk., dan PT Timah Tbk., sebagai anggota Holding. INALUM memegang 65% saham PT Aneka Tambang Tbk., 65.02% saham PT Bukit Asam Tbk., 65% saha, PT Timah Tbk., dan 9,36% saham PT Freeport Indonesia.

Sampai dengan Juni 2018, Inalum membukukan Pendapatan Konsolidasi sebesar Rp 30.1 triliun, tumbuh 59% dari tahun lalu. EBITDA Konsolidasi mencapai Rp 9.2 triliun, tumbuh 92% dari tahun lalu. Laba Bersih Konsolidasi mencapai Rp 5.3 triliun tumbuh 174% dari tahun lalu. <

Tag : inalum
Editor : Anitana Widya Puspa

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top