Dale Carnige : Pemimpin Harus Kenali 'Titik Butanya'

Minimnya kesadaran atas perilaku diri sendiri dari para pemimpin berpotensi mempengaruhi kinerja karyawan dan berdampak pada kinerja perusahaan secara keseluruhan.
M. Richard | 10 Oktober 2018 14:24 WIB
Tenaga kerja asing - aniinstrument.com

Bisnis.com, JAKARTA -- Minimnya kesadaran atas perilaku diri sendiri dari para pemimpin berpotensi mempengaruhi kinerja karyawan dan berdampak pada kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Berdasarkan survei Dale Carnegei Indonesia, terdapat 4 perilaku ‘titik buta’ seorang pemimpin, yakni hanya 36% pemimpin yang melakukan apresiasi secara konsisten, hanya 37% yang mau mengakui kesalahan, hanya 36% pemimpin yang konsisten mendengar, dan hanya 32% karyawan yang merasa pemimpinnya selalu jujur.

"Kebanyakan pemimpin percaya bahwa mereka sudah cukup kompeten dalam memimpin perusahaan atau organisasinya, padahal terdapat beberapa perilaku yang tanpa disadari berdampak negatif," Joshua Siregar, Director National Marketing Dale Carnegie Indonesia, di Jakarta, Rabu (10/10/2018).

Joshua mengatakan dampak yang paling dapat terlihat adalah dari sisi kejujuran baik kepada diri sendiri dan orang lain. Pasalnya, pemimpin yang selalu jujur hanya 32% dan 11% yang tidak pernah jujur.

Kejujuran pemimpin akan berpengaruh pada tingkat kepuasan dan keinginan karyawan untuk bertahan. Perilaku tidak jujur akan berpengaruh negatif hingga 41 kali pada kepuasan pekerjaan kayawan, atau lebih tinggi dari angka dunia yang hanya 10 kali.

Selain itu, 64% karyawan Indonesia menyatakan akan mencari pekerjaan baru dalam kurun 1 tahun jika menemukan pemimpinnya tidak jujur. Angka tersebut cukup tinggi karena survei dunia mengatakan hanya 59% karyawan yang akan melakukan hal demikian.

"Tetapi kedua angka ini tinggi. Jadi kalau pemimpinnya plintat-plintut akan membuat karyawan mencari pekerjaan baru," katanya.

Terlebih, katanya, dengan kondisi karyawan perusahaan yang mulai didominasi oleh generasi milenial, seluruh kesenjangan dari pemimpin harus segara ditutup. Pasalnya, generasi milenial lebih inovatif, cenderung egaliter dan ingin memulai bisnis sendiri.

"Kalau terus berlangsung seperti ini, karyawan perusahaan akan menua dan tidak akan mendapat kontribusi dari generasi milenia yang justru lebih inovatif."

Sebagai informasi, Joshua mengatakan, dampak materil, ataupun perputarab karyawan secara lebih rinci tidak dapat diukur, karena berkaitan dengan rahasia perusahaan.

Tag : karier
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top