Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kontribusi Belanja Iklan Politik Tak Signifikan Bagi Industri Periklanan

Kontribusi iklan kampanye politik untuk Pemilihan Presiden 2019 terhadap total belanja iklan nasional pada tahun depan diproyeksi tidak akan signifikan.
Yanita Petriella
Yanita Petriella - Bisnis.com 15 Oktober 2018  |  14:29 WIB
Kontribusi Belanja Iklan Politik Tak Signifikan Bagi Industri Periklanan
Ilustrasi digital marketing - CC0

Bisnis.com, JAKARTA — Kontribusi iklan kampanye politik untuk Pemilihan Presiden 2019 terhadap total belanja iklan nasional pada tahun depan diproyeksi tidak akan signifikan.

Executive Director Nielsen Watch Leader Indonesia Hellen Katherina memperkirakan kontribusi iklan politik untuk Pilpres 2019 tidak akan jauh berbeda dengan saat Pilpres 2014, yaitu hanya sekitar 2% terhadap total belanja iklan nasional kala itu yang mencapai Rp109,74 triliun.

Dia menyebutkan, kontribusi iklan kampanye politik sepanjang Januari—Juni 2018 sudah mencapai 0,8% atau Rp608 miliar terhadap total belanja iklan nasional pada paruh pertama tahun ini.

"Untuk 2019, kami tidak dapat memberikan prediksi angka belanja iklan politik. Namun, melihat tren, kami perkirakan tren serupa [yang terjadi pada 2014] akan terjadi pada 2019. Belanja iklan politik di surat kabar pun masih akan lebih tinggi daripada di televisi," ungkapnya kepada Bisnis.com, akhir pekan lalu. 

Berdasarkan riset Nielsen, iklan politik pada periode Pilpres 2014 didominasi oleh promosi di media surat kabar dengan nilai belanja Rp1,04 triliun. Adapun, iklan kampanye politik di televisi mencapai Rp922 miliar. Iklan politik di radio dan majalah masing-masing Rp1 miliar.

"Ini karena surat kabar lebih murah harganya untuk beriklan dan lebih efektif. Tren iklan politik kembali banyak ke media televisi usai Pilpres berakhir. Sumbernya pun hanya berasal dari partai politik dan calon pemimpin daerah," tutur Hellen.

Untuk tahun depan, sebutnya, porsi terbesar iklan politik kemungkinan besar didominasi oleh  iklan kampanye calon presiden dan calon wakil presiden (Capres/Cawapres) serta iklan partai politik.

Sebagai perbandingan, pada 2014, belanja iklan kampanye Capres/Cawapres mencapai Rp488 miliar dan iklan partai politik mencapai Rp1,35 triliun. "Porsi terbesar pada masa pilpres tahun depan itu untuk belanja iklan partai politik dan Capres/Cawapres," katanya. 

Sementara itu, pada tahun politik 2014, belanja iklan organisasi politik dan pemerintahan bertumbuh 92% menjadi Rp2,04 triliun, dari capaian senilai Rp1,065 triliun pada tahun politik 2009.

Belanja iklan organisasi politik meningkat dua kali lipat yaitu senilai Rp888 miliar pada periode 16 Maret—5 April 2014 dibandingkan dengan periode prakampanye pada 23 Februari—15 Maret 2014 yang berjumlah Rp490 miliar.

PEBISNIS MENUNGGU

Saat dihubungi terpisah, Ketua Kemitraan Luar Negeri Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) Pusat Maya Carolina Watono menuturkan, saat ini para pelaku bisnis periklanan tengah wait and see dengan kondisi pemilu, sehingga iklan politik tak terlalu berdampak besar pada perolehan total belanja iklan. 

Terlebih, ada kebijakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang hanya memperbolehkan iklan kampanye politik di media massa berlangsung selama tiga pekan sebelum masa tenang Pilpres dan Pemilihan Legislatif (Pileg).

"Pengiklan wait and see karena melihat situasi dan hasil pemilu setelah April [2019]," katanya.

Dia memperkirakan kontribusi belanja iklan politik pada tahun depan tidak berbeda jauh dibandingkan dengan  kontribusi iklan politik 2014 yang mencapai 2% dari total belanja iklan yang diperoleh kala itu.

Kendati demikian, lanjutnya, para pebisnis periklanan berharap momentum Pilpres dan Pileg mampu menaikkan belanja iklan yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami penurunan akibatnya banyak perusahaan yang memilih beriklan di media digital. 

"Iklan di media daring belum memiliki data yang resmi, sehingga kami tidak dapat melihat besaran nilai belanja iklan di media digital,"  ucap Maya. 

Sementara itu, Direktur Sigi Kaca Prawira Sapto Anggoro menuturkan, pada periode kampanye Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tahun ini, total belanja iklan politik di 13 stasiun TV nasional mencapai Rp29,02 miliar.

Perolehan ini menurun sebesar 32,68% bila dibandingkan dengan periode kampanye Pilkada Gubernur DKI Jakarta tahun lalu yang mencapai Rp43,10 miliar. Adapun, Kompas TV menjadi stasiun televisi yang paling besar pendapatannya dari iklan kampanye Pilkada 2018.

"Saya rasa, perolehan [industri periklanan] dari belanja iklan kampanye Pilpres 2019 ini tak banyak berubah dibandingkan dengan 2014. Untuk total belanja iklan televisi pada masa kampanye pilpres 2014 mencapai Rp186,63 miliar," tutur Sapto.

 

 

Iklan Politik Berdasarkan Jenis Media (Rp miliar)

---------------------------------------------------------------------------

Jenis Media    2014    2015    2016    2017    Semester I/2018

---------------------------------------------------------------------------

TV                   922      464      675      536      314

Koran              1.042   388      252      331      294

Majalah           1          N/A     N/A     1          N/A

Radio              1          N/A     7          2          1

---------------------------------------------------------------------------

 

Iklan Politik Berdasarkan Per Jenis Kampanye (Rp miliar)

---------------------------------------------------------------------------------------------

Kampanye                             2014    2015    2016    2017    Semester I/2018

---------------------------------------------------------------------------------------------

Capres & Cawapres                488      -           -           -           -

Calon legislatif                        87        -           -           -           -

Calon pemimpin daerah          40        237      49        168      285

Partai politik                            1.351   614      885      702      323

---------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber: Nielsen, 2018

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

belanja iklan
Editor : Wike Dita Herlinda

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top